Senin, 21 Mei 2012

My Own Project - CerBung

Dear God... mengapa tantangan untuk novel perdana begitu berliku... #selftoyor

Dear temans... kali ini, saya mencoba menantang diri saya sendiri demi selesainya novel yang saya garap. Setelah dipastikan gagal dengan jalan 'tenggat waktu', kali ini saya mau coba cara lain, yaitu membuat cerita bersambung alias CerBung.

CerBung ini adalah sebenernya novel yang saya sedang garap. Dulu sempat rajin karena saya memiliki teman-teman kantor yang bersedia membaca bab per bab tiap hari Jumat. Jika saya tidak 'nyetor' bab ke mereka, saya akan traktir mereka makan sepuasnya.

Berhubung saya udah pindah kantor, tantangan tersebut pun luntur. mengingat sekarang saya bekerja di rumah alias homeworking alias virtual office, maka dipastikan saya tidak punya temen kantor yang bisa dimintai tolong.

Maka dari itu, saya mencoba minta bantuan dari temen-temen yang rajin main di blog saya untuk 'menyemangati' saya menyelesaikan cerita ini. Caranya? menjadikannya CerBung?

Wah, ga rugi tuh kalo udah selesai nanti novelnya malah gak ada yang mau beli novel saya karena udah baca di blog? hmm... ga perlu takut sih. karena, rencana saya, CerBung-nya dibikin gantung, seiring selesainya novel yang saya garap. Berarti, kalo pengen tau ending-nya, ya reader kudu beli buku saya. hihihi...

Well, dengan ini CerBung saya resmikan. dan akan diposting perbabnya setiap hari Senin :)

Here my baby, CerBung berjudul 'Present'. Comments are extremely needed. Enjoy... :)

Jumat, 18 Mei 2012

I Am Blessed


Gue bingung mau ngambil judul apa di #ngeblogramerame #9 ini, karena kali ini kami akan menjabarkan 10 hal yang kami syukuri ada di kehidupan kami.
Akhirnya gue putusin ambil judul ‘I am blessed’, explaining I feel blessed to have those 10 things in my life.
Berikut 10 hal yang membuat saya merasa diberkati dan bersyukur.
  1. Jesus Christ, my dear God and Savior. Sama sekali tidak menyinggung SARA disini, tapi gue ingin menunjukkan betapa gue bersyukur menjadi orang yang beragama dimana banyak orang memilih untuk tidak mempercayai apapun. Memegang teguh keyakinan gue terhadap agama gue dan percaya selalu kepada-Nya membuat gue memiliki kekuatan untuk menghadapi segala persoalan. Because I know, when the troubles come and hit me down, He is the only one who never let me to face them alone. Thank you, God.
    2.      Mom. Gue beruntung memiliki sosok seorang Mama yang tahan banting. Perceraian, bangkrut, penghinaan semua udah Mama hadapi, tapi tidak sekalipun gue lihat Mama nangis. Mama berani mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya demi anak-anaknya. Lucunya, ketika segalanya sudah menjadi baik, Mama malah doyan nangis, terutama kalo lagi kangen ama gue. Hihihi. Gue gak bakal bisa jadi sarjana kalo gak gara-gara tekad nyokap jungkir balik biayain anaknya. Thank you, Mom.
    3.      Lil sister. Fifian Oktaviani Simanjuntak, my beloved sister. Gue dan adek berbeda umur 5 tahun. Masih inget banget di kepala gue gimana cemburunya gue pas dia lahir ke dunia. Semua perhatian keluarga besar gue, termasuk ortu, lari ke dia, padahal gue udah terbiasa dimanja banget. Alhasil, dulu sempet gue suka bikin adek gue yang masih bayi, nangis. Tujuannya, biar Mama repot diemin adek. Hehehe.. Namun, ketika perasaan saling memiliki itu datang, terutama ketika perpisahan ortu gue, gue merasa bersyukur memiliki dia. Dia membuat gue tidak kesepian. Dia menjadi alasan gue untuk tidak menyerah dalam hidup, menjadi pribadi yang bisa menjadi panutan buat adek gue. That’s why, adek gue lebih deket sama gue dibanding ama ortu.
     
    4.     Dad & stepmom. Hubungan gue dengan bokap memang kurang ideal. Tapi, bagaimanapun, peran bokap besar dalam hidup gue. Kalo bukan karena beliau, gue ga bakal doyan sepakbola. Bokap yang dari kecil selalu ngajak gue nonton bola. Awalnya, mama nentang banget gue suka bola, tapi bokap dukung hobi gue habis-habisan, sehingga akhirnya mama ngalah. Hihihi… bokap lah orang yang sejak awal menyadari potensi gue dalam menulis dan selalu mendukung gue untuk terus menulis dan menjadi jurnalis, mengingat dia mantan wartawan salah satu tabloid olahraga terkenal di Indonesia. Mama selalu bilang, bokap adalah sosok ayah yang baik, namun buruk sebagai suami. Hwahahaha… well, it’s true. Sebelum bokap ketemu stepmom pastinya. Bokap banyak mengalami perubahan setelah nikah lagi. Stepmom berhasil merubah temperamen bokap, tunduk banget dah bokap, heran gue. Hihihi… sampai sekarang, hubungan gue dan stepmom baik-baik aja. Dia rajin nanya kabar gue. Orangnya sabar banget. Gue bersyukur dia bisa hadir dalam kehidupan bokap dan menerima bokap apa adanya. 
     5.    Indomanutd. Gak bakalan bosen gue merasa bersyukur telah mengenal keluarga besar Indomanutd. Banyak hal yang tanpa sadar mereka berikan kepada gue. Banyak banget, sampai bingung mau nulis apaan. Intinya, bagi yang mengenal sosok gue sekarang, ya itu semua salah satu faktornya karena Indomanutd. Dan besok, kami akan national gathering di Semarang!! Gak sabaaaar…. (ngetiknya udah kelewat heboh nih. Hihihi..)
    6.   Cousins. Gue deket dengan para sepupu gue, ada juga yang kaga sih. Well, let’s mention them. Kak Corry, Kak Dewi, Irma, dan Friska. Setiap orang punya permasalahannya sendiri-sendiri, begitu juga dengan kami. Namun, kami saling mendukung satu sama lain. Kalau gak ada mereka, mungkin gue bakalan semakin males ngumpul di acara keluarga besar. Hihihi…
     
    7.      Friendship. Gue selalu bilang, people come and go. Tapi gue merasa beruntung di era manapun, gue gak pernah kekurangan teman. Meski banyak yang bikin gue kecewa, namun ada aja teman-teman baru yang muncul dan lebih baik dari sebelumnya. 
      8.      Wild and unlimited imagination. Salah satu karya Tuhan yang baik banget diberikan kepada gue, yaitu talent dalam menulis. Kala gue menulis, imajinasi heboh menari di pikiran gue, even sometimes I can’t control it! Misal, lagi tidur-tiduran, kerja, nonton dan lain-lain, ada aja ide yang muncul dari imajinasi tersebut. Hanya sayang, belum tertampung aja, karena terkadang malesnya ini loh! Masih ngerjain satu persatu dulu. Hehehe…  
    9.     L. Sopo tuh ‘L’? Dia yang pernah (atau mungkin masih, Essy? :D) ada di hati gue. Itu bukan sebuah inisial namanya. Atau ‘L’ itu maksudnya ‘love’? bisa.. bisa. Tapi bukan itu alasannya. Let me explain, ada yang pernah nonton Deathnote? Atau baca manga-nya? Bagi yang belum tau, ‘L’ atau Light Yagami adalah tokoh utama dari cerita detektif tersebut. Kalau diceritain, bisa panjang nih. Googling aja yak? :D. Kenapa gue namain dia ‘L’? Karena secara fisik, dia mirip ‘L’, gak pake bungkuk tapi :D. Selain fisik, kecerdasan dan kemisteriusan ‘L’ juga mirip dia. Bisa dikatakan, dia adalah cinta pertama gue, karena gue gak pernah merasa sebegitu kehilangan dan susah ngelupain seseorang yang gue suka sebelumnya. Gue merasa beruntung pernah mencintai (dan mungkin dicintai) oleh L. Selain karena beberapa hal pribadi yang pernah dia berikan ke gue, dialah orang pertama yang menyadarkan gue kalo gue bisa mencintai seseorang. Di saat gue merasa tidak bisa jatuh cinta, dia datang. Di saat gue merasa begitu trauma sehingga yakin pintu hati ini tidak akan pernah dimasuki seseorang, ehh dia nyelonong masuk aja tanpa gue sadari. Meski sekarang dia sudah memiliki orang lain dan meninggalkan gue yang masih mengumpulkan serpihan hati yang berserak (halah :D), namun gue sangat bersyukur dia pernah ada dalam hidup gue. Thank you, L. 
     10.  Life. Orang yang tidak pernah berpikir atau sempat menyerah dalam hidup, mungkin tidak akan merasakan betapa berharganya kehidupan yang dia punya. I do. Gue bersyukur tidak jadi menyerah dan melanjutkan hidup. Karena justru berkat dan rasa syukur kesembilan hal yang sudah gue sebutkan itu dapat gue rasakan setelah gue menikmati hidup.

