Jumat, 08 Juni 2012

Tempat Hangout Favorit


Memikirkan tempat hangout favorit itu cukup mudah buat gue, bukan karena gue doyan nongkrong, ngabisin waktu gak jelas, tapi memang gue punya alasan yang bagus untuk hangout.
Ada beberapa tempat yang menjadi favorit gue. Let me explain one by one.
Toko Buku
Setiap saldo rekening gue nambah, hal pertama yang langsung gue lakukan adalah ke toko buku, saking tergila-gilanya dengan membaca. Gue bahkan menyiapkan budget perbulannya demi mendukung hobi gue ini. Padahal waktu masih kuliah, gue jarang beli buku (yang mayoritas adalah novel). Kebetulan di deket kampus gue, Universitas Sumatera Utara, ada tempat peminjaman buku. Gue cukup jadi member di sana, dan bisa baca puas. Tapi semenjak gue bekerja dan udah bisa menghasilkan sendiri, ditambah lagi gue tidak menemukan tempat peminjaman buku, walhasil jadi beli terus. Rentang waktu keberadaan gue di toko buku bisa sampai satu jam-an. Kalau memang gue pengennya cepet, gue udah nyari-nyari info di internet tentang novel terbaru. Tapi, kalau memang pengen menghibur diri, ya gue akan berlama-lama di sana.
Coffee Shop
As I said, gue penggila kopi. Hampir setiap hari gue pasti minum kopi, apa itu sekedar kopi sachet atau beli langsung jadi. Pas gue di Medan, ada coffee shop yang jadi favorit gue, namanya Balls Coffee. Kebetulan, tempat ini juga homebase nonbar Indomanutd Medan saat itu. Asli, kopinya enak banget dan harganya relatif murah, dari yang termurah Rp. 15.000,- sampai yang termahal, kalau gak salah Rp. 75.000,-. Yang paling mahal ini double espresso, yang cuma secangkir kecil aja tapi strong banget.
Kopi favorit gue adalah latte, karena gue lebih suka ada rasa pahitnya ketimbang terlalu manis. Dan Balls Coffee benar-benar sangat memanjakan gue dengan latte-nya. I can even guarantee you that their coffee is much better than Starbucks! Sayang, karena ada permasalahan internal, coffee shop itu tutup :(
Kalau sekarang sih gue ga punya coffee shop favorit, yah palingan sekedar nongkrong di Starbucks, Dante, atau bahkan ke 711 demi ngopi sambil menulis, kalau emang lagi sumpek nulis di kostan dan butuh suasana baru.
Summarecon Mal Serpong


Ini tempat favorit gue belakangan ini, padahal lokasinya lumayan jauh dari kost gue di Slipi. Gue kesini juga jarang, pastinya sama temen-temen kantor yang lama berhubung ada transportasi gratis kesana, hihihi..
Gue bukan mau nge-mal atau belanja, tapi murni, nongkrong. Semenjak gue sekarang bekerja di rumah, yang namanya nongkrong itu hiburan mutlak. Enam hari cuma berada di kamar yang luasnya 3m x 3m, dengan 8 jam perhari menghabiskan waktu di depan lappie, nulis artikel, lalu sisanya tidur-tiduran, jelas bikin otak sumpek. Dan, pergi kesini, langsung fresh.
Di sini modelnya mirip Kemang, yaitu banyak tempat makan di area terbuka. Di beberapa bagian, di isi panggung untuk para band bermain. Tapi band nya cuma ada di malam minggu. Jadilah gue gak pernah pergi di hari lain kecuali Sabtu malam.
Kenapa gue rela jauh-jauh kemari? Karena ada band indie yang bikin gue jatuh cinta sama permainan musiknya. Asli keren banget. Mereka manggung setiap jam 9 malam, dan gue sama temen-temen udah mastiin nyampe di tempat itu sebelum jam tujuh. Karena tempat-tempat makan yang berdekatan dengan panggung band itu udah pada heboh di-booking. Ternyata bukan kami doang yang nge-fans sama mereka.
Kalau ada yang penasaran sama band-nya, bisa datang kesana dan cari panggung yang di sekitarnya adalah tempat makan seperti: Solaria, Pizza Hut, Dante, dan lain-lain. Tapi gue biasa di Dante-nya, karena bukan cuma buat ngopi, tempatnya langsung mengarah ke depan panggung. Walau terkadang gak guna juga, karena kalau band itu udah maen, penonton pada berebut mendekati panggung dan nutupin penonton yang dapat tempat duduk.
View-nya juga bagus. Untuk orang gila foto kayak gue, pasti udah heboh nyari spot yang bagus buat moto. Hehehehe…
Sepertinya hanya ini aja dan memang tidak ada tempat yang benar-benar spesifik. Karena gue baru kepengen nongkrong kalau lagi sumpek nulis di kost.

