Senin, 11 Juni 2012

PRESENT - EMPAT


Well, the fact is I’m not as strong as I thought.
Aku baru saja masuk ke kelasku yang masih kosong. Kepagian. Duduk, kupandangi seisi kelasku yang baru dua bulan kutempati ini. Karena belum ada yang datang, dinginnya AC kelasku begitu terasa. Kalau penuh sih jangan harap. Yang ada aku pasti ambil buku yang tipis, lalu mengipas-ngipas mencari udara segar. Kepanasan.
Kuambil buku tugas matematika-ku. Ya memang, sengaja aku datang cepat karena PR-ku belum selesai. Aku menghela napas panjang. Mau dibaca berkali-kali materi logaritma ini, tetap aku gak mampu jawab soal-soalnya yang cuma sebanyak 5 soal.
Aku mendengus keras, frustasi. Kuputuskan untuk mengerjakan sebisaku saja. Hasil akhir? Bodo amat! At least I do it by myself.
Semangat belajarku memang turun drastis sejak Mama pergi. Sulit sekali bagiku untuk menyemangati diri untuk fokus ke pelajaran di sekolah. Setahun berlalu setelah Mama pergi pun aku masih belum mampu kembali ke diriku yang dulu, Alexa si ranking satu.
Efek menurunnya semangat belajar ini sudah terlihat beberapa bulan yang lalu ketika aku lulus SMP dengan nilai paspasan. Saat itu Papa memarahiku, meluapkan rasa kecewanya yang hanya mampu kubalas dengan tundukkan kepala, tidak berani menatapnya.
Masuk SMA aku dihadapkan pada kenyataan bahwa teman-teman baruku begitu berbeda dengan teman-teman SMP. Aroma persaingan untuk menjadi yang terbaik begitu terasa di kelas ini. Bahkan untuk bertanya hal yang tidak kumengerti aja tak seorangpun yang mau menjelaskan. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Yang pintar berteman dengan yang pintar lainnya. Yang sadar kurang pintar biasanya hanya mampu mengerubuni para murid pintar saat berdiskusi, ikutan curi dengar, berharap kecipratan sedikit ilmu mereka.
Konyolnya, aku yang sekarang masuk kategori nomor dua, untuk mencuri dengar saja tidak bisa kulakukan. Sudah turun semangat belajar ditambah lagi dengan hilangnya kemampuan bersosialisasi. Kebodohan yang sempurna.
Baru kusadari kalo kelas udah ramai. Dan otak sialku ini juga belum mampu menyelesaikan soal-soal matematika ini. Kututup buka, merutuk kesal di dalam hati. Bodo amat, dikumpul sejadinya aja.
Bel masuk berbunyi. Bu Diana, guru matematika yang selalu on-time, memasuki kelas. Ibu ini masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda. Wajahnya memancarkan ketegasan. Dibilang guru killer sih tidak juga karena beliau begitu akrab dengan murid-muridnya, namun memang terkenal “sadis” dalam mengajar, misalnya suka memberi banyak tugas dan tidak segan-segan menghukum murid yang ketahuan nyontek saat ujian. Sudah terkenal seantero sekolah kalau dua tahun yang lalu, ada murid yang nekad buat contekan matematika. Ketika dia tertangkap basah oleh Bu Diana, beliau tidak segan-segan merobek kertas ulangannya dan kemudian menggagalkan ujian murid tersebut. Walhasil, murid itu tinggal kelas dan akhirnya memilih untuk pindah sekolah. Sejak saat itu, tidak ada yang berani, walaupun hanya berpikir, untuk nyontek.
“Pagi, class! How are you?” serunya tersenyum lebar.
“Baik buuuu...” kelasku begitu riuh tertawa, membalas sapaannya.
“Oke. Sebelum ibu cek PR kalian, Ibu mau membagikan hasil ulangan harian minggu lalu. Bagus-bagus nilai kalian, senang saya. Terutama yang namanya... hmmm...” Bu Diana terlihat sibuk dengan lembaran kertas jawaban kami. “Oh iya, terutama si Mya Alexa Siagian. Yang mana anaknya?”