Jumat, 11 Mei 2012

Partner In Crime

 Jakarta, pertengahan tahun 2009. Masih pedekate :P


Sahabat. Best friend. Buddy. Belahan Jiwa. Soulmate. Partner in crime…
Terserah sebutannya apa. Yang penting intinya, tema #ngeblogramerame #8 didedikasikan untuk para sahabat kami.
Bagi gue, menemukan sahabat dan jodoh itu sama susahnya. Lika-liku persahabatan juga gak kalah ribet dengan lika-liku percintaan.
Dan, sama seperti kisah cinta, kisah persahabatan gue juga sering gagal… (ini sekalian curhat tentang cinta. Hihihi..)
Seperti cerita-cerita gue sebelumnya, sudah banyak banget orang yang gue sebut sahabat. Sampai gue bingung, apakah gue gak ngerti arti persahabatan? Atau gue terlalu cepat memberi label ‘sahabat’ kepada orang-orang tersebut?
Gue sempet benar-benar dikecewain sama mereka yang pernah gue anggep sahabat. No need to mention their names. Tapi yah cukup tahu saja dan memberi gue pelajaran untuk membedakan mana yang benar-benar tulus atau mana yang hanya ingin menguntungkan dirinya sendiri dengan bersahabat dengan gue.
Pas awal kuliah di Medan, tahun 2007 lalu, gue sempet males untuk mencari teman dekat lagi. Capek bok dikecewain.
Lalu, dia datang.
Namanya Angel. Awal perkenalan kami tuh cukup unik, karena IndoManUtd juga. Saat itu gue masih sebagai korlap @indomanutd_mdn. Salah satu sesepuh @indomanutd, bang @7abrik, ngasih nomor hp gue ke Angel karena dia pengen gabung nonbar bersama IndoManUtd Medan. Singkatnya, di akhir April atau awal Mei 2009 (gue lupa tepatnya :D), telepon lah si Angel, pengen nonbar. Gue lupa kapan harinya, tapi jadwal nonton bolanya cukup awal, masih sore menjelang malam gitu. Itulah pertama kalinya kami ketemu.
Kami janjian nonbar lagi saat final Liga Champions antara Manchester United melawan Barcelona, tanggal 28 Mei 2009. Kenapa gue inget? Karena itu pas ultah gue, jelas gue inget. Hihihi..
Acara nonbar diadakan di sebuah hotel cukup ternama di Medan, dimulai jam 02.30. Tapi, berhubung kost gue punya jam ‘cinderella’, alias tutup jam 11 malem, alhasil gue harus keluar kost sebelum jam segitu. Beruntung, Angel mau jemput gue, dianter supirnya. Padahal masih tiga jam lebih menjelang laga!
Dan, disitu pulak gue baru tau sebenernya dia ngefans klub apa. Barcelona! Karena dia datang dengan kaos desain final-nya Barca. Dalem hati gue mikir, nekad juga nih cewe. Kan dia bakalan duduk di tengah-tengah fans MU!
Whatever it was. Kami udah ngerencanain sebelumnya mau ngapain aja sebelum nonbar. Kami pun makan malam di warung tenda seberang venue nonbar. Disitu kami ngobrol ngalor ngidul. Sekitar jam setengah satu pagi, kami masuk ke hotel, mampir ke toilet. Eh, doi ngucapin selamat ultah, orang pertama gitu. Hehehe…

Hmm.. lupa kapan pastinya :D yang jelas lagi nonbar IndoManUtd Medan

Singkat cerita, mulai saat itu kami jadi deket banget. Gak tau kenapa, gue melihat diri gue di dalam diri dia. Kami sama-sama orang yang cerewet, berpikiran kritis, dan keras kepala. Ehh, dia lebih keras kepala sih. Hwahahaha…
Fisik kami juga mirip. Tinggi kami sama, bentuk tubuh nyaris mirip. Bahkan, sebelum rambut gue pendek kayak sekarang ini, rambut kami panjangnya sama dan berponi! Sampai-sampai, gue bisa ngibulin petugas bandara!
Ceritanya begini. Maret tahun 2011 kemarin, gue dan Angel pergi ke Bandung. Kami udah pesan tiket pesawat jauh-jauh hari, tepatnya dia yang mesen karena dia emang doyan banget hunting tiket murah. Ternyata, sehari menjelang keberangkatan, tiket gue gak kebayar pake kartu kredit dia. Miskomunikasi gitu. Walhasil, gue make tiket dia, sementara dia beli tiket lagi. Pesawat kami pun berbeda. Dia terpaksa transit ke Jakarta dulu dengan penerbangan satu jam lebih awal dari penerbangan gue.
Nah, kocaknya, petugas bandara bisa terkecoh gitu. Sengaja rambut gue miripin sama foto di KTP dia. Poni gue yang sebenernya poni pinggir, gue jadiin ke depan semua, sesuai dengan poni dia. Teruuusss… mata gue sipit-sipitin gitu selama pemeriksaan :D
Loloslah gue. Hwahahahaaa….
Sekarang, meski gue udah di Jakarta, hubungan kami gak putus begitu aja. Layaknya orang pacaran, kami ber-long distance relationship ria :D
di Paris Van Java, Bandung, Maret 2011
 
Orang bilang, sahabat yang baik itu sahabat yang bukan hanya menerima baik dan buruknya diri kita, tapi juga membawa perubahan yang baik dalam pribadi kita. Dan gue merasakan seperti itu sejak bersahabat dengan Angel.
Angel bukan sekedar tempat curhat gue sebagaimana dia menjadikan gue tempat curhatnya. Siapa-siapa aja pria yang pernah dekatin gue atau yang gue cinta, dia tau semua. Dan Angel itu iseng tingkat dewa. Pernah, waktu gue lagi deket-deketnya sama cowo yang gue namain Harris (yang belum tau, cek aja postingan gue sebelumnya. Hehehe), Angel suka banget godain Harris tentang gue, atau godain gue tentang Harris. Malah pernah berkali-kali, dia sengaja ‘mempertemukan’ kami di statusnya.
Ehh.. tapi ini biasa ya, kalo sahabat tau tentang kisah cinta sahabatnya. Well, yang luar biasa dari dia, dan sebelumnya tidak ada orang yang tau. Gue sempet mengalami krisis kepercayaan kepada Tuhan. Gue sempet capek berdoa dan berharap kepada Tuhan karena seolah-olah Tuhan tidak mendengar karena doa gue gak pernah terkabul. Gue sempet hanya merasa gereja adalah sekedar kewajiban setiap minggunya, tanpa ada perasaan kerinduan untuk datang kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Angel tau dan menyadari itu, karena memang gue udah cerita seluruh kisah hidup gue sama dia. Yah, sengaja cerita untuk seperti tes apa dia bersungguh-sungguh menerima gue apa adanya dan tidak meninggalkan gue. Ternyata, dia benar-benar tulus.
Suatu saat, dia mulai ngajakkin gue gereja bareng dia. Sekian lama gue ngeles, tapi akhirnya entah bagaimana, gue ikut ke gereja dia. Sampai akhirnya, di saat sudah beberapa kali gereja bareng, khotbah pendeta ngena banget. Menangislah gue sambil berlutut, cukup lama. Angel diem aja. Setelah pulang gereja, dia baru ngomong, “Baru pertama kali, gue ngeliat lo nangis segitunya.”
Kerinduan gue kepada Tuhan akhirnya muncul lagi. Kami semakin sering gereja bareng. Dia memperkenalkan gue ke orang-orang rohaniawan untuk semakin menumbuhkan rasa cinta gue sama Tuhan. Thank you, Lord, for sending me an angel named Angel.. :’)
Dia membawa perubahan dalam kehidupan gue, dan Puji Tuhan, dia juga merasa gue memberikan banyak pelajaran buat hidupnya.
Dia selalu mendukung segala keputusan gue, menyemangati. Wah, banyak banget. Gue inget bagaimana dia selalu berusaha nemenin gue nonbar tengah malem. Sekarang? Malah gak pernah nonbar lagi semenjak gue di Jakarta. Hihihi..
Akhir tahun ini, dia bakalan married. Mengingat curhatannya dulu tentang crush-nya dan tentang sang calon, gue turut senang dengan kebahagiaan yang akan dia temui sebentar lagi. Dan, betapa terhormatnya gue, karena dia meminta gue untuk jadi bride’s maid-nya.
Yang gue harapkan sekarang, persahabatan kami bisa sama seperti pernikahan, sampai maut memisahkan. Thank you, Angel. For always being there when I need someone… :’)