Senin, 04 Juni 2012

PRESENT - TIGA

 “Hey, Lexa. Lo mau langsung pulang? Jalan bentar yuk?”
“Tau nih Lexa. Buru-buru amat. Jarang-jarang loh kita dipulangin cepat begini.”
Aku berpikir sejenak, kemudian mengangguk, tersenyum lebar kepada mereka. Sekolah memulangkan kami lebih cepat daripada biasanya karena guru-guru akan mengadakan rapat untuk membuat soal-soal tryout UAN untuk kelas 3. Yang berarti soal-soal untuk aku juga.
Ya. Aku sudah duduk di kelas 3 sekarang. Bertambah aja deh beban pikiran ini, karena aku kudu, wajib lulus SMP.
Hehehe... Terkesan aku begitu serius banget menghadapi hari-hari terakhirku sebagai anak berseragam putih-biru. Tidak kok. Aku justru menjalaninya dengan santai. Seperti saat ini, aku justru pergi jalan-jalan ke pasar tradisional dengan beberapa teman sekelasku. Padahal UAN tinggal tiga bulan lagi loh.
Hmm.. tidak juga sih. Aku berbohong sedikit. Aku tidak benar-benar menjalani ini dengan santai. Tapi aku mencoba membuat diriku santai menjalani kehidupanku sekarang. Ketiadaan Mama sejak berbulan-bulan yang lalu begitu mempengaruhiku. Bagaimanapun juga aku harus menggantikan pekerjaannya selama masih bersama kami: memasak, belanja bulanan, dan lain-lain. Bahkan aku juga yang harus menggantikannya mengambil raport adikku.
Tapi satu hal yang sedikitpun tidak bisa kulakukan adalah menggantikannya untuk memberikan kasih sayang buat Fay. Untuk sekedar bertanya, “Bagaimana sekolahmu hari ini?” itu saja sulit sekali, karena aku sendiri pusing dengan hari-hari ku di sekolah. Bahkan terkadang kalau Fay meminta bantuanku tentang PR-nya, aku malah bersikap ketus dan menyuruhkannya mengerjakan sendiri.
Mungkin aku bukan kakak yang baik. Aku pasti bukan kakak yang baik. Tapi aku tetap berharap adikku bisa tumbuh dengan normal.
Dan aku masih berharap Mama pulang. Aku sendiri sangat membutuhkan sosoknya dalam hidupku. Bayangkan ketika aku mendapatkan untuk pertama kalinya anugerah sebagai seorang keturunan Hawa, aku syok sendiri. Bingung bertanya kepada siapa bagaimana memasang pembalut.
Oke. Bukan bermaksud menyederhanakan peran Mama dalam hidupku. Aku hanya memberi contoh sederhana saja. Aku benar-benar kosong tanpa dirinya. Selalu ingin menangis ketika melihat ibu-ibu menggandeng anaknya di Mall, tertawa bersama-sama.

