Kali ini aku sengaja “f5” otak dan
hatiku tentang kamu. Jangan GR ya, aku cuma ingin membersihkan debu-debu di
halaman blog-ku yang sudah lama tidak dikunjungi :)
Apa kabar kamu, setelah “ctrl + h”
aku dari hatimu dengan dirinya sebagai “ctrl + n” di hidupmu? Apakah kamu
bahagia sekarang? Atau kamu malah sering “ctrl + z” ke masa ketika hanya aku
yang membuat jantungmu berdebar?
You
know what, aku masih suka “ctrl + g” ke lembar pertama kisah kita, awal
kita ketemu, saling mengenal, sampai ke lembar favoritku; ketika kita jatuh
cinta satu sama lain.
Iya, kamu benar. Aku masih berkutat
untuk lepas darimu seutuhnya. Susah, karena memori itu “ctrl + s” dalam relung
jiwaku. Ketika aku “ctrl + a” seluruh memori kita, hatiku tidak sanggup “d”
itu.
Tapi, aku bukan Adele. Aku tidak mau
“ctrl + f” seseorang yang sama denganmu, karena aku tidak mau dia menjadi
bayanganmu. Jadi jangan salahkan aku masih suka “ctrl + o” album memori kita.
Tapi tenang, aku sama sekali tidak berniat untuk “ctrl + c” kemudian “ctrl + v”
memori itu kok. Aku hanya butuh waktu dan doamu untuk mendapatkan kebahagiaanku.
Suatu hari nanti, bukan kamu lagi
yang menjadi “ctrl + e” di hatiku, kamu pasti sudah mempertimbangkan itu
sebelum memilihnya. Dan saat lelaki itu datang, itulah saat dimana aku siap “ctrl
+ w” dari memori dan kamu. Sampai selamanya….
Helooooowwww
semuaaaaa… Apa kabaaaarrrr?? Yang disana apa tetap semangaaatttt?? :D
Betapa
gue merindukan nulis, tapi apa daya, sibuk luar biasa. Ya, Puji Tuhan, udah 2
minggu ini posisi gue di kantor naik, dipercayain untuk jadi Team Leader. Emang
sih masih probation, tapi cukuplah
bikin gue migrain tiap hari.
Bahkan
melupakan bahwa “obat” gue adalah nulis. Untung sekarang keinget :D
Emmm…
ada yang ngerasa post gue berkurang? :D hehehe… gue terpaksa ngapus, karena, eh
karena… (yang kepo tanya langsung deh ama gue :D)
Well,
mulai aja deh. Berhubung backsound
gue lagunya si Adele, pasti udah banyak yang nebak ye. Iye iye, gue baru-baru
aja ngerasain perasaan si Adele ini, hati pecah berkeping-keping bagaikan
serpihan guci yang pecah (halah, ribet!). Si dia sukses move on, finally found another girl whom he wants to love (for the rest
of his life, probably). Gue tau ini pas masih di kantor. Awalnya ngerasa
lega (karena ga perlu lagi merasa digantungin terus), kemudian gue ngomong ke
temen kantor gue tentang hal itu, sok tegar, eh tapi nangis juga :D Malah nyampe
kos gue ‘karaokean’ lagu si Adele ini.
I
heard that you settled down
That
you found a girl
And
you’re DATING now….
(krik…
krik.. krik…)
Hey, L. Thanks for this 2-years-almost-love
relationship… J .
Nangisnya
gue di kantor itu sih ga terhitung parah, cuma beberapa menit. Yang lebih parah
pas gue menyadari si L gave up struggling for our love di pertengahan 2011
kemaren. Konyol, gue nangis 4 hari berturut-turut…
Oke,
pembenaran gue adalah I used to think
that he’s my Mr. Right. Gue pikir L-lah pasangan hidup gue. Gue
menghiraukan betapa banyaknya perbedaan di antara kami, tapi L tidak. Too much to be considered. Sehingga setelah
2 tahun, dia memilih untuk menyerah.
Gue
ga mau nyalahin dia, karena memang gue yang salah karena terlalu cepat berpikir
L si Mister Bener.
Walau
gue suka banget sama lirik lagu Someone Like You ini, tapi gue ignored lirik: “Never
mind, I’ll find someone like you” dan “Don’t forget me, I beg”. Iya sih, gue
pasti bakalan nyari laki yang sebaik dan perhatian kayak dia (better, I hope), tapi ga seperti dia
yang ga mau berjuang bersama gue. Dan lirik berikutnya, oh c’mon, ga lucu aja L dating
another woman, but still thinking of me? Selingkuh donk namanya, amit-amit
dah. Just wish the best for him and his
girl.
Sambil
ngetik tulisan ini, gue nyengir sendiri. Ga percaya bahwa sosok tomboy kayak
gue ini, bisa juga nangis gara-gara cinta. Temen-temen yang tau gue juga ga ada
yang percaya :D
Gue
yakin, banyak dari kalian yang pernah atau mungkin saat ini sedang ngerasain
hal yang sama kayak gue atau bahkan lebih parah. Contohnya, sahabat gue satu
kampus. Dia pacaran udah 3 tahun, cinta berat ama si cowo, kemudian putus. Sayangnya
sampai sekarang masih cinta sama ex-nya, padahal udah hampir setahun. Jadilah,
pas kami bbm-an, beberapa hari setelah mengetahui si L punya pacar, itu menjadi “ajang” curhat 2 sahabat galau
maksimal.
Tapi,
ada pada saatnya, setiap orang yang punya masalah apapun, termasuk masalah
cinta, akan merasa: sudah saatnya mencari jalan keluar. Dan gue pun akhirnya
merasakan itu ketika tadi pagi ngecek recent updates status BBM, dimana 3 orang
temen gue yang ga saling mengenal, berjejer kompakan ganti display picture-nya
dengan pasangan masing-masing. Bahagia banget pose-nya. Tiba-tiba terlintas di
otak gue si L, membayangkan jika foto tersebut adalah L dan pacarnya. Bahagia.
L sudah mendapat kebahagiannya. Terus, gue mau terus-terusan galau gara-gara
dia?
Saat
itu gue mulai tersadar saatnya gue menemukan kebahagiaan gue sendiri. Gue berhak
untuk mendapatkan seseorang bersedia menjadi seseorang seperti di lirik Glory
of Love by Chicago.
Tonight
it's very clear, as we're both lying here,
there's
so many things I want to say
I
will always love you, I will never leave you alone….
I
am the man who would fight for your honor
I’ll
be the hero you’re dreaming of
We’ll
live forever, knowing together
That
we did it all for the glory of love
Gue
berhak dapat & cintai laki model ginih kan? J
Jadi,
sudahkah memutuskan untuk move on,
Hai Galau-ers? :D
Well,
post ini gue dedikasikan untuk diri gue sendiri, demi membuang segala rasa yang
masih tersisa buat L. Semuanya, tanpa tersisa. Tapi ingin mempunyai bukti bahwa
ternyata gue bisa mencintai seseorang dengan tulus dan yakin suatu saat gue
mampu mencintai seseorang lagi, my future
husband. Post ini buktinya.
Thanks, L. It’s the right time to
let you go. I’m moving on….
Ho Ho Ho… Merry
Christmas! Selamat Natal untuk kalian yang merayakan.. *hugs*
Udah lama ye gue kaga
nge-blog lagi. Ada yang kangen gak? *berasaartisbanget*
Puji Tuhan,
berhari-hari yang lalu gue kebanjiran client. Maklum, akhir tahun, jadi banyak
order dari client yang bikin gue kewalahan sendiri. Bahkan pulang kantor, mandi
langsung molor aje saking capeknya. Namanya juga rezeki, masa ditolak? :D
Berhubung lagi Natal,
gue pengen CurWis tentang Natal tahun ini, yang beda banget tanpa bisa kumpul
ama keluarga gue. Kesepian sih, tapi ini resiko yang harus gue ambil karena
memilih untuk berjuang, tinggal sendirian, & jauh dari keluarga.
Yang gue rindukan dari
Natal tahun ini adalah kasih. Well, bukan berarti gue baru dapat “kasih” pas
Natal doank. Tapi, ga tau aja, esensi kasih itu kena banget pas Natal. Dan
memang kan makna Natal selalu dikait-kaitkan dengan “kasih” itu sendiri. Ada
juga yang bilang makna natal adalah damai. Lah, kalo ga ada kasih, emang bisa
ada damai?
Oke, gue bukan mau
khotbah disini. Kembali ke kerinduan gue akan “kasih”. Gue rindu banget
ngerasain hal itu. Absurd dan random abis, karena perasaan itu timbul gitu aja.
Terutama kemarin, 24 desember 2011, di saat gue merasakan begitu banyak kasih yang
gue alami, rasakan atau lihat. Berikut gue jabarkan.
1.Dari jam 11.00 – 19.00 WIB, gue
menghabiskan waktu dengan sahabat gue yang dateng dari Medan, Angel. Doi ke
Jakarta sengaja tanpa kabar apapun untuk ngasih birthday surprise ke
tunangannya. Dan kemarin, 8 jam dia tinggalin sang tunangan untuk menggila
bareng gue. Cuma berdua. Lunch, belanja baju, beli novel, nyari kado, ngunjungin temen, dan bahkan dinner, kita
lakukan berdua. Ini bahkan jadi rekor buat kami untuk jalan bareng. Well,
mustahil kalo ini bisa kami lakukan tanpa ada kasih di antara kami (bukan begitu, cyiiinn :D)
2.Gue emang suka anak kecil, tapi
seumur-umur gue belum pernah gendong bayi yang umurnya di bawah 3 bulan sebelum
kemarin. Gue dan Angel mampir ke rumah Mba Shanty, yang baru melahirkan anak
keduanya, Shabrina. Umur Shabrina hampir sebulan, bikin gue awalnya ga berani
gendong dia. Angel, yang memang udah biasa, dengan mudahnya gendong Shabrina.
Akhirnya gue memberanikan diri menggendong Shabrina dan bisa! Perasaan
surprised juga, bayi ringan ya ternyataaa! :D Makin lama gue gendong Shabrina,
gue pun makin terbiasa. Tapi aneh rasanya lihat Shabrina begitu anteng dalam
pelukan gue dan tertidur. Sesekali menggeliat, tapi, ya itu, tidur lagi. Angel
sampai nyeletuk: Itu namanya lo punya naluri keibuan, makanya jadi anteng.
Naluri keibuan? Berarti gue punya kasih seorang ibu dalam diri gue donk ya?
Lucu juga, karena sebelumnya gue ga pernah nyadar hal itu. Dan Shabrina kecil
bisa detect hal itu yang kelak akan gue beri ke anak-anak gue.
3.Malem habis bersama Angel, gue lanjut ke
kost-an kakak sepupu gue, Kak Dewi, di daerah Senen. Dia baru sebulan ini
nge-kost dan juga baru pertama kalinya ngerasain jadi anak kost. Dan
sepengetahuan gue, dia belum punya tv, sementara gue doyan nonton, serta tempat
tidur cuma satu ukuran single. Tapi pas gue dateng, sudah ada tv disana. Dan
bahkan ada kasur lagi. Dia bilang: sengaja gue beli tv supaya lo betah di kost
gue & ga mungkin juga lo tidur di lantai kan? Saat itu, gue sempet berpikir
ke momen-momen dulu, ke segala hal yang pernah dilakukan Kak Dewi buat gue.
Kalo ga ada kasih, ga mungkin dia
sebegininya sama gue J
4.Saat gue dan kak Dewi lagi nongkrong di
sebuah waralaba deket kost-nya (dan curcol kalo lagi berantem sama cowonya),
tiba-tiba dia ngomong: ke rumah sakit, yuk. Cowo gue masuk UGD. Kita langsung
ke parkiran, tanpa basa-basi, langsung tancap ke rumah sakit di daerah
Jatinegara. Gue dibonceng Kak Dewi. Gue dan dia sama-sama suka ngebut kalo bawa
motor, tapi saat itu kak Dewi sarap abis ngendarainnya. Bahkan dia sempet ga fokus
dan hampir nabrak separator busway. Untung gue tepat banget teriak ‘awas’ ke
dia. Kalo kaga, amit-amit daahh, eyke belum kawin cyiiinn -____-. Nyampe di UGD, ternyata pacarnya yang
supersibuk bolak-balik keluar kota demi kerjaan, ambruk karena kecapean.
Setelah ngeledek cowonya dikit, dia langsung urusin administrasi dan obat
karena ternyata ga perlu rawat inep. Setelah beres, cowonya pulang dianter
rekan-rekan kerjanya naik mobil. Sebelum pergi, Kak Dewi kecup pipi cowonya dan
bilang: istirahat. Setelah itu, kami pun pulang. Dan sepupu gue itu kembali
normal bawa motornya, untunglah. Saat itu gue sadar, walopun Kak Dewi sering
berantem dan bahkan putus-nyambung sama cowonya, dia ga bakal berbuat seperti
tadi kalo dia ga punya kasih untuk
sang kekasih.
Dengan rentetan
kejadian yang terjadi kemarin, bisa-bisanya gue masih ngerasa rindu akan kasih? Logikanya seperti itu. Tapi, di perjalanan pulang menuju
kost Kak Dewi, gue menyadari bahwa rentetan kasih tersebut adalah kasih yang ga
abadi. Sementara, yang selalu diajarkan dalam agama (termasuk Kristen), kasih yang abadi adalah dari Sang
Pencipta (dalam hal ini yang gue maksud Tuhan Yesus).
Nyerempet ke khotbah
lagi nih yak? :D kembali lagi ke hal yang pengen gue tekankan, rindu akan
kasih. Jika rentetan kasih yang gue alami tersebut gue sadari adalah hal yang
bukan abadi, maka rindu gue sadari adalah suatu hal yang absurd; yaitu perasaan
yang aneh yang sulit dideskripsikan karena muncul begitu saja. Dan rindu
sendiri sering berkaitan dengan hal-hal yang ga abadi. Misalnya, yang gue rasakan,
rindu bersama-sama dengan keluarga gue. Keluarga kan manusia, sementara manusia
pasti menemui ajal. Ga abadi kan? Betapa absurdnya. Dan rindu akan kasih yang
ga abadi inilah yang bikin gue kerap merasa kesepian.
Di perjalanan pulang,
saat gue melihat ke langit yang gelap, gue terpana karena hanya melihat satu
bintang disana. Cuma satu. Dan bintang itu terus ngikutin perjalanan kami
(lupakan pelajaran IPA tentang Tata Surya ye? Ntar ga nyambung. Karena ini
memang harus dirasakan, bukan dipikirkan secara ilmiah). Kak Dewi ga tau kalo
bintang saat itu hanya satu, jadi dengan egoisnya gue tetapkan bintang itu
punya gue. Berhubung gue sedang galau maksimal dan kesepian to the max, gue
kembali berpikir religious dan meyakini bahwa bintang itu adalah Sang Pencipta.
Apapun yang gue lakukan, apapun yang gue rasakan, saat itu juga gue sangat
menyadari, Tuhan tidak pernah ninggalin gue. Gue terus tatap bintang itu,
tiba-tiba gue seperti ngerasa dibisiki sesuatu: AKU mengasihimu, Essy. Kamu
tidak akan pernah kesepian.
Tepat saat itu juga,
air mata gue netes. Sekaligus mendapat
kekuatan baru untuk terus semangat menjalani kehidupan gue.