Jumat, 04 Mei 2012

Ketika Aku Masih Imut-Imut


BREAKING NEWS!! Beberapa orang di tempat yang berbeda, mengalami muntah yang hebat di tepat di depan komputer, laptop, blackberry, iPad, Android, dan lainnya setelah membaca judul di atas.
Hihihihi…
Selamat datang kembali ke #ngeblogramerame #7. Temanya kali ini adalah kenangan masa sekolah. So, jangan complain dengan judul itu, wong emang dulu gue imut kok :p
Gue bingung mau nyeritain yang mana, kenangannya banyak sih. Bakalan panjang banget dah nih.
Oke, mau certain sekilas pas gue masih TK. Karena mulai masa itulah gue pernah candu akan satu hal: disayangin guru. Hihihi…
Sejak TK, secara akademik gue pinter. Sombongnya, yang namanya 5 besar buat gue itu sama kayak orang lagi ngupil. Gampang. Perumpamaannya gak enak banget ya? :p
Karena gue pinter, jadi guru-guru suka tutup mata sama tingkah gue. Kagak kok, gue gak bandel. Atau belum bandel. Cuma pas TK, gue sering terlambat sekolah karena: gak bisa ngancingin seragam!
Mama dulu tuh keukeuh banget nyuruh gue make baju sendiri. Walau gue udah ngeluarin senjata pamungkas, seperti ngambek dan nangis, tetep nyuruh gue belajar. Kalo udah hampir telat dan belom kelar juga ngancingin baju, baru deh pembantu gue beraksi. I was a spoiled rich lil girl. Harap maklum. Hehehe..
Sambil jalan aja ya certain tentang ‘disayang guru’ ini. Karena ada hal lain yang selalu ada selama gue sekolah: sahabat cowok.
Di TK gue, namanya TK Burung Pipit, gue sempet punya temen namanya Michael. Yang unik dari dia, rambutnya ada buntut gitu kayak Michael Jackson. Gue rasa ortunya ngefans berat ama Jacko. Gue lupa apa yang membuat gue deket sama dia. Yang jelas, satu-satunya temen TK yang namanya gue inget cuma dia.
Pas SD, gue tiga kali pindah sekolah. SD pertama gue di SD St. Bellarminus Bekasi. Saat itu, gue punya sahabat sekaligus tetangga. Namanya ampe sekarang masih inget: Alexander Andrew Mailoor. Dia partner in crime gue abis. Tiap pulang sekolah, gue pasti main ke rumah dia, main SEGA. Game favorit kami Street Fighter. Dia jago banget mainnya, ampe pelit banget ngasih gue kode di stick buat ngeluarin ilmu-ilmu. Hihihhi.. Kami juga sering berantem. Berantemnya itu alasan sederhana banget: cari perhatian guru. Kalau salah satu dari kami udah dipuji guru dan yang lainnya enggak, udah deh perang mulut atau diem-dieman. Bayangin aja, setiap hari gue berangkat bareng dia ke sekolah dianterin supir dia, terus situasinya kami lagi berantem. Seru dah :D
Di Bellarminus, karena prestasi gue, pas kelas dua gue dapet beasiswa setahun. Sayangnya, di kelas tiga gue gak dapet ranking. Tepat pulak keluarga gue bangkrut. Walhasil, gue pun pindah ke sekolah negeri.
Kenapa mendadak kangen Andrew begini?
SD kedua gue, SDN 18 Duren Sawit Jakarta Timur. Gak banyak kenangan yang gue inget, selain gue dapet ranking 1 (lagi), karena gue hanya setahun disana. Bokap dapat bisnis di Medan, mau gak mau gue ikutan pindah.
Di SD ketiga gue, pas awal kelas 4, gue mengalami culture shock. Bandel-bandel banget disini, SDN 73. Tapi, akhirnya gue cepet dapat temen dan cepet disayang guru karena, sekali lagi, gue pinter. Dan mungkin karena zaman gue anak-anaknya cepet akil baliq, pemegang ranking satu sebelumnya, namanya Reza, naksir gue. Dia nembak. Pacaran deh gue. Hwahahahaha…
Tapi pacarannya cuma seminggu doank. Doi kecil-kecil playboy cuy. Hwahahaha…
Gak sih, lebih tepatnya lebih enak sahabatan. Selain Reza, gue sahabatan sama Ichsan dan Dicky. Dua nama ini preman abis, doyan berantem, terutama Dicky. Kalau ada anak sekolah lain yang ganggu gue, tinggal ngadu sama Dicky, diajak berantem deh. Hihihi…
Di SD ini tingkat menjadi anak kesayangan guru parah habis, bahkan kepala sekolah ikut-ikutan karena gue sering bawa nama harum sekolah, misalnya juara cerdas cermat. Tingkat kecil-kecilan aja kok. Hehehe…
Ada satu guru lagi, namanya Pak Rajagukguk. Dia guru olahraga dan sayang banget sama gue. Karena di bidang ini gue sering diikutin lomba, terutama renang dan senam. Bapak ini pernah coba-coba ngikutin gue ke lomba atletik dan langsung kalah. Abis itu, doi kapok ngikutsertain gue di atletik. Hihihi… Tapi di dua cabang olahraga lain, enggak. Di otak gue masih terpatri senyuman dia tiap ada guru-guru sekolah lain yang Tanya dan puji gue.
Apa kabar Pak Rajagukguk? J
Tingkat rasa sayang guru emang kelewatan banget. Pernah, suatu kali ada demo besar-besaran supir angkot selama 3 hari di Medan. Gue adalah satu-satunya murid yang tinggal paling jauh. Mengingat rencana demo sudah diberitakan sebelumnya, gue udah ancang-ancang ke sekolah jalan kaki. Masuk jam setengah delapan, gue berangkat jam 6 kalo gak salah. Itupun masih terlambat. Ada beberapa anak yang datangnya terlambat juga, tapi rumah mereka deket. Pas kepala sekolah tau gue terlambat, gue langsung disuruh masuk kelas. Yang lain? Dihukum. Hehehe…
Di hari yang sama, sebelum jam pulang sekolah, kelas gue (saat itu gue udah kelas 6), dihukum guru karena berisik banget. Kami dihukum telat pulang setengah jam. Selama dihukum, gak boleh keluarin suara sedikitpun. Tiba-tiba, Pak Rajagukguk datang ke kelas gue, bilang ke wali kelas kalo gue disuruh pulang bareng dia mengingat angkot kaga ada. Sekelas pada protes.
Ada lagi contoh lain. Pas kelas 5, wali kelas gue bikin daftar piket kelas. Nama gue gak tercantum. Pas dikomplain ama temen-temen, katanya gue gak usah piket.
Sumpah, gak adil banget. Tapi enjoy :p
Gue sempet ‘kehilangan’ disayangin guru pas SMP kelas 1. Gue sekolah di SMP Markus dan langsung dapat kelas orang-orang pinter. Guru-guru berharap lebih sama kami, gak ada yang dispesialin. Tapi, seiring berjalannya waktu, guru matematika menaruh perhatian lebih sama gue karena gue pinter disitu. Sebenernya bukan gue yang pinter, bapaknya emang jago ngajar. Di akhir caturwulan pertama, gue dinobatkan sebagai peringkat tertinggi dari 3 kelas. Gue dapat beasiswa. Tapi, sayang gak diambil karena keluarga gue balik lagi Jakarta.
Di sekolah baru, SMP Budaya, dengan cepat gue kembali disayang guru :D disini juga gue untuk pertama kalinya mengerti arti persahabatan. Disini gue mengenal gank-gank ga penting yang isinya cewe cantik nan pinter. Gue sempet diajak gabung, tapi gue nolak.
Kembali, gue deket sama para cowok, padahal cowok-cowok disini bengalnya ampun deh. Ada dua sahabat gue saat itu, Gafur dan Deden. Yang pertama bandel preman, yang satu baik banget. Keterikatan antara kami: pencinta klub Italia. Gafur fans Milan (dan Madrid), Deden fan AS Roma. Saya? Juventus donk ahh…
Pas di kelas 1 caturwulan kedua, Gafur itu sosok paling menyebalkan semuka bumi. Demen nyari berantem, godain cewe, wah bandel banget. Gue males banget liat dia pokoknya, sementara gue udah temenan sama Deden.
Masuk ke kelas dua, gue sebel harus sekelas lagi sama Gafur, tapi untung ada Deden. Tapi, lucunya, di kelas dua itulah gue sama Gafur deket. Berawal dari gue sama Deden main tebak-tebakan nama klub bola dari huruf A sampai Z. Eh, si Gafur denger. Dia nimbrung. Sejak itu tak terpisahkan, ada aja yang diomongin, terutama bola. Gafur pun berubah. Nakalnya berkurang, tapi tetep genit sama cewek. Hanya gue yang gak dibandelin dan dijaga.
Pas kelas 3, gue denger dari sahabat gue sampai sekarang, Melly, kalo dua-duanya suka sama gue, tapi milih jadi sahabat gue aja karena prinsip gue yang udah mereka tau: pantang pacaran ama sahabat.