Aku terperanjat dari kursiku, tidak percaya namaku disebut. Aku mengangkat tanganku. “Saya, Bu.”
“Oh kamu. Maju ke depan.”
Teman-teman sekelas kompak menyerukan “Cieeeee...” saat aku melangkah mendekati meja guru. Aku membalas mereka dengan raut wajah datar karena masih tidak percaya mengingat... yah mengingat...
“Hebat kamu ya, Mya,” senyum Bu Diana masih terpampang di wajahnya, namun terasa agak sinis menurutku. “Kalian tahu kenapa saya bilang Mya hebat? Karena dari 10 soal yang saya kasih, dia bisa dapat nilah setengah. Bukan setengah dari 10 yaitu 5, tapi setengah. Nol koma lima!”
Kelas hening seketika. Aku merasakan wajahku pucat. Aku menunduk, tidak berani menatap wajahnya.
“Hei Mya, lihat saya.” Aku menatapnya, setengah menunduk. “Kamu ngapain aja di rumah? Asal kamu tahu, ya, rapat guru dan orangtua seminggu sebelum ulangan harian yang lalu, Papa kamu luar biasa memuji-muji kamu. Anak saya cantik dan pintar. Papa kamu malah menyarankan kami para guru untuk menaikkan standar nilai di sekolah ini supaya murid-murid bisa terpacu belajarnya. Eh, standar nilai tidak dinaikkan saja anaknya gagal begini, bagaimana jika kami naikkan? Cantik iya, tapi kalau tidak berotak apa gunanya.”
Bu Diana berkata pada intonasi yang biasa saja, tapi itu sudah lebih dari cukup menusuk. Aku sangat malu. Tidak pernah aku tau kalo rapat guru dan orangtua yang lalu Papa berbicara seperti itu.
Dua jam durasi pelajaran matematika ini dihabiskan Bu Diana untuk mengomentari rapat yang lalu, menyindirku habis-habisan di depan kelas walaupun terkadang dia juga menimpali dengan lelucon khasnya. Namun itu tetap tidak merubah keadaan kalo aku sangat malu.
Selesai pelajaran matematika, aku sadar penilaian teman-teman sekelasku tentang aku menjadi buruk, atau mungkin semakin buruk. Ya Tuhan...
Jam istirahat tiba, aku langsung pergi ke kantin. Setelah makan, aku membeli beberapa cemilan untuk dimakan di dalam kelas saat pelajaran biologi nanti. Aku tau, makan di kelas bisa kena hukuman. Tapi aku gak peduli. Makanan adalah obat stresku. Kalo udah pusing seperti ini, aku melampiaskan dengan mengemil. Sudah lebih dari setahun kulakukan, dan terbukti aku mampu mengatasi stres tersebut walopun efek sampingnya adalah berat badanku naik drastis.
Bu Tari, guru biologi, masuk ke kelas ketika aku masih sibuk dengan cemilanku, bahkan masih ada sisa setengah. Buru-buru kumasukkan ke laci meja karena masih berniat memakannya, tanpa sepengetahuan Bu Tari pastinya.
Bu Tari sedang menjelaskan sel-sel pada tumbuhan. Aku mendengarkan penjelasannya, menulis sambil sesekali mengambil keripik singkong dari laci meja dan memakannya perlahan.
“Kamu, yang di belakang sana!”
Jantungku berdetak cepat. Kuangkat kepalaku, menoleh ke arahnya. Benar, Bu Tari sedang mengarahkan telunjuknya padaku dari depan kelas.
“Bawa makanan kamu segera ke depan dan letakkan di meja saya!”
Kurasakan keringat dingin muncul di telapak tanganku saat aku mengambil bungkusan cemilan dari laci meja. perlahan aku bangkit dari kursi, berjalan ke depan kelas dan meletakkan cemilanku tersebut sesuai perintahnya. Aku berdiri mematung di depan kelas (lagi).
“Kamu kira saya tidak melihat apa yang murid-murid saya lakukan? Kamu kira saya tidak melihat apa yang KAMU lakukan? Baru masuk dua bulan kok udah betingkah. Seharusnya kamu saya laporkan ke BP, tapi kali ini saya maafkan. Sekali lagi kamu berani makan saat pelajaran saya, saya akan laporkan kamu ke BP atau saya sendiri yang melarang kamu masuk di kelas saya. Mengerti??!”
Aku hanya bisa mengangguk perlahan.
“Sudah, kembali ke tempat duduk. Heran, baru selesai istirahat masih juga berani mengunyah di kelas.”
Aku mengambil buku biologi kemudian menundukkan kepala. Bukan untuk serius membaca tentang sel-sel pada tumbuhan tersebut, melainkan berusaha untuk tidak menangis.
***
Tidak ada seorangpun di rumah ketika aku pulang. Ada pesan ditulis di kertas diletakkan di atas meja di ruang tamu. Tulisan Fay yang bilang bahwa dia sedang bermain di rumah sepupuku, Agatha. Adik Agatha, Sachi, seumuran dengan Fay sehingga Fay senang bermain di rumah mereka sejak perginya Mama.
Aku terduduk di tempat tidurku. Pikiranku sibuk dengan nilai matematika yang nol-koma-lima itu, sindiran-sindiran sampai segala omelan yang kuterima tadi. Gosh, sekalipun aku tidak pernah dapat nilai seburuk itu. Bahkan sekalipun aku tidak pernah ditegur guru sebelumnya. Selama ini aku adalah murid kesayangan guru-guru. Dan hari ini aku malah bermasalah dengan dua guru sekaligus.
Kuhapus air mata yang sudah bercucuran, lalu pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba teringat bahwa hari ini harus mencuci dan masak untuk makan malam. Kepalaku berdenyut tidak karuan. Aku berlari kembali ke kamar, mengambil bantal, membantingnya. Lagi dan lagi.
Aku menangis histeris. “Tuhan, aku gak sanggup. Ya Tuhaaannn... aku enggak sanggup! Kenapa harus aku, Tuhan? KENAPA HARUS AKU??!”
Tempat tidur sudah sangat berantakan, namun aku tidak peduli. Aku terduduk di lantai ketika akhirnya merasa lelah untuk membanting. “Tuhan, aku harus gimana? Aku udah capek, Tuhan. Gak mau lagiiii... udah enggak sanggup...”
Aku tesentak diam, bangkit dan berjalan sempoyongan ke dapur. Ragu-ragu, kuambil pisau.
Aku hanya mengingat darah mengucur dari pergelangan tanganku sebelum semua menjadi gelap.
***

Jumat, 08 Juni 2012

Tempat Hangout Favorit


Memikirkan tempat hangout favorit itu cukup mudah buat gue, bukan karena gue doyan nongkrong, ngabisin waktu gak jelas, tapi memang gue punya alasan yang bagus untuk hangout.
Ada beberapa tempat yang menjadi favorit gue. Let me explain one by one.
Toko Buku
Setiap saldo rekening gue nambah, hal pertama yang langsung gue lakukan adalah ke toko buku, saking tergila-gilanya dengan membaca. Gue bahkan menyiapkan budget perbulannya demi mendukung hobi gue ini. Padahal waktu masih kuliah, gue jarang beli buku (yang mayoritas adalah novel). Kebetulan di deket kampus gue, Universitas Sumatera Utara, ada tempat peminjaman buku. Gue cukup jadi member di sana, dan bisa baca puas. Tapi semenjak gue bekerja dan udah bisa menghasilkan sendiri, ditambah lagi gue tidak menemukan tempat peminjaman buku, walhasil jadi beli terus. Rentang waktu keberadaan gue di toko buku bisa sampai satu jam-an. Kalau memang gue pengennya cepet, gue udah nyari-nyari info di internet tentang novel terbaru. Tapi, kalau memang pengen menghibur diri, ya gue akan berlama-lama di sana.