Tuhan, kapan aku bisa merasakan itu lagi...
***
“Lexa, soal nomor ini gimana sih caranya?”
Melly, teman sebangkuku, menyodorkan buku cetak matematika sambil duduk lebih rapat ke arahku. Aku membacanya sejenak, kemudian menyoret-nyoret jawabannya di selembar kertas kosong yang diberikan Melly.
UAN sebentar lagi, tepatnya bulan depan. Teman-teman sekelasku terlihat semakin hari semakin tambah paniknya. Apalagi ketika nilai-nilai tryout keluar. Baik yang puas maupun yang tidak puas dengan nila-nilai tersebut, semakin terpacu buat belajar dan bertanya kepada temannya yang lebih pintar. Misalnya aku, si ranking 1.
Bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Beberapa dari teman sekelasku langsung berhamburan ke kantin. Sisanya, termasuk aku, sibuk mengambil bekal dari tas masing-masing, kemudian menggeserkan meja-meja supaya bisa makan sama-sama. Kami berdelapan sebelumnya sudah berjanji membawa makanan dari rumah, menyadari bahwa ingin menghabiskan waktu yang tinggal sedikit lagi bersama-sama.
“Weiiitsss... Lexa bawa nugget dan sosis. Nyomot dong..” seru Dicky antusias, namun tangannya yang hendak mengambil sosis ditepis langsung dari Melly.
“Elo emang yak, suka banget nyomot. Noh makan sendiri punya lo. Dasar!” Melly berseru galak. Aku hanya terkekeh pelan. Mereka semua tau keadaan keluargaku, dan sangat memahami posisiku di rumah seperti apa.
Makananku baru habis setengah ketika Dion, salah seorang teman sekelasku, memanggilku dari pintu kelas. “Lexaaaa.... ada yang nyari.”
“Siapa, Yon?”
“Nyokap lo.”
Hanya sedetik aku termenung di tempat, kemudian aku langsung berlari keluar kelas, diikuti teman-temanku lainnya. Persis di luar kelas, aku lihat sosok yang hampir setahun ini kurindukan. Sosok yang selalu kuharapkan muncul di depanku setiap harinya. Dan kali ini dia benar-benar muncul. Tersenyum. Air matanya terlihat menggenangi sudut matanya.
“Lexa...”
Dadaku begitu sesak saat menggumamkan pelan, “Ma...”
***
Mama dan aku duduk di bangku dekat lapangan basket sekolah. Walaupun matahari agak terik, tapi ada pohon rindang, sehingga panas matahari tidak langsung ke arah kami.
Tadi Mama akhirnya meneteskan air matanya. Tanganku tak henti-hentinya digenggam. Terlihat bagaimana Mama begitu mencurahkan rasa rindunya kepadaku.
“Bagaimana keadaanmu, Nak?”
“Baik, Ma. Mama sendiri gimana?”
“Sehat. Mama sehat.”
Kemudian berbagai pertanyaan pun tergelontar cepat dari mulutku, tanpa sedikitpun aku bisa memberhentikan. Aku senang Mama ternyata pulang. “Mama kapan nyampe? Kok gak ada berita dari Mama? Mama sakit disana? Atau ada apa gitu jadi Mama gak bisa nelpon? Mama udah ke rumah kan? Oh iya ya, kunci rumah kan sama Lexa dan Fay. Mama gak bisa masuk ya? Ya udah kita pulang sekarang aja. Nanti Lexa minta izin sama guru. Oh iya Papa. Papa udah tau Mama mau pulang, kan? Belakangan agak galak sih Papa, tapi Lexa rasa nanti..”
Mama menyelaku. “Ssstt... Lexa.. jangan begitu. Maafkan Mama, Nak..” tanganku dicium sekilas, semakin erat dipegang.
Aku menggeleng. “Kok Mama minta maaf? Mama gak salah apa-apa kok. Pasti ada alasan kenapa Mama baru pulang sekarang. Lexa gak peduli, yang penting Mama pulang. Yuk, ke rumah, Ma. Lexa pamitan dulu sama guru Lexa.”
Aku hendak beranjak dari bangku, namun Mama menarik tanganku yang masih digenggamnya. “Duduk dulu, Lexa. Ada yang Mama harus bicarakan.”
Aku tidak suka perasaanku sekarang karena mendengar ucapan Mama, serta melihat ekspresinya yang masih sendu. “Ada apa, Ma? Mama kok kayaknya...” tidak ingin pulang. Bahkan aku tidak mau melanjutkan perkataan. Aku benci pikiranku sekarang.
Mama mengusap air mata di pipinya. “Lexa, Mama mau bicara sesuatu. Mama mohon maaf sama kamu, Lex. Jangan benci Mama ya. Tolong jangan benci Mama. Mama... Mama...”
Mataku menyipit. “Langsung aja, Ma.”
Air mata Mama berjatuhan, tidak mampu lagi ditahannya. “Mama gak bisa pulang, Lex. Mama... udah bercerai dengan Papamu.”
Aku menunduk. Aku bingung harus mengatakan apa tentang perasaanku saat ini. Bagaikan petir di siang bolong? Hatiku bagai tertusuk pisau? Iya, aku kaget. Tapi aku sangat tidak bisa menggambarkan apa yang kurasakan sekarang.
Mati rasa. Kosong.
Bahkan aku tidak bisa menangis, seperti yang sering kulakukan di malam-malam setelah kepergian Mama.
“Mama terpaksa harus meninggalkan kamu dan Fay, Nak. Kalian harus tinggal dengan Papamu.”
Apa aku mendadak bisu, sehingga tidak bisa merespon, atau setidaknya berteriak?
“Lexa, lihat Mama, Nak. Lihat Mama, tolong...”
Mama mendongakan kepalaku. Kulihat matanya yang merah, penuh dengan air mata. “Dengar, Lexa. Jangan pernah kamu mengira Mama meninggalkan kalian. Mama ingin sekali membawa kalian bersama, melihat kalian tumbuh, membesarkan kalian. Tapi keadaan Mama sekarang secara ekonomi tidak bisa, Nak. Kalau Mama memikirkan ego Mama sendiri, kalian bisa makan apa nanti? Bagaimana cara Mama menyekolahkan kalian? Mama tidak berani mengambil resiko itu, Lexa. Mama tidak ingin kalian hancur karena Mama.”
“Tapi, Mama janji, suatu hari nanti kalian akan tinggal sama Mama. Untuk beberapa tahun nanti, Mama akan berusaha bekerja semampu yang Mama bisa. Demi kalian. Jadi, jangan pernah beranggapan Mama meninggalkan kamu dan Fay, ya?”
Aku mengangