Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2012

Surat Fungsional Aku Untukmu


             Dear Kamu,
            Kali ini aku sengaja “f5” otak dan hatiku tentang kamu. Jangan GR ya, aku cuma ingin membersihkan debu-debu di halaman blog-ku yang sudah lama tidak dikunjungi :)
            Apa kabar kamu, setelah “ctrl + h” aku dari hatimu dengan dirinya sebagai “ctrl + n” di hidupmu? Apakah kamu bahagia sekarang? Atau kamu malah sering “ctrl + z” ke masa ketika hanya aku yang membuat jantungmu berdebar?
            You know what, aku masih suka “ctrl + g” ke lembar pertama kisah kita, awal kita ketemu, saling mengenal, sampai ke lembar favoritku; ketika kita jatuh cinta satu sama lain.
            Iya, kamu benar. Aku masih berkutat untuk lepas darimu seutuhnya. Susah, karena memori itu “ctrl + s” dalam relung jiwaku. Ketika aku “ctrl + a” seluruh memori kita, hatiku tidak sanggup “d” itu.
            Tapi, aku bukan Adele. Aku tidak mau “ctrl + f” seseorang yang sama denganmu, karena aku tidak mau dia menjadi bayanganmu. Jadi jangan salahkan aku masih suka “ctrl + o” album memori kita. Tapi tenang, aku sama sekali tidak berniat untuk “ctrl + c” kemudian “ctrl + v” memori itu kok. Aku hanya butuh waktu dan doamu untuk mendapatkan kebahagiaanku.
            Suatu hari nanti, bukan kamu lagi yang menjadi “ctrl + e” di hatiku, kamu pasti sudah mempertimbangkan itu sebelum memilihnya. Dan saat lelaki itu datang, itulah saat dimana aku siap “ctrl + w” dari memori dan kamu. Sampai selamanya….

Jumat, 27 Januari 2012

The Girl Who’s Moving On


*Backsound: Adele – Someone Like You
Helooooowwww semuaaaaa… Apa kabaaaarrrr?? Yang disana apa tetap semangaaatttt?? :D
Betapa gue merindukan nulis, tapi apa daya, sibuk luar biasa. Ya, Puji Tuhan, udah 2 minggu ini posisi gue di kantor naik, dipercayain untuk jadi Team Leader. Emang sih masih probation, tapi cukuplah bikin gue migrain tiap hari.
Bahkan melupakan bahwa “obat” gue adalah nulis. Untung sekarang keinget :D
Emmm… ada yang ngerasa post gue berkurang? :D hehehe… gue terpaksa ngapus, karena, eh karena… (yang kepo tanya langsung deh ama gue :D)
Well, mulai aja deh. Berhubung backsound gue lagunya si Adele, pasti udah banyak yang nebak ye. Iye iye, gue baru-baru aja ngerasain perasaan si Adele ini, hati pecah berkeping-keping bagaikan serpihan guci yang pecah (halah, ribet!). Si dia sukses move on, finally found another girl whom he wants to love (for the rest of his life, probably). Gue tau ini pas masih di kantor. Awalnya ngerasa lega (karena ga perlu lagi merasa digantungin terus), kemudian gue ngomong ke temen kantor gue tentang hal itu, sok tegar, eh tapi nangis juga :D Malah nyampe kos gue ‘karaokean’ lagu si Adele ini.
I heard that you settled down
That you found a girl
And you’re DATING now….
(krik… krik.. krik…)
Hey, L. Thanks for this 2-years-almost-love relationship… J .
Nangisnya gue di kantor itu sih ga terhitung parah, cuma beberapa menit. Yang lebih parah pas gue menyadari si L gave up struggling for our love di pertengahan 2011 kemaren. Konyol, gue nangis 4 hari berturut-turut…
Oke, pembenaran gue adalah I used to think that he’s my Mr. Right. Gue pikir L-lah pasangan hidup gue. Gue menghiraukan betapa banyaknya perbedaan di antara kami, tapi L tidak. Too much to be considered. Sehingga setelah 2 tahun, dia memilih untuk menyerah.
Gue ga mau nyalahin dia, karena memang gue yang salah karena terlalu cepat berpikir L si Mister Bener.
Walau gue suka banget sama lirik lagu Someone Like You ini, tapi gue ignored lirik: “Never mind, I’ll find someone like you” dan “Don’t forget me, I beg”. Iya sih, gue pasti bakalan nyari laki yang sebaik dan perhatian kayak dia (better, I hope), tapi ga seperti dia yang ga mau berjuang bersama gue. Dan lirik berikutnya, oh c’mon, ga lucu aja L dating another woman, but still thinking of me? Selingkuh donk namanya, amit-amit dah. Just wish the best for him and his girl.
Sambil ngetik tulisan ini, gue nyengir sendiri. Ga percaya bahwa sosok tomboy kayak gue ini, bisa juga nangis gara-gara cinta. Temen-temen yang tau gue juga ga ada yang percaya :D
Gue yakin, banyak dari kalian yang pernah atau mungkin saat ini sedang ngerasain hal yang sama kayak gue atau bahkan lebih parah. Contohnya, sahabat gue satu kampus. Dia pacaran udah 3 tahun, cinta berat ama si cowo, kemudian putus. Sayangnya sampai sekarang masih cinta sama ex-nya, padahal udah hampir setahun. Jadilah, pas kami bbm-an, beberapa hari setelah mengetahui si L punya pacar, itu  menjadi “ajang” curhat 2 sahabat galau maksimal.
Tapi, ada pada saatnya, setiap orang yang punya masalah apapun, termasuk masalah cinta, akan merasa: sudah saatnya mencari jalan keluar. Dan gue pun akhirnya merasakan itu ketika tadi pagi ngecek recent updates status BBM, dimana 3 orang temen gue yang ga saling mengenal, berjejer kompakan ganti display picture-nya dengan pasangan masing-masing. Bahagia banget pose-nya. Tiba-tiba terlintas di otak gue si L, membayangkan jika foto tersebut adalah L dan pacarnya. Bahagia. L sudah mendapat kebahagiannya. Terus, gue mau terus-terusan galau gara-gara dia?
Saat itu gue mulai tersadar saatnya gue menemukan kebahagiaan gue sendiri. Gue berhak untuk mendapatkan seseorang bersedia menjadi seseorang seperti di lirik Glory of Love by Chicago.
Tonight it's very clear, as we're both lying here,
there's so many things I want to say
I will always love you, I will never leave you alone….
I am the man who would fight for your honor
I’ll be the hero you’re dreaming of
We’ll live forever, knowing together
That we did it all for the glory of love
Gue berhak dapat & cintai laki model ginih kan? J
Jadi, sudahkah memutuskan untuk move on, Hai Galau-ers? :D
Well, post ini gue dedikasikan untuk diri gue sendiri, demi membuang segala rasa yang masih tersisa buat L. Semuanya, tanpa tersisa. Tapi ingin mempunyai bukti bahwa ternyata gue bisa mencintai seseorang dengan tulus dan yakin suatu saat gue mampu mencintai seseorang lagi, my future husband. Post ini buktinya.
Thanks, L. It’s the right time to let you go. I’m moving on….