Coffee Shop
As I said, gue penggila kopi. Hampir setiap hari gue pasti minum kopi, apa itu sekedar kopi sachet atau beli langsung jadi. Pas gue di Medan, ada coffee shop yang jadi favorit gue, namanya Balls Coffee. Kebetulan, tempat ini juga homebase nonbar Indomanutd Medan saat itu. Asli, kopinya enak banget dan harganya relatif murah, dari yang termurah Rp. 15.000,- sampai yang termahal, kalau gak salah Rp. 75.000,-. Yang paling mahal ini double espresso, yang cuma secangkir kecil aja tapi strong banget.
Kopi favorit gue adalah latte, karena gue lebih suka ada rasa pahitnya ketimbang terlalu manis. Dan Balls Coffee benar-benar sangat memanjakan gue dengan latte-nya. I can even guarantee you that their coffee is much better than Starbucks! Sayang, karena ada permasalahan internal, coffee shop itu tutup :(
Kalau sekarang sih gue ga punya coffee shop favorit, yah palingan sekedar nongkrong di Starbucks, Dante, atau bahkan ke 711 demi ngopi sambil menulis, kalau emang lagi sumpek nulis di kostan dan butuh suasana baru.
Summarecon Mal Serpong


Ini tempat favorit gue belakangan ini, padahal lokasinya lumayan jauh dari kost gue di Slipi. Gue kesini juga jarang, pastinya sama temen-temen kantor yang lama berhubung ada transportasi gratis kesana, hihihi..
Gue bukan mau nge-mal atau belanja, tapi murni, nongkrong. Semenjak gue sekarang bekerja di rumah, yang namanya nongkrong itu hiburan mutlak. Enam hari cuma berada di kamar yang luasnya 3m x 3m, dengan 8 jam perhari menghabiskan waktu di depan lappie, nulis artikel, lalu sisanya tidur-tiduran, jelas bikin otak sumpek. Dan, pergi kesini, langsung fresh.
Di sini modelnya mirip Kemang, yaitu banyak tempat makan di area terbuka. Di beberapa bagian, di isi panggung untuk para band bermain. Tapi band nya cuma ada di malam minggu. Jadilah gue gak pernah pergi di hari lain kecuali Sabtu malam.
Kenapa gue rela jauh-jauh kemari? Karena ada band indie yang bikin gue jatuh cinta sama permainan musiknya. Asli keren banget. Mereka manggung setiap jam 9 malam, dan gue sama temen-temen udah mastiin nyampe di tempat itu sebelum jam tujuh. Karena tempat-tempat makan yang berdekatan dengan panggung band itu udah pada heboh di-booking. Ternyata bukan kami doang yang nge-fans sama mereka.
Kalau ada yang penasaran sama band-nya, bisa datang kesana dan cari panggung yang di sekitarnya adalah tempat makan seperti: Solaria, Pizza Hut, Dante, dan lain-lain. Tapi gue biasa di Dante-nya, karena bukan cuma buat ngopi, tempatnya langsung mengarah ke depan panggung. Walau terkadang gak guna juga, karena kalau band itu udah maen, penonton pada berebut mendekati panggung dan nutupin penonton yang dapat tempat duduk.
View-nya juga bagus. Untuk orang gila foto kayak gue, pasti udah heboh nyari spot yang bagus buat moto. Hehehehe…
Sepertinya hanya ini aja dan memang tidak ada tempat yang benar-benar spesifik. Karena gue baru kepengen nongkrong kalau lagi sumpek nulis di kost.

Senin, 04 Juni 2012

PRESENT - TIGA

 “Hey, Lexa. Lo mau langsung pulang? Jalan bentar yuk?”
“Tau nih Lexa. Buru-buru amat. Jarang-jarang loh kita dipulangin cepat begini.”
Aku berpikir sejenak, kemudian mengangguk, tersenyum lebar kepada mereka. Sekolah memulangkan kami lebih cepat daripada biasanya karena guru-guru akan mengadakan rapat untuk membuat soal-soal tryout UAN untuk kelas 3. Yang berarti soal-soal untuk aku juga.
Ya. Aku sudah duduk di kelas 3 sekarang. Bertambah aja deh beban pikiran ini, karena aku kudu, wajib lulus SMP.
Hehehe... Terkesan aku begitu serius banget menghadapi hari-hari terakhirku sebagai anak berseragam putih-biru. Tidak kok. Aku justru menjalaninya dengan santai. Seperti saat ini, aku justru pergi jalan-jalan ke pasar tradisional dengan beberapa teman sekelasku. Padahal UAN tinggal tiga bulan lagi loh.
Hmm.. tidak juga sih. Aku berbohong sedikit. Aku tidak benar-benar menjalani ini dengan santai. Tapi aku mencoba membuat diriku santai menjalani kehidupanku sekarang. Ketiadaan Mama sejak berbulan-bulan yang lalu begitu mempengaruhiku. Bagaimanapun juga aku harus menggantikan pekerjaannya selama masih bersama kami: memasak, belanja bulanan, dan lain-lain. Bahkan aku juga yang harus menggantikannya mengambil raport adikku.
Tapi satu hal yang sedikitpun tidak bisa kulakukan adalah menggantikannya untuk memberikan kasih sayang buat Fay. Untuk sekedar bertanya, “Bagaimana sekolahmu hari ini?” itu saja sulit sekali, karena aku sendiri pusing dengan hari-hari ku di sekolah. Bahkan terkadang kalau Fay meminta bantuanku tentang PR-nya, aku malah bersikap ketus dan menyuruhkannya mengerjakan sendiri.
Mungkin aku bukan kakak yang baik. Aku pasti bukan kakak yang baik. Tapi aku tetap berharap adikku bisa tumbuh dengan normal.
Dan aku masih berharap Mama pulang. Aku sendiri sangat membutuhkan sosoknya dalam hidupku. Bayangkan ketika aku mendapatkan untuk pertama kalinya anugerah sebagai seorang keturunan Hawa, aku syok sendiri. Bingung bertanya kepada siapa bagaimana memasang pembalut.
Oke. Bukan bermaksud menyederhanakan peran Mama dalam hidupku. Aku hanya memberi contoh sederhana saja. Aku benar-benar kosong tanpa dirinya. Selalu ingin menangis ketika melihat ibu-ibu menggandeng anaknya di Mall, tertawa bersama-sama.

Tuhan, kapan aku bisa merasakan itu lagi...
***
“Lexa, soal nomor ini gimana sih caranya?”
Melly, teman sebangkuku, menyodorkan buku cetak matematika sambil duduk lebih rapat ke arahku. Aku membacanya sejenak, kemudian menyoret-nyoret jawabannya di selembar kertas kosong yang diberikan Melly.
UAN sebentar lagi, tepatnya bulan depan. Teman-teman sekelasku terlihat semakin hari semakin tambah paniknya. Apalagi ketika nilai-nilai tryout keluar. Baik yang puas maupun yang tidak puas dengan nila-nilai tersebut, semakin terpacu buat belajar dan bertanya kepada temannya yang lebih pintar. Misalnya aku, si ranking 1.
Bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Beberapa dari teman sekelasku langsung berhamburan ke kantin. Sisanya, termasuk aku, sibuk mengambil bekal dari tas masing-masing, kemudian menggeserkan meja-meja supaya bisa makan sama-sama. Kami berdelapan sebelumnya sudah berjanji membawa makanan dari rumah, menyadari bahwa ingin menghabiskan waktu yang tinggal sedikit lagi bersama-sama.
“Weiiitsss... Lexa bawa nugget dan sosis. Nyomot dong..” seru Dicky antusias, namun tangannya yang hendak mengambil sosis ditepis langsung dari Melly.
“Elo emang yak, suka banget nyomot. Noh makan sendiri punya lo. Dasar!” Melly berseru galak. Aku hanya terkekeh pelan. Mereka semua tau keadaan keluargaku, dan sangat memahami posisiku di rumah seperti apa.
Makananku baru habis setengah ketika Dion, salah seorang teman sekelasku, memanggilku dari pintu kelas. “Lexaaaa.... ada yang nyari.”
“Siapa, Yon?”
“Nyokap lo.”
Hanya sedetik aku termenung di tempat, kemudian aku langsung berlari keluar kelas, diikuti teman-temanku lainnya. Persis di luar kelas, aku lihat sosok yang hampir setahun ini kurindukan. Sosok yang selalu kuharapkan muncul di depanku setiap harinya. Dan kali ini dia benar-benar muncul. Tersenyum. Air matanya terlihat menggenangi sudut matanya.
“Lexa...”
Dadaku begitu sesak saat menggumamkan pelan, “Ma...”
***
Mama dan aku duduk di bangku dekat lapangan basket sekolah. Walaupun matahari agak terik, tapi ada pohon rindang, sehingga panas matahari tidak langsung ke arah kami.
Tadi Mama akhirnya meneteskan air matanya. Tanganku tak henti-hentinya digenggam. Terlihat bagaimana Mama begitu mencurahkan rasa rindunya kepadaku.
“Bagaimana keadaanmu, Nak?”
“Baik, Ma. Mama sendiri gimana?”
“Sehat. Mama sehat.”
Kemudian berbagai pertanyaan pun tergelontar cepat dari mulutku, tanpa sedikitpun aku bisa memberhentikan. Aku senang Mama ternyata pulang. “Mama kapan nyampe? Kok gak ada berita dari Mama? Mama sakit disana? Atau ada apa gitu jadi Mama gak bisa nelpon? Mama udah ke rumah kan? Oh iya ya, kunci rumah kan sama Lexa dan Fay. Mama gak bisa masuk ya? Ya udah kita pulang sekarang aja. Nanti Lexa minta izin sama guru. Oh iya Papa. Papa udah tau Mama mau pulang, kan? Belakangan agak galak sih Papa, tapi Lexa rasa nanti..”
Mama menyelaku. “Ssstt... Lexa.. jangan begitu. Maafkan Mama, Nak..” tanganku dicium sekilas, semakin erat dipegang.
Aku menggeleng. “Kok Mama minta maaf? Mama gak salah apa-apa kok. Pasti ada alasan kenapa Mama baru pulang sekarang. Lexa gak peduli, yang penting Mama pulang. Yuk, ke rumah, Ma. Lexa pamitan dulu sama guru Lexa.”
Aku hendak beranjak dari bangku, namun Mama menarik tanganku yang masih digenggamnya. “Duduk dulu, Lexa. Ada yang Mama harus bicarakan.”
Aku tidak suka perasaanku sekarang karena mendengar ucapan Mama, serta melihat ekspresinya yang masih sendu. “Ada apa, Ma? Mama kok kayaknya...” tidak ingin pulang. Bahkan aku tidak mau melanjutkan perkataan. Aku benci pikiranku sekarang.
Mama mengusap air mata di pipinya. “Lexa, Mama mau bicara sesuatu. Mama mohon maaf sama kamu, Lex. Jangan benci Mama ya. Tolong jangan benci Mama. Mama... Mama...”
Mataku menyipit. “Langsung aja, Ma.”
Air mata Mama berjatuhan, tidak mampu lagi ditahannya. “Mama gak bisa pulang, Lex. Mama... udah bercerai dengan Papamu.”
Aku menunduk. Aku bingung harus mengatakan apa tentang perasaanku saat ini. Bagaikan petir di siang bolong? Hatiku bagai tertusuk pisau? Iya, aku kaget. Tapi aku sangat tidak bisa menggambarkan apa yang kurasakan sekarang.
Mati rasa. Kosong.
Bahkan aku tidak bisa menangis, seperti yang sering kulakukan di malam-malam setelah kepergian Mama.
“Mama terpaksa harus meninggalkan kamu dan Fay, Nak. Kalian harus tinggal dengan Papamu.”
Apa aku mendadak bisu, sehingga tidak bisa merespon, atau setidaknya berteriak?
“Lexa, lihat Mama, Nak. Lihat Mama, tolong...”
Mama mendongakan kepalaku. Kulihat matanya yang merah, penuh dengan air mata. “Dengar, Lexa. Jangan pernah kamu mengira Mama meninggalkan kalian. Mama ingin sekali membawa kalian bersama, melihat kalian tumbuh, membesarkan kalian. Tapi keadaan Mama sekarang secara ekonomi tidak bisa, Nak. Kalau Mama memikirkan ego Mama sendiri, kalian bisa makan apa nanti? Bagaimana cara Mama menyekolahkan kalian? Mama tidak berani mengambil resiko itu, Lexa. Mama tidak ingin kalian hancur karena Mama.”
“Tapi, Mama janji, suatu hari nanti kalian akan tinggal sama Mama. Untuk beberapa tahun nanti, Mama akan berusaha bekerja semampu yang Mama bisa. Demi kalian. Jadi, jangan pernah beranggapan Mama meninggalkan kamu dan Fay, ya?”
Aku mengangguk singkat.
“Mama tahu sifat Papamu. Dia sangat pendendam. Dia jelas mengatakan Mama tidak bisa bertemu dengan kalian. Jadi, maaf, Nak. Untuk sementara, kita tidak bisa bertemu.” Mama membuka tasnya, mengambil pulpen dan secarik kertas, menuliskan sesuatu, lalu memberikannya kepadaku. “Ini nomor HP Mama. Kapanpun kamu bisa nelpon Mama. Tapi hati-hati, jangan sampai ketahuan Papamu. Dia bisa marah besar.”
Aku menatap kertas tersebut.
“Mama tidak bisa lama-lama, Nak. Mama akan Medan hari ini juga. Maafkan Mama, Lexa. Maafkan Mama...”
Mama memelukku erat dan lama, tapi untuk membalas pelukannya pun aku tidak bisa.
Sepertinya Mama merasakan keanehanku. Masih memelukku, dia bertanya, “Lexa, kamu tidak mau ngomong sedikitpun ke Mama, Nak? Kamu benci Mama, Nak, sampai bicarapun tidak mau?” Mama menangis.
Aku meresponnya, hanya ingin memberitahu Mama bahwa aku tidak membencinya. “Mama jaga diri baik-baik, ya?”
Tangis Mama pecah. Beliu mencium pipiku. “Kamu dan Fay harus jaga diri baik-baik juga. Sekolah yang benar. Perhatikan Fay baik-baik. Dengar ya, Lexa, kalian harus jadi orang. Buat Mama bangga.” Mama membelai kepalaku lembut. Kemudian beliau menyeka air matanya. “Mama pergi sekarang ya, Nak? Jaga diri kalian baik-baik.”
Aku memberanikan diri melihat Mama pergi, semakin mendekati pintu gerbang sekolahku. Tiba-tiba kurasakan sesak di dadaku. Semakin jauh jarak pandangku dari Mama, semakin sesak dadaku.
Dan kemudian Mama menghilang dari pandanganku.
Aku berjalan memasuki kelas. Bel masuk baru saja berbunyi sehingga kelas sudah ramai kembali. Teman-teman terdekatku, yang sejak tadi menantikanku, juga ada di kelas, dan langsung berdiri mendekatiku.
“Gimana, Lex?” tanya Dinda, salah satu sahabatku.
“Lo gak apa-apa kan, Lex?” Dion, sahabatku yang lain, juga bertanya.
Aku terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan mereka, terus berjalan menuju bangku paling pojok kanan belakang kelasku. Bangku Dion. Aku duduk, lalu menunduk, menyandarkan kepalaku ke meja. Dan kemudian, bagai singa terluka parah,
aku menangis sejadi-jadinya...
***

Jumat, 01 Juni 2012

REVIEW: SPRING IN LONDON – ILANA TAN


#ngeblogramerame #11

Penggemar novel, terutama yang suka genre romance, udah pasti kenal dengan sosok Ilana Tan. Setidaknya tau judul-judul bukunya.
Saya sendiri termasuk baru jadi fans Ilana Tan, karena tahun inilah saya mulai membaca karya-karyanya. Berhubung saya sendiri baru menyukai genre mainstream romance, yaitu percintaan dewasa, baru tahun 2011. Sebelumnya masih menggilai membaca novel teenlit, alias cinta-cintaan ala remaja.
Mainstream romance sendiri kalau di penerbit Gramedia itu disebut dengan nama metropop. Maka sekarang, saya tertarik mengulas novel metropop karangan Ilana Tan.
Spring in London adalah novel terakhir dari serial musim Ilana Tan. Seri yang pertama berjudul Winter in Tokyo, kedua Autumn in Paris, dan ketiga Summer in Seoul. Bukan cerita bersambung, tapi tiap tokoh di novel masing-masing saling memiliki keterikatan sendiri. Silakan baca sesuai urutan, tapi kalau random juga tidak apa-apa. Karena saya sendiri bacanya random. Hihihi…
Spring in London ini terbit di bulan Februari 2010. Berkisah tentang seorang model video klip keturunan Korea bernama Jo In-Ho atau Danny Jo yang sedang syuting video musik di London. Danny Jo bertemu dengan rekannya yang sama-sama menjadi model video musik itu, Naomi Ishida, wanita cantik keturunan Jepang-Indonesia. Danny Jo penasaran kenapa cewek itu tidak suka berada di dekat dia, terkesan ketakutan, padahal dia baru pertama kali ketemu si cewek dan dia juga cowok yang baik.
Selama proses pembuat video itu, Danny Jo berusaha mendekatkan diri ke Naomi, misalnya mengajak jalan Naomi ketika break syuting di sekitar lokasi di London tersebut. Perlahan-lahan, Naomi-pun menerima pertemanan yang ditawarkan Danny.
Yang Danny tidak tahu, dirinya lah satu-satunya teman pria yang dia punya. Oke, sebenarnya masih ada Chris, teman satu flatnya, tapi dia gay. Jadi Naomi tidak merasa perlu takut kepada Chris.
Kenapa Naomi sempat takut kepada Danny? Kenapa pulak Naomi tidak pernah merasa nyaman kalau dekat kaum pria? Well, you have to find out by reading that novel. Hehehe…
Jadi, apa spesialnya novel ini bagi saya? Apakah ceritanya? Tidak juga. Kebetulan, kisah di Spring in London itu udah beberapa kali saya baca di novel lain. Tapi kenapa saya masih mau baca dan tertarik? Pertama, agak subjektif, saya sangat menyukai cerita yang karakter utama pria dan wanitanya sama-sama kuat. Bukan berarti sempurna. Saya juga pastinya mengharapkan ada sisi lemah dari para tokoh utamanya, tapi bagaimana sang penulis bisa membuat sisi lemah dari sang tokoh menjadi kekuatan dari cerita tersebut. Inilah yang saya temukan di Spring in London.
Naomi disini memiliki sisi lemah, dia memiliki ketakutan. Tapi Ilana Tan membuat Naomi tetap berjuang melawan ketakutannya tersebut demi kebahagiaan dia sendiri. That’s what I love.
Yang kedua, cara Ilana Tan membawa para pembaca hanyut pada ceritanya. Meski predictable, tapi saya mendapati diri saya tidak bosan membaca dan terus melanjutkan hingga selesai. Padahal saya sering membaca buku dengan dilompati ke halaman berikutnya atau bahkan berhenti begitu saja karena cerita yang dibawakan membuat saya bosan.
Kekuatan Ilana Tan memang di caranya membawakan cerita tetap mengalir enak. Setidaknya itulah yang saya sadari setelah membaca karya-karyanya.
Apalagi yang menarik dari Spring in London? Pastinya nilai moral. Ilana Tan berusaha memberitahukan ke pembacanya bahwa setiap orang, apapun masa lalunya, berhak untuk bahagia. Sekarang bagaimana orang tersebut ingin mengambil kesempatannya untuk bahagia atau membuangnya begitu saja.
Bagi saya, buku ini bernilai 3 bintang dari 4. Recommended… :)