Tampilkan postingan dengan label present. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label present. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Agustus 2012

More Details and Synopsis of ‘Present’

Dear, Friends :)
Finally, novel pertamaku, ‘Present’, sudah bisa kalian miliki! (heboh sendiri)
Sayangnya, ‘Present’ belum bisa didapatkan di toko buku, karena prosedur-nya lebih ribet. Mohon doanya saja supaya akhir tahun ‘Present’ bisa nampang di toko buku :)
Tapi, bagi yang ‘kebelet’ pengen baca ‘Present’, caranya cuma 1: beli online!
Pastinya, teman-teman tidak mau ‘beli kucing dalam karung’. Jadi, saya sekarang beritahu sedikit info tentang Present.
Judul:                          Present
Penulis:                       Theresia Simanjuntak

Desainer Cover:          Agung Rahman Saputro
Jumlah Halaman:         263
Harga:                        Rp. 55.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Untuk prosedur pembelian, bisa klik link ini: 
Tampilan 'Present' di situs Nulisbuku.com, bisa diliat di link: Present di Nulisbuku

----------------------------------------------------------------------------------------------

SINOPSIS
Mya Alexa Siagian adalah potret wanita yang diimpikan setiap wanita di muka bumi. Cantik, muda, dan sudah mencapai kesuksesan di bidangnya sebagai jurnalis dan presenter sepakbola. Tapi, pasti pandangan tersebut berubah saat mengetahui bahwa Alexa belum pernah sekalipun berpacaran.
Hatinya hanya tertambat pada sahabatnya, si misterius tetapi sangat hangat Tristan Wisesa, yang ternyata juga memiliki perasaan yang sama padanya. Mereka pun berpacaran. Happy ending? Tidak juga.
Lexa, panggilannya, selalu terbayang dengan masa lalunya, penyebab utama yang mempengaruhi susahnya dia mendapatkan cinta, yaitu perceraian kedua orangtuanya. Kisah perpisahan orangtuanya yang berakhir tidak baik telah menjadi duri dalam hubungannya dengan Tristan.
Ketika sang pria impian menawarkan tangannya untuk digenggam selamanya, Lexa justru terpaku di persimpangan jalan antara masa lalu dan masa depan. Ketika hal misterius Tristan tersibak, maka yang Lexa harus percaya adalah bahwa sang kekasih memang hadiah yang telah dipersiapkan Tuhan untuknya.

Is that clear enough? Feel free to ask me, yah..
Looking forward your comments. Thank you so much and God bless :)

Senin, 11 Juni 2012

PRESENT - EMPAT


Well, the fact is I’m not as strong as I thought.
Aku baru saja masuk ke kelasku yang masih kosong. Kepagian. Duduk, kupandangi seisi kelasku yang baru dua bulan kutempati ini. Karena belum ada yang datang, dinginnya AC kelasku begitu terasa. Kalau penuh sih jangan harap. Yang ada aku pasti ambil buku yang tipis, lalu mengipas-ngipas mencari udara segar. Kepanasan.
Kuambil buku tugas matematika-ku. Ya memang, sengaja aku datang cepat karena PR-ku belum selesai. Aku menghela napas panjang. Mau dibaca berkali-kali materi logaritma ini, tetap aku gak mampu jawab soal-soalnya yang cuma sebanyak 5 soal.
Aku mendengus keras, frustasi. Kuputuskan untuk mengerjakan sebisaku saja. Hasil akhir? Bodo amat! At least I do it by myself.
Semangat belajarku memang turun drastis sejak Mama pergi. Sulit sekali bagiku untuk menyemangati diri untuk fokus ke pelajaran di sekolah. Setahun berlalu setelah Mama pergi pun aku masih belum mampu kembali ke diriku yang dulu, Alexa si ranking satu.
Efek menurunnya semangat belajar ini sudah terlihat beberapa bulan yang lalu ketika aku lulus SMP dengan nilai paspasan. Saat itu Papa memarahiku, meluapkan rasa kecewanya yang hanya mampu kubalas dengan tundukkan kepala, tidak berani menatapnya.
Masuk SMA aku dihadapkan pada kenyataan bahwa teman-teman baruku begitu berbeda dengan teman-teman SMP. Aroma persaingan untuk menjadi yang terbaik begitu terasa di kelas ini. Bahkan untuk bertanya hal yang tidak kumengerti aja tak seorangpun yang mau menjelaskan. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Yang pintar berteman dengan yang pintar lainnya. Yang sadar kurang pintar biasanya hanya mampu mengerubuni para murid pintar saat berdiskusi, ikutan curi dengar, berharap kecipratan sedikit ilmu mereka.
Konyolnya, aku yang sekarang masuk kategori nomor dua, untuk mencuri dengar saja tidak bisa kulakukan. Sudah turun semangat belajar ditambah lagi dengan hilangnya kemampuan bersosialisasi. Kebodohan yang sempurna.
Baru kusadari kalo kelas udah ramai. Dan otak sialku ini juga belum mampu menyelesaikan soal-soal matematika ini. Kututup buka, merutuk kesal di dalam hati. Bodo amat, dikumpul sejadinya aja.
Bel masuk berbunyi. Bu Diana, guru matematika yang selalu on-time, memasuki kelas. Ibu ini masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda. Wajahnya memancarkan ketegasan. Dibilang guru killer sih tidak juga karena beliau begitu akrab dengan murid-muridnya, namun memang terkenal “sadis” dalam mengajar, misalnya suka memberi banyak tugas dan tidak segan-segan menghukum murid yang ketahuan nyontek saat ujian. Sudah terkenal seantero sekolah kalau dua tahun yang lalu, ada murid yang nekad buat contekan matematika. Ketika dia tertangkap basah oleh Bu Diana, beliau tidak segan-segan merobek kertas ulangannya dan kemudian menggagalkan ujian murid tersebut. Walhasil, murid itu tinggal kelas dan akhirnya memilih untuk pindah sekolah. Sejak saat itu, tidak ada yang berani, walaupun hanya berpikir, untuk nyontek.
“Pagi, class! How are you?” serunya tersenyum lebar.
“Baik buuuu...” kelasku begitu riuh tertawa, membalas sapaannya.
“Oke. Sebelum ibu cek PR kalian, Ibu mau membagikan hasil ulangan harian minggu lalu. Bagus-bagus nilai kalian, senang saya. Terutama yang namanya... hmmm...” Bu Diana terlihat sibuk dengan lembaran kertas jawaban kami. “Oh iya, terutama si Mya Alexa Siagian. Yang mana anaknya?”
Aku terperanjat dari kursiku, tidak percaya namaku disebut. Aku mengangkat tanganku. “Saya, Bu.”
“Oh kamu. Maju ke depan.”
Teman-teman sekelas kompak menyerukan “Cieeeee...” saat aku melangkah mendekati meja guru. Aku membalas mereka dengan raut wajah datar karena masih tidak percaya mengingat... yah mengingat...
“Hebat kamu ya, Mya,” senyum Bu Diana masih terpampang di wajahnya, namun terasa agak sinis menurutku. “Kalian tahu kenapa saya bilang Mya hebat? Karena dari 10 soal yang saya kasih, dia bisa dapat nilah setengah. Bukan setengah dari 10 yaitu 5, tapi setengah. Nol koma lima!”
Kelas hening seketika. Aku merasakan wajahku pucat. Aku menunduk, tidak berani menatap wajahnya.
“Hei Mya, lihat saya.” Aku menatapnya, setengah menunduk. “Kamu ngapain aja di rumah? Asal kamu tahu, ya, rapat guru dan orangtua seminggu sebelum ulangan harian yang lalu, Papa kamu luar biasa memuji-muji kamu. Anak saya cantik dan pintar. Papa kamu malah menyarankan kami para guru untuk menaikkan standar nilai di sekolah ini supaya murid-murid bisa terpacu belajarnya. Eh, standar nilai tidak dinaikkan saja anaknya gagal begini, bagaimana jika kami naikkan? Cantik iya, tapi kalau tidak berotak apa gunanya.”
Bu Diana berkata pada intonasi yang biasa saja, tapi itu sudah lebih dari cukup menusuk. Aku sangat malu. Tidak pernah aku tau kalo rapat guru dan orangtua yang lalu Papa berbicara seperti itu.
Dua jam durasi pelajaran matematika ini dihabiskan Bu Diana untuk mengomentari rapat yang lalu, menyindirku habis-habisan di depan kelas walaupun terkadang dia juga menimpali dengan lelucon khasnya. Namun itu tetap tidak merubah keadaan kalo aku sangat malu.
Selesai pelajaran matematika, aku sadar penilaian teman-teman sekelasku tentang aku menjadi buruk, atau mungkin semakin buruk. Ya Tuhan...
Jam istirahat tiba, aku langsung pergi ke kantin. Setelah makan, aku membeli beberapa cemilan untuk dimakan di dalam kelas saat pelajaran biologi nanti. Aku tau, makan di kelas bisa kena hukuman. Tapi aku gak peduli. Makanan adalah obat stresku. Kalo udah pusing seperti ini, aku melampiaskan dengan mengemil. Sudah lebih dari setahun kulakukan, dan terbukti aku mampu mengatasi stres tersebut walopun efek sampingnya adalah berat badanku naik drastis.
Bu Tari, guru biologi, masuk ke kelas ketika aku masih sibuk dengan cemilanku, bahkan masih ada sisa setengah. Buru-buru kumasukkan ke laci meja karena masih berniat memakannya, tanpa sepengetahuan Bu Tari pastinya.
Bu Tari sedang menjelaskan sel-sel pada tumbuhan. Aku mendengarkan penjelasannya, menulis sambil sesekali mengambil keripik singkong dari laci meja dan memakannya perlahan.
“Kamu, yang di belakang sana!”
Jantungku berdetak cepat. Kuangkat kepalaku, menoleh ke arahnya. Benar, Bu Tari sedang mengarahkan telunjuknya padaku dari depan kelas.
“Bawa makanan kamu segera ke depan dan letakkan di meja saya!”
Kurasakan keringat dingin muncul di telapak tanganku saat aku mengambil bungkusan cemilan dari laci meja. perlahan aku bangkit dari kursi, berjalan ke depan kelas dan meletakkan cemilanku tersebut sesuai perintahnya. Aku berdiri mematung di depan kelas (lagi).
“Kamu kira saya tidak melihat apa yang murid-murid saya lakukan? Kamu kira saya tidak melihat apa yang KAMU lakukan? Baru masuk dua bulan kok udah betingkah. Seharusnya kamu saya laporkan ke BP, tapi kali ini saya maafkan. Sekali lagi kamu berani makan saat pelajaran saya, saya akan laporkan kamu ke BP atau saya sendiri yang melarang kamu masuk di kelas saya. Mengerti??!”
Aku hanya bisa mengangguk perlahan.
“Sudah, kembali ke tempat duduk. Heran, baru selesai istirahat masih juga berani mengunyah di kelas.”
Aku mengambil buku biologi kemudian menundukkan kepala. Bukan untuk serius membaca tentang sel-sel pada tumbuhan tersebut, melainkan berusaha untuk tidak menangis.
***
Tidak ada seorangpun di rumah ketika aku pulang. Ada pesan ditulis di kertas diletakkan di atas meja di ruang tamu. Tulisan Fay yang bilang bahwa dia sedang bermain di rumah sepupuku, Agatha. Adik Agatha, Sachi, seumuran dengan Fay sehingga Fay senang bermain di rumah mereka sejak perginya Mama.
Aku terduduk di tempat tidurku. Pikiranku sibuk dengan nilai matematika yang nol-koma-lima itu, sindiran-sindiran sampai segala omelan yang kuterima tadi. Gosh, sekalipun aku tidak pernah dapat nilai seburuk itu. Bahkan sekalipun aku tidak pernah ditegur guru sebelumnya. Selama ini aku adalah murid kesayangan guru-guru. Dan hari ini aku malah bermasalah dengan dua guru sekaligus.
Kuhapus air mata yang sudah bercucuran, lalu pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba teringat bahwa hari ini harus mencuci dan masak untuk makan malam. Kepalaku berdenyut tidak karuan. Aku berlari kembali ke kamar, mengambil bantal, membantingnya. Lagi dan lagi.
Aku menangis histeris. “Tuhan, aku gak sanggup. Ya Tuhaaannn... aku enggak sanggup! Kenapa harus aku, Tuhan? KENAPA HARUS AKU??!”
Tempat tidur sudah sangat berantakan, namun aku tidak peduli. Aku terduduk di lantai ketika akhirnya merasa lelah untuk membanting. “Tuhan, aku harus gimana? Aku udah capek, Tuhan. Gak mau lagiiii... udah enggak sanggup...”
Aku tesentak diam, bangkit dan berjalan sempoyongan ke dapur. Ragu-ragu, kuambil pisau.
Aku hanya mengingat darah mengucur dari pergelangan tanganku sebelum semua menjadi gelap.
***

Senin, 04 Juni 2012

PRESENT - TIGA

 “Hey, Lexa. Lo mau langsung pulang? Jalan bentar yuk?”
“Tau nih Lexa. Buru-buru amat. Jarang-jarang loh kita dipulangin cepat begini.”
Aku berpikir sejenak, kemudian mengangguk, tersenyum lebar kepada mereka. Sekolah memulangkan kami lebih cepat daripada biasanya karena guru-guru akan mengadakan rapat untuk membuat soal-soal tryout UAN untuk kelas 3. Yang berarti soal-soal untuk aku juga.
Ya. Aku sudah duduk di kelas 3 sekarang. Bertambah aja deh beban pikiran ini, karena aku kudu, wajib lulus SMP.
Hehehe... Terkesan aku begitu serius banget menghadapi hari-hari terakhirku sebagai anak berseragam putih-biru. Tidak kok. Aku justru menjalaninya dengan santai. Seperti saat ini, aku justru pergi jalan-jalan ke pasar tradisional dengan beberapa teman sekelasku. Padahal UAN tinggal tiga bulan lagi loh.
Hmm.. tidak juga sih. Aku berbohong sedikit. Aku tidak benar-benar menjalani ini dengan santai. Tapi aku mencoba membuat diriku santai menjalani kehidupanku sekarang. Ketiadaan Mama sejak berbulan-bulan yang lalu begitu mempengaruhiku. Bagaimanapun juga aku harus menggantikan pekerjaannya selama masih bersama kami: memasak, belanja bulanan, dan lain-lain. Bahkan aku juga yang harus menggantikannya mengambil raport adikku.
Tapi satu hal yang sedikitpun tidak bisa kulakukan adalah menggantikannya untuk memberikan kasih sayang buat Fay. Untuk sekedar bertanya, “Bagaimana sekolahmu hari ini?” itu saja sulit sekali, karena aku sendiri pusing dengan hari-hari ku di sekolah. Bahkan terkadang kalau Fay meminta bantuanku tentang PR-nya, aku malah bersikap ketus dan menyuruhkannya mengerjakan sendiri.
Mungkin aku bukan kakak yang baik. Aku pasti bukan kakak yang baik. Tapi aku tetap berharap adikku bisa tumbuh dengan normal.
Dan aku masih berharap Mama pulang. Aku sendiri sangat membutuhkan sosoknya dalam hidupku. Bayangkan ketika aku mendapatkan untuk pertama kalinya anugerah sebagai seorang keturunan Hawa, aku syok sendiri. Bingung bertanya kepada siapa bagaimana memasang pembalut.
Oke. Bukan bermaksud menyederhanakan peran Mama dalam hidupku. Aku hanya memberi contoh sederhana saja. Aku benar-benar kosong tanpa dirinya. Selalu ingin menangis ketika melihat ibu-ibu menggandeng anaknya di Mall, tertawa bersama-sama.

Tuhan, kapan aku bisa merasakan itu lagi...
***
“Lexa, soal nomor ini gimana sih caranya?”
Melly, teman sebangkuku, menyodorkan buku cetak matematika sambil duduk lebih rapat ke arahku. Aku membacanya sejenak, kemudian menyoret-nyoret jawabannya di selembar kertas kosong yang diberikan Melly.
UAN sebentar lagi, tepatnya bulan depan. Teman-teman sekelasku terlihat semakin hari semakin tambah paniknya. Apalagi ketika nilai-nilai tryout keluar. Baik yang puas maupun yang tidak puas dengan nila-nilai tersebut, semakin terpacu buat belajar dan bertanya kepada temannya yang lebih pintar. Misalnya aku, si ranking 1.
Bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Beberapa dari teman sekelasku langsung berhamburan ke kantin. Sisanya, termasuk aku, sibuk mengambil bekal dari tas masing-masing, kemudian menggeserkan meja-meja supaya bisa makan sama-sama. Kami berdelapan sebelumnya sudah berjanji membawa makanan dari rumah, menyadari bahwa ingin menghabiskan waktu yang tinggal sedikit lagi bersama-sama.
“Weiiitsss... Lexa bawa nugget dan sosis. Nyomot dong..” seru Dicky antusias, namun tangannya yang hendak mengambil sosis ditepis langsung dari Melly.
“Elo emang yak, suka banget nyomot. Noh makan sendiri punya lo. Dasar!” Melly berseru galak. Aku hanya terkekeh pelan. Mereka semua tau keadaan keluargaku, dan sangat memahami posisiku di rumah seperti apa.
Makananku baru habis setengah ketika Dion, salah seorang teman sekelasku, memanggilku dari pintu kelas. “Lexaaaa.... ada yang nyari.”
“Siapa, Yon?”
“Nyokap lo.”
Hanya sedetik aku termenung di tempat, kemudian aku langsung berlari keluar kelas, diikuti teman-temanku lainnya. Persis di luar kelas, aku lihat sosok yang hampir setahun ini kurindukan. Sosok yang selalu kuharapkan muncul di depanku setiap harinya. Dan kali ini dia benar-benar muncul. Tersenyum. Air matanya terlihat menggenangi sudut matanya.
“Lexa...”
Dadaku begitu sesak saat menggumamkan pelan, “Ma...”
***
Mama dan aku duduk di bangku dekat lapangan basket sekolah. Walaupun matahari agak terik, tapi ada pohon rindang, sehingga panas matahari tidak langsung ke arah kami.
Tadi Mama akhirnya meneteskan air matanya. Tanganku tak henti-hentinya digenggam. Terlihat bagaimana Mama begitu mencurahkan rasa rindunya kepadaku.
“Bagaimana keadaanmu, Nak?”
“Baik, Ma. Mama sendiri gimana?”
“Sehat. Mama sehat.”
Kemudian berbagai pertanyaan pun tergelontar cepat dari mulutku, tanpa sedikitpun aku bisa memberhentikan. Aku senang Mama ternyata pulang. “Mama kapan nyampe? Kok gak ada berita dari Mama? Mama sakit disana? Atau ada apa gitu jadi Mama gak bisa nelpon? Mama udah ke rumah kan? Oh iya ya, kunci rumah kan sama Lexa dan Fay. Mama gak bisa masuk ya? Ya udah kita pulang sekarang aja. Nanti Lexa minta izin sama guru. Oh iya Papa. Papa udah tau Mama mau pulang, kan? Belakangan agak galak sih Papa, tapi Lexa rasa nanti..”
Mama menyelaku. “Ssstt... Lexa.. jangan begitu. Maafkan Mama, Nak..” tanganku dicium sekilas, semakin erat dipegang.
Aku menggeleng. “Kok Mama minta maaf? Mama gak salah apa-apa kok. Pasti ada alasan kenapa Mama baru pulang sekarang. Lexa gak peduli, yang penting Mama pulang. Yuk, ke rumah, Ma. Lexa pamitan dulu sama guru Lexa.”
Aku hendak beranjak dari bangku, namun Mama menarik tanganku yang masih digenggamnya. “Duduk dulu, Lexa. Ada yang Mama harus bicarakan.”
Aku tidak suka perasaanku sekarang karena mendengar ucapan Mama, serta melihat ekspresinya yang masih sendu. “Ada apa, Ma? Mama kok kayaknya...” tidak ingin pulang. Bahkan aku tidak mau melanjutkan perkataan. Aku benci pikiranku sekarang.
Mama mengusap air mata di pipinya. “Lexa, Mama mau bicara sesuatu. Mama mohon maaf sama kamu, Lex. Jangan benci Mama ya. Tolong jangan benci Mama. Mama... Mama...”
Mataku menyipit. “Langsung aja, Ma.”
Air mata Mama berjatuhan, tidak mampu lagi ditahannya. “Mama gak bisa pulang, Lex. Mama... udah bercerai dengan Papamu.”
Aku menunduk. Aku bingung harus mengatakan apa tentang perasaanku saat ini. Bagaikan petir di siang bolong? Hatiku bagai tertusuk pisau? Iya, aku kaget. Tapi aku sangat tidak bisa menggambarkan apa yang kurasakan sekarang.
Mati rasa. Kosong.
Bahkan aku tidak bisa menangis, seperti yang sering kulakukan di malam-malam setelah kepergian Mama.
“Mama terpaksa harus meninggalkan kamu dan Fay, Nak. Kalian harus tinggal dengan Papamu.”
Apa aku mendadak bisu, sehingga tidak bisa merespon, atau setidaknya berteriak?
“Lexa, lihat Mama, Nak. Lihat Mama, tolong...”
Mama mendongakan kepalaku. Kulihat matanya yang merah, penuh dengan air mata. “Dengar, Lexa. Jangan pernah kamu mengira Mama meninggalkan kalian. Mama ingin sekali membawa kalian bersama, melihat kalian tumbuh, membesarkan kalian. Tapi keadaan Mama sekarang secara ekonomi tidak bisa, Nak. Kalau Mama memikirkan ego Mama sendiri, kalian bisa makan apa nanti? Bagaimana cara Mama menyekolahkan kalian? Mama tidak berani mengambil resiko itu, Lexa. Mama tidak ingin kalian hancur karena Mama.”
“Tapi, Mama janji, suatu hari nanti kalian akan tinggal sama Mama. Untuk beberapa tahun nanti, Mama akan berusaha bekerja semampu yang Mama bisa. Demi kalian. Jadi, jangan pernah beranggapan Mama meninggalkan kamu dan Fay, ya?”
Aku mengangguk singkat.
“Mama tahu sifat Papamu. Dia sangat pendendam. Dia jelas mengatakan Mama tidak bisa bertemu dengan kalian. Jadi, maaf, Nak. Untuk sementara, kita tidak bisa bertemu.” Mama membuka tasnya, mengambil pulpen dan secarik kertas, menuliskan sesuatu, lalu memberikannya kepadaku. “Ini nomor HP Mama. Kapanpun kamu bisa nelpon Mama. Tapi hati-hati, jangan sampai ketahuan Papamu. Dia bisa marah besar.”
Aku menatap kertas tersebut.
“Mama tidak bisa lama-lama, Nak. Mama akan Medan hari ini juga. Maafkan Mama, Lexa. Maafkan Mama...”
Mama memelukku erat dan lama, tapi untuk membalas pelukannya pun aku tidak bisa.
Sepertinya Mama merasakan keanehanku. Masih memelukku, dia bertanya, “Lexa, kamu tidak mau ngomong sedikitpun ke Mama, Nak? Kamu benci Mama, Nak, sampai bicarapun tidak mau?” Mama menangis.
Aku meresponnya, hanya ingin memberitahu Mama bahwa aku tidak membencinya. “Mama jaga diri baik-baik, ya?”
Tangis Mama pecah. Beliu mencium pipiku. “Kamu dan Fay harus jaga diri baik-baik juga. Sekolah yang benar. Perhatikan Fay baik-baik. Dengar ya, Lexa, kalian harus jadi orang. Buat Mama bangga.” Mama membelai kepalaku lembut. Kemudian beliau menyeka air matanya. “Mama pergi sekarang ya, Nak? Jaga diri kalian baik-baik.”
Aku memberanikan diri melihat Mama pergi, semakin mendekati pintu gerbang sekolahku. Tiba-tiba kurasakan sesak di dadaku. Semakin jauh jarak pandangku dari Mama, semakin sesak dadaku.
Dan kemudian Mama menghilang dari pandanganku.
Aku berjalan memasuki kelas. Bel masuk baru saja berbunyi sehingga kelas sudah ramai kembali. Teman-teman terdekatku, yang sejak tadi menantikanku, juga ada di kelas, dan langsung berdiri mendekatiku.
“Gimana, Lex?” tanya Dinda, salah satu sahabatku.
“Lo gak apa-apa kan, Lex?” Dion, sahabatku yang lain, juga bertanya.
Aku terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan mereka, terus berjalan menuju bangku paling pojok kanan belakang kelasku. Bangku Dion. Aku duduk, lalu menunduk, menyandarkan kepalaku ke meja. Dan kemudian, bagai singa terluka parah,
aku menangis sejadi-jadinya...
***

Rabu, 30 Mei 2012

PRESENT - BAB DUA


             “Sudah pulang, Nak.”
            Aku baru saja pulang sekolah ketika Mama menyapaku sambil tersenyum lembut. Beberapa hari ini, sejak pertengkaran yang lalu, keadaan di rumah begitu tenang. Papa dan Mama pun udah saling berbicara, seolah-olah pertengkaran itu tidak pernah terjadi. Mungkin benar kata orang kalau di dalam rumah tangga, yang namanya bertengkar itu biasa. Hanya bumbu-bumbu dalam pernikahan.
            Aku meletakkan tasku di kamar, cepat-cepat berganti pakaian, lalu mencari makan di dapur.
         “Fay kemana, Ma?” tanyaku ketika melewati kamar Papa dan Mama. Mama terlihat begitu sibuk mengambil pakaian dari lemarinya.
         “Ke rumah Ririn, main.” Mama menyebutkan nama teman main Fay yang tinggal di sebelah rumah tanpa sedikitpun menoleh kepadaku.
           “Mama ngapain? Kok bongkar lemari?” tanyaku penasaran, sejenak melupakan niatku untuk makan. Bad feeling yang kemarin sempat hilang kini timbul lagi.
            “Oh iya. Mama belum sempat ngomong sama Lexa. Besok Mama harus ke Medan,”
          “Mau ngapain?” tanyaku cepat tanpa menyembunyikan suaraku yang menyiratkan kecemasan. Aku cemas Mama akan meninggalkan kami.
    Mama sepertinya menangkap kecemasan di suaraku, dan langsung menenangkanku. Beliau memberhentikan kesibukannya, kemudian menarikku lembut untuk duduk di tempat tidur. “Ya ampun, Nak. Kok takut begitu? Emangnya Mama mau kemana coba? Kamu ingat Tante Farida?”
            Aku menggeleng pelan, masih merasa cemas.
           “Tante Farida itu teman dekat Mama waktu SMA di Medan. Dulu waktu kamu masih, berapa tahun ya? Lupa juga Mama, dia datang ke Jakarta nemuin kita. Tante Farida dulu suka gendong kamu.” Mama mengusap kepalaku dan memainkan rambutku yang sepanjang bahu. “Nah, anaknya Tante Farida mau menikah minggu depan. Jadinya Mama kesana.” Sambungnya lagi.
            Mungkin aku jahat, tapi rasanya aku belum bisa memercayai yang Mama ucapkan. “Beneran nih?”
            “Iya, Nak. Buat apa Mama bohong.”
            “Sampai kapan?”
        “Paling lama dua minggu. Mama ingin melepas kangen dengan kampung halaman.” Jawab Mama sambil tersenyum.
            “Papa tau, Ma?”
         Mama terkekeh pelan. “Pasti dong. Sudah lama Papa tau rencana Mama kok. Pokoknya Lexa jangan mikir yang aneh-aneh, ya? Dan jangan lupa, jaga Fay.” Kemudian Mama melanjutkan berbenahnya. Beliau berjinjit mengambil koper dari atas lemari, kemudian memasukkan pakaian-pakaian yang sudah dipilihnya.
          Walaupun Mama sudah menjelaskan alasannya pergi ke Medan, dan bahkan sudah minta izin kepada Papa, entah kenapa hatiku tetap tidak tenang. Berusaha mengenyahkan perasaan yang jelek ini, aku meminta tolong sesuatu kepada Mama yang dulu, saat aku masih TK, sangat tidak suka kalau Mama udah melakukan ini.
         “Ma,” Panggilku ragu. Mama menoleh. “Besok tolong ikat kepang rambut Lexa ya?”
         Mama tersenyum lebar.

***
       Sesuai dengan kesepakatan, Mama akan mengepang rambutku pagi-pagi sekali, sebelum aku berangkat sekolah. Malamnya Mama tidur di kamarku dan Fay, memeluk Fay yang mendadak manja karena minta ikut ke Medan bersama Mama. Mama menolak permintaan Fay karena dia harus sekolah. “Eit, udah kelas 3 SD, gak boleh cengeng lagi.” Ucap Mama saat Fay mengeluarkan jurus terakhirnya, yaitu menangis, guna meluluhkan hati Mama. Tapi sayangnya gagal.
      Mama membangunkanku tepat jam 4 pagi. Beliau segera menyuruhku mandi dan melarangku mengeluarkan suara-suara berisik yang bisa membangunkan Fay.
        Mama sudah duduk di lantai kamar yang beliau alaskan dengan tikar. Aku segera memakai kaos rumah, lalu duduk persis membelakangi Mama.
           Mama menyisir rambutku lembut. Beliau selalu mengagumi rambutku yang tebal dan hitam, bersyukur karena sewaktuku kecil rajin sekali merawat rambutku.
           “Tumben minta dikepangi rambutmu, Lex?”
          “Gak tau, Ma. Lagi kepengen ngerubah gaya rambut aja.” Jawabku jujur. Aku yang tomboy ini sangat tidak peduli dengan gaya rambut dan pakaian. Rambutku dibelah tengah, padahal tren saat ini rambut berponi. Pakaianku pun, bisa dibilang seenak jidat. Yang penting make pakaian. Gitu aja kok repot.
      Mama terkekeh pelan. “Masih ingat waktu kamu TK? Mama hobi sekali otak-atik rambutmu. Dikepang, dikuncir kayak kuping kelinci, dikuncir kuda pakai ikat rambut yang lucu-lucu. Tapi kamu langsung marah, ngomel-ngomel protes gak suka. Sampai di sekolah udah dicopot lagi. Beda dengan Fay yang suka sekali Mama kucir rambutnya. Bibit tomboy-mu itu udah kelihatan dari kecil. Sekarang makin parah karena kamu gila bola kayak Papamu.”
         Aku tertawa pelan mendengar omongan terakhir Mama. Sampai sekarang Mama masih sulit menerima kalau anaknya yang tertua ini jauh lebih doyan nonton bola dan bela-belain begadang daripada jalan-jalan ke mall, dibeliin baju-baju khas cewek seumuranku. 
         “Lexa, kamu kan udah kelas 2 SMP. Kamu harus semakin mandiri, ya. Jaga terus Fay, jangan suka dimarahin. Kamu ini galak banget sama adikmu. Kasihan dia, Lex, masih kecil loh.”
         “Kalau dia gak bisa dibilangin, yah wajar diomelin.” Jawabku defensif, gak mau mengakui kalau aku galak sama Fay.
        “Tapi yang namanya kakak kan harus ngejagain adiknya. Pokoknya jangan galak-galak sama Fay. Jaga ya, Nak?”
***
       Aku pergi ke sekolah dengan lesu, mengingat aku tidak bisa mengantar Mama ke bandara. Penerbangan Mama jam 1 siang, sementara aku dilarang Mama untuk minta izin pulang cepat dari sekolah.
         Tiba di sekolah, aku disambut dengan komentar positif oleh teman-temanku. Aku memang bisa dibilang terkenal seantero sekolah karena prestasi akademikku (si juara kelas bahasa lainnya) dan juga kedekatanku dengan teman-teman tanpa pandang bulu, bahkan teman-teman cowok yang paling bandel sekalipun.
            Sebenarnya ada satu hal lagi, yang sebenarnya enggan aku sebutkan. Tapi emang kenyataan loh. Banyak yang bilang (bukan pendapatku) kalau aku memiliki wajah yang manis dan tubuh yang tinggi. Dan walaupun badanku berisi (kalau tidak mau dibilang gemuk), itu tidak mengurangi kadar kemanisanku (sekali lagi kutegaskan, bukan pendapatku). Hal ini bikin banyak yang naksir aku, tapi gak aku tanggepin. Gak ada di pikiranku aku punya pacar masih SMP begini.
            Setibanya di kelas, aku langsung dikerumuni teman-teman sekelasku yang udah datang. Kulirik jam tangan bermotif Juventus, klub sepakbola favoritku dari Italia. Masih jam setengah 7 kurang.
            “Hey, tumben dikepang?” Dicky, cowok terbandel di sekolah yang gak segan-segan godain cewek tapi gak pernah sekalipun berani menggodaku (dan juga paling dekat denganku), menarik pelan kepanganku. Aku membalasnya dengan cubitan keras di lengannya yang langsung disambut dengan, “Aduh!”
            “Sukur. Lagi pengen dikepang aja. Emang gak boleh?” Seruku ketus.
            “Boleh. Kan cuma nanya. Galak bener.”
        Teman sebangkuku, Melly, ikut-ikutan menimpali. “Tapi bener tuh kata Dicky, Lex. Tumben lo dikepang gitu?  Ada momen apaan?”
            “Gak ada apa-apa kok. Beneran. Cuma pengen dikepang aja. Sekalian bikin kerjaan buat nyokap sebelum cabut ke Medan.” Jawabku sambil terkekeh sejenak.
            “Nyokap lo ngapain ke Medan?” tanya Melly lagi.
            “Ada anak temen Mama nikah.” Jawabku singkat.
            Hening sejenak, kemudian dipecahkan dengan suara Dicky. “Rambut lo tebel juga, ya? Kepangan lo jadi mirip kalajengking raksasa gitu.” Serunya sambil menarik kepanganku lagi dan kemudian ngacir. Kutimpuk dia pake sepatuku. Beruntung dia karena lemparanku meleset, nyaris mengenai kepalanya.
            “Kebanyakan nonton film lo. Emang ada kalajengking raksasa?!!”
***
            “Mama kapan pulang ya, Kak?”
     Fay berdiri di belakangku, bersandar di dinding dekat rak piring. Sedari tadi dia memang memerhatikanku memasak nasi goreng. Entah benar-benar memerhatikanku memasak atau justru berkutat dengan lamunannya sendiri. Melamunkan mama.
            Kangen dengan mama.
            Sudah lewat 2 minggu (17 hari tepatnya) Mama pergi ke Medan, dan sejak itu pula tidak sekalipun kabar darinya datang. Mama tidak pernah menelepon, membuatku agak panik. Takut sekali terjadi sesuatu dengan Mama disana. Pernah sekali aku bertanya kepada papa namun beliau hanya menjawab tidak tau dengan ketusnya.
            Aku mematikan kompor, kemudian berbalik ke arah Fay. “Gak tau, Dek. Coba lo tanya papa.”
            Fay menggeleng, “Gak ahh. Takut.”
           “Papa sama elo mana mau marah. Tanya aja.” Fay tetap menggeleng. Dia mengambil piring kemudian menuangkan sendiri nasi goreng ke piringnya, kemudian pergi makan di kamar.
            Sekitar jam tujuh malam, Papa pulang. Dia mengambil segelas air putih, lalu meminumnya. Kemudian dia pergi ke kamar. Kurasa dia ingin mandi. Beberapa lama kemudian, Papa keluar kamar, kemudian duduk sambil menonton TV.
            Nanya, engga, nanya, engga....
            Aku menarik napas dalam-dalam, meyakinkan diriku sendiri untuk bertanya ke Papa tentang Mama.
            Aku berjalan mendekati Papa. “Pa,”
            Dia bergumam, tanpa menoleh kepadaku.
            “Lexa boleh nanya ga, Pa?”
            Raut wajahnya langsung berubah. Dia menoleh galak. “Kalau kau mau bertanya tentang Mama mu, dengar ini baik-baik. Mama mu tidak akan pernah kembali! Dia udah lari sama laki-laki lain, yang lebih muda dari saya! Ngerti kau?! Jadi jangan pernah kau tanya-tanya lagi ke saya tentang Mama-mu!”
        BRAK..!! Papa keluar rumah dengan membanting pintu. Aku hanya bisa pergi ke kamar sambil menahan tangis. Tidak ingin sedikitpun mempercayai perkataannya.
         Hari terasa cepat berganti hari, menyadarkanku satu hal. Papa benar. Bukan mengenai kepergian Mama dengan pria lain. Aku tidak percaya itu. Tapi Papa memang benar satu hal,
            Mama tidak akan pulang lagi.