Minggu, 25 Desember 2011

Rindu akan Kasih


Ho Ho Ho… Merry Christmas! Selamat Natal untuk kalian yang merayakan.. *hugs*
Udah lama ye gue kaga nge-blog lagi. Ada yang kangen gak? *berasaartisbanget*
Puji Tuhan, berhari-hari yang lalu gue kebanjiran client. Maklum, akhir tahun, jadi banyak order dari client yang bikin gue kewalahan sendiri. Bahkan pulang kantor, mandi langsung molor aje saking capeknya. Namanya juga rezeki, masa ditolak? :D
Berhubung lagi Natal, gue pengen CurWis tentang Natal tahun ini, yang beda banget tanpa bisa kumpul ama keluarga gue. Kesepian sih, tapi ini resiko yang harus gue ambil karena memilih untuk berjuang, tinggal sendirian, & jauh dari keluarga.
Yang gue rindukan dari Natal tahun ini adalah kasih. Well, bukan berarti gue baru dapat “kasih” pas Natal doank. Tapi, ga tau aja, esensi kasih itu kena banget pas Natal. Dan memang kan makna Natal selalu dikait-kaitkan dengan “kasih” itu sendiri. Ada juga yang bilang makna natal adalah damai. Lah, kalo ga ada kasih, emang bisa ada damai?
Oke, gue bukan mau khotbah disini. Kembali ke kerinduan gue akan “kasih”. Gue rindu banget ngerasain hal itu. Absurd dan random abis, karena perasaan itu timbul gitu aja. Terutama kemarin, 24 desember 2011, di saat gue merasakan begitu banyak kasih yang gue alami, rasakan atau lihat. Berikut gue jabarkan.
1.      Dari jam 11.00 – 19.00 WIB, gue menghabiskan waktu dengan sahabat gue yang dateng dari Medan, Angel. Doi ke Jakarta sengaja tanpa kabar apapun untuk ngasih birthday surprise ke tunangannya. Dan kemarin, 8 jam dia tinggalin sang tunangan untuk menggila bareng gue. Cuma berdua. Lunch, belanja baju, beli novel, nyari kado,  ngunjungin temen, dan bahkan dinner, kita lakukan berdua. Ini bahkan jadi rekor buat kami untuk jalan bareng. Well, mustahil kalo ini bisa kami lakukan tanpa ada kasih di antara kami (bukan begitu, cyiiinn :D)
2.      Gue emang suka anak kecil, tapi seumur-umur gue belum pernah gendong bayi yang umurnya di bawah 3 bulan sebelum kemarin. Gue dan Angel mampir ke rumah Mba Shanty, yang baru melahirkan anak keduanya, Shabrina. Umur Shabrina hampir sebulan, bikin gue awalnya ga berani gendong dia. Angel, yang memang udah biasa, dengan mudahnya gendong Shabrina. Akhirnya gue memberanikan diri menggendong Shabrina dan bisa! Perasaan surprised juga, bayi ringan ya ternyataaa! :D Makin lama gue gendong Shabrina, gue pun makin terbiasa. Tapi aneh rasanya lihat Shabrina begitu anteng dalam pelukan gue dan tertidur. Sesekali menggeliat, tapi, ya itu, tidur lagi. Angel sampai nyeletuk: Itu namanya lo punya naluri keibuan, makanya jadi anteng. Naluri keibuan? Berarti gue punya kasih seorang ibu dalam diri gue donk ya? Lucu juga, karena sebelumnya gue ga pernah nyadar hal itu. Dan Shabrina kecil bisa detect hal itu yang kelak akan gue beri ke anak-anak gue.
3.      Malem habis bersama Angel, gue lanjut ke kost-an kakak sepupu gue, Kak Dewi, di daerah Senen. Dia baru sebulan ini nge-kost dan juga baru pertama kalinya ngerasain jadi anak kost. Dan sepengetahuan gue, dia belum punya tv, sementara gue doyan nonton, serta tempat tidur cuma satu ukuran single. Tapi pas gue dateng, sudah ada tv disana. Dan bahkan ada kasur lagi. Dia bilang: sengaja gue beli tv supaya lo betah di kost gue & ga mungkin juga lo tidur di lantai kan? Saat itu, gue sempet berpikir ke momen-momen dulu, ke segala hal yang pernah dilakukan Kak Dewi buat gue. Kalo ga ada kasih, ga mungkin dia sebegininya sama gue J
4.      Saat gue dan kak Dewi lagi nongkrong di sebuah waralaba deket kost-nya (dan curcol kalo lagi berantem sama cowonya), tiba-tiba dia ngomong: ke rumah sakit, yuk. Cowo gue masuk UGD. Kita langsung ke parkiran, tanpa basa-basi, langsung tancap ke rumah sakit di daerah Jatinegara. Gue dibonceng Kak Dewi. Gue dan dia sama-sama suka ngebut kalo bawa motor, tapi saat itu kak Dewi sarap abis ngendarainnya. Bahkan dia sempet ga fokus dan hampir nabrak separator busway. Untung gue tepat banget teriak ‘awas’ ke dia. Kalo kaga, amit-amit daahh, eyke belum kawin cyiiinn -____-.  Nyampe di UGD, ternyata pacarnya yang supersibuk bolak-balik keluar kota demi kerjaan, ambruk karena kecapean. Setelah ngeledek cowonya dikit, dia langsung urusin administrasi dan obat karena ternyata ga perlu rawat inep. Setelah beres, cowonya pulang dianter rekan-rekan kerjanya naik mobil. Sebelum pergi, Kak Dewi kecup pipi cowonya dan bilang: istirahat. Setelah itu, kami pun pulang. Dan sepupu gue itu kembali normal bawa motornya, untunglah. Saat itu gue sadar, walopun Kak Dewi sering berantem dan bahkan putus-nyambung sama cowonya, dia ga bakal berbuat seperti tadi kalo dia ga punya kasih untuk sang kekasih.
Dengan rentetan kejadian yang terjadi kemarin, bisa-bisanya gue masih ngerasa rindu akan kasih? Logikanya seperti itu. Tapi, di perjalanan pulang menuju kost Kak Dewi, gue menyadari bahwa rentetan kasih tersebut adalah kasih yang ga abadi. Sementara, yang selalu diajarkan dalam agama (termasuk Kristen), kasih yang abadi adalah dari Sang Pencipta (dalam hal ini yang gue maksud Tuhan Yesus).
Nyerempet ke khotbah lagi nih yak? :D kembali lagi ke hal yang pengen gue tekankan, rindu akan kasih. Jika rentetan kasih yang gue alami tersebut gue sadari adalah hal yang bukan abadi, maka rindu gue sadari adalah suatu hal yang absurd; yaitu perasaan yang aneh yang sulit dideskripsikan karena muncul begitu saja. Dan rindu sendiri sering berkaitan dengan hal-hal yang ga abadi. Misalnya, yang gue rasakan, rindu bersama-sama dengan keluarga gue. Keluarga kan manusia, sementara manusia pasti menemui ajal. Ga abadi kan? Betapa absurdnya. Dan rindu akan kasih yang ga abadi inilah yang bikin gue kerap merasa kesepian.
Di perjalanan pulang, saat gue melihat ke langit yang gelap, gue terpana karena hanya melihat satu bintang disana. Cuma satu. Dan bintang itu terus ngikutin perjalanan kami (lupakan pelajaran IPA tentang Tata Surya ye? Ntar ga nyambung. Karena ini memang harus dirasakan, bukan dipikirkan secara ilmiah). Kak Dewi ga tau kalo bintang saat itu hanya satu, jadi dengan egoisnya gue tetapkan bintang itu punya gue. Berhubung gue sedang galau maksimal dan kesepian to the max, gue kembali berpikir religious dan meyakini bahwa bintang itu adalah Sang Pencipta. Apapun yang gue lakukan, apapun yang gue rasakan, saat itu juga gue sangat menyadari, Tuhan tidak pernah ninggalin gue. Gue terus tatap bintang itu, tiba-tiba gue seperti ngerasa dibisiki sesuatu: AKU mengasihimu, Essy. Kamu tidak akan pernah kesepian.
Tepat saat itu juga, air mata gue netes.  Sekaligus mendapat kekuatan baru untuk terus semangat menjalani kehidupan gue.
Selamat hari Natal, semuanya. GOD bless u :)