Padahal, mereka sampai saat ini gak tau aja, gue pas kelas 3 naksir ama si Gafur. Hwahahaha… woy, Gafur. Gue pernah naksir ama elu. Naksir doank ya, ga pake suka apalagi cinta :p *selftoyor*
Well, gue sayang sama mereka, karena memang mereka baik banget, dengan ciri khas mereka masing-masing dalam ngasih perhatian sama gue. Misal, Deden. Tiap hari bisa nelpon gue. Dan paling cepet setengah jam!
Tepatnya seperti ini, sama Deden gue bisa manja, sama Gafur gue bisa bandel iseng gitu.
Ini udah kepanjangan kayaknya, tapi masih banyak euy. Hehehe…
Suatu kali, ada anak baru di kelas 3, namanya Vivin. Secara kilat, gue deket sama dia. Dan secara kilat juga, dia suka sama Gafur. Dia tau, bahwa satu-satunya cewek yang deket ama Gafur adalah gue.
Suatu waktu, pas gue lagi ngapus papan tulis, datanglah Vivin. Dia mohon sama gue, supaya gue jauhin Gafur karena dia pengen nembak sohib gue itu. Dalam hati, yee siape elu. Masih anak baru juga. Tapi, akhirnya gue iyain aja. Cara gue jauhin Gafur, gampang. Pancing dia marah. Selesai. Gue disuruh guru fisika untuk nulis beberapa bahasan di papan tulis. Gue sengaja nulis cepet, terus gue hapus. Terus-terusan kayak gitu, karena si Gafur emang males nulis. Pas banget, dia marah. Dari tempat duduknya, dia ngelempar pulpen ke papan tulis pas guru lagi gak ada. Yang dia gak tau, gue nulis sambil nangis. Karena saat itu gue sadar akan kehilangan sohib.
Mulai dari situ, dia diemin gue. Besoknya, dia jadian ama Vivin. Bukannya gue yang sebel, tapi malah Melly karena Melly lihat dan tau sendiri apa yang Vivin minta ke gue. Melly sempet pengen bilang yang sebenernya ke Gafur, tapi gue jawab: Biarin aja. Selama sebulan, dia gak mau ngomong sama gue. Sampai akhirnya, dia ngeliat gue nangis sama temen sebangku, Dinda, karena lagi kangen nyokap.  Dua hari berturut-turut gue mimpiin nyokap. Temen-temen sekelas memang pada tau ortu gue cerai karena di hari perceraian itu, gue nangis sejadi-jadinya di pojokkan kelas dan sekelas kompakan kasih alesan ke guru kalau gue sakit. Mereka juga tau gue tinggal ama bokap.
Siangnya, pas pulang sekolah, Gafur nyamperin gue, nganterin gue pulang.
Gak berapa lama, dia ama Vivin putus. Gak tau alasannya kenapa. Nah, lupa kapan pastinya, si Melly certain dah kisah itu. Langsung, Gafur datang ke meja gue. Pembicaraannya masih gue inget ampe sekarang.
Gafur   : Heh! Siapa suruh lo ngelakuin kayak gitu?
Gue     : Apaan? (masih ga ngeh)
Gafur   : Si Vivin. Ngapain juga lo pake mau segala?
Gue     : (mengkerut di tempat, lagi galak sih) Oh itu. Ya udah, kan udah lewat juga.
Gafur   : Inget ya. Sekali lagi lo ngelakuin kayak gini, awas lo! Gue lebih baik gak punya pacar daripada kehilangan lo…
Gue     : ………
Lagi mikir… hidup gue kayak sinetron begini..
Well, sampai sekarang gue masih berhubungan sesekali sama Deden. Tapi Gafur gak. Dan lucunya, gak ada satupun temen SMP gue yang tau dia dimana sekarang.
People come and go…
Masuk ke SMA, gue banyak belajar hal. Perubahan banyak terjadi, seiring perubahan yang terjadi keluarga. Gue bukan lagi si ranking 1, lebih menjadi kuda hitam. Untuk pertama kalinya, gue beberapa kali diomelin sampai dihukum guru. Untuk pertama kalinya gue ngerasain dijauhin temen-temen.
Untuk pertama kalinya, gue bisa melihat mana pertemanan yang tulus mana yang enggak.
Untuk pertama kalinya menyadari hidup itu bukan terima enaknya saja, tapi juga butuh perjuangan.
Dan, saya bangga menjadi bagian SMAN 103…
Tulisan ini saya dedikasikan kepada semua orang yang saya kenal dalam rentang waktu tersebut. Untuk para guru, teman-teman, semuanya… terima kasih banyak…

Jumat, 27 April 2012

My First Job


Salam hari Jumat! Salam hari #ngeblogramerame ! :D Gak menyangka udah postingan yang ke-6 yang berarti sudah 6 minggu project ini berjalan. Udah bisa dijadiin buku gak nih, temans? Hihihi…
Temanya tentang first job, atau bahasa kerennya pekerjaan pertama. Segala hal yang berhubungan dengan ‘pertama’ pasti memorable. Misalnya, cinta pertama, malam pertama, pacar pertama, ciuman pertama….
Aiiihhh… fokuuuussss…. =))))
Banyak orang, apalagi yang berstatus fresh graduate, menganggap pekerjaan pertama adalah mencari pengalaman. Yang penting kerja dulu. Hanya segelintir orang yang langsung bekerja sesuai impiannya di first job mereka. Ahh.. beruntungnya. Beruntung karena masih banyak orang-orang disana yang bekerja tidak sesuai dengan impian. Atau tipe lain, mereka masih mencari desire mereka meski sudah bekerja berkali-kali.
Saya masuk ke kategori pertama. Pekerjaan pertama saya bukan impian saya dan memang sengaja untuk sekedar mencari pengalaman. Posisi pertama saya sebagai marketing di sebuah perusahaan media iklan lowongan kerja internet yang cukup ternama. Buat yang belum tau kantor lama saya, tebak-tebak aja ya? Ada berapa perusahaan yang jenis ini sih di Indonesia? Hihihi…
Awalnya saya melamar itu dapat info dari teman Indomanutd, si Buzz Fidel @fideliskrisna, yang saat itu juga berstatus karyawan perusahaan tersebut. Memang katanya butuh banyak banget menginga expansi yang sedang dilakukan. Saya yang sebulan lebih berstatus pengangguran dan masih keukeuh ngejar impian sebagai jurnalis olahraga, saat itu sedang hopeless untuk ngejar impian saya. Akhirnya, saya melamar. Yah hitung-hitung sebagai batu loncatan. Dan mana tahu malah dapat pekerjaan sebagai jurnalis malah lebih mudah. Kan kantornya tentang lowongan kerja. Ya bisa donk ngajuin diri dulu ke si client? Hihihi..
Just kidding…
Proses penerimaannya sangat cepat. Intinya sekitar dua minggu kemudian saya diterima. Tanggal 11 juli 2011, resmilah saya menjadi karyawati.
Pekerjaannya sebenernya gampang. Di kantor, posisi saya sebagai New Sales Executive (NSE). Jadi sebagai marketing, saya mencari client baru, yaitu perusahaan-perusahaan yang sama sekali belum pernah pasang iklan lowongan kerja di perusahaan kami. Data perusahaan tersebut sudah ada, jadi para NSE cukup menelepon saja! Ya, sesekali jika ada client yang minta dipresentasikan, saya akan datang ke kantor mereka. Mudah kan? Yang namanya marketing, yang penting keahlian berbicaranya alias keahlian menggombal. Hihihi…
Tapi ternyata, susah juga. Alasan pertama, karena data-data perusahaan yang harus dihubngi itu ternyata kebanyakan perusahaan yang udah sering dihubungi oleh marketing-marketing lain. Walhasil, banyak yang hiding alias menghindar. Tidak jarang juga saya langsung ditolak mentah-mentah atau bahkan diomelin karena client merasa terganggu dihubungin terus. Berhubung saya orangnya sensitive, langsung sedih kalau diomelin orang, jadi sempet beberapa kali pengen resign aja :D. alasan kedua, jelas target perusahaan. Namanya juga marketing, pasti punya target yang dibebankan. Targetnya ada dua, pertama kuantiti client alias total jumlah client. Yang kedua, value, yang berarti total rupiahnya. Semua target itu dihitung perbulan.
Di awal-awal saya kerja, target yang saya capai masih kecil, belum nyampe setengah dari yang dibebankan perusahaan. Gimana mau achieve, skill ngegombal aja saya belum fasih walau product knowledge sudah di luar kepala. Saya bener-bener takut nelponin, takut diomelin. Padahal target menelepon juga ada, 50 client perhari! Walau gitu, saya gak pernah capai 50. Hehehe..Saya selalu cek history call di sistem. Kalau belum pernah dihubungi, saya telponin deh :D
Karena tidak ada perkembangan berarti dalam mencapai target, saya gunain skill lain yang memang saya sadari saya punya, yaitu menulis. Pertama, saya mencari email-email perusahaan di koran atau competitor. Lalu, mulailah saya menulis proposal, memberitaukan tentang product perusahaan ke mereka dengan bahasa saya, tidak formal namun juga tidak memakai bahasa gaul. Proposal tersebut kemudian saya kirimkan ke ratusan email yang berbeda tiap harinya.
Cara saya berhasil. Jumlah client dan value saya meningkat. Pencapaian saya perbulannya bisa lebih dari 70 persen, malah pernah nyaris 100 persen. Memang, jumlah call saya jadi berkurang, tapi bos saya malah bilang masa bodoh. Yang penting penjualan tinggi. Hahahaha…
Temen-temen saya yang lain bukan tidak mengirimkan email, tapi malah gak ‘nyangkut’ sama si penerima email. Setelah dievaluasi, bos saya menilai kata-kata di proposal saya lebih menarik daripada temen-temen. Akhirnya, temen-temen satu tim ikutan gaya bahasa saya atau saya disuruh mengecek gaya bahasa proposal mereka. Bagi-bagi ilmu.
Saya tidak menyesal pernah bekerja disana, karena saya banyak menemukan orang-orang baru lagi, belajar karakter-karakter dari client saya. Bagaimana menghadapi orang yang dominan, tegas, pendiam, monoton, cerewet, dan sebagainya. Wah, menyenangkan banget. Lumayan menambah imajinasi saya di karakter-karakter novel yang saya garap.
Saya juga nambah temen. Banyak client saya yang masih bbman sampai sekarang. Tidak sering juga heboh ngajak saya jalan, karaokean, ketemuan deh, padahal saya tau mereka orang sibuk. Posisi mereka di kantor kan HRD dan banyak juga owner-nya langsung. Tapi, tetep aja heboh ngajak ketemuan :D
Hal seru lainnya, ditawarin kerja! Sangat sering saya ditawarin kerjaan sama mereka. Malah ada yang ngotot jadiin saya asistennya, yang berarti saya harus kerja dan tinggal di Singapore karena kantor pusatnya disana. Bukannya gak mau, tapi biaya hidup disana kan mahal. Hehehe…
Sekarang saya sudah resign, dengan beberapa alasan pastinya. Sedih sih, karena saya meninggalkan temen-temen. Banyak client yang juga sedih saya resign karena udah nyaman dengan saya. Eh, ujung-ujungnya ditawarin kerja :D
Tapi, saya tidak menyesal. Karena pekerjaan baru saya sekarang adalah impian saya, and my desire. Thank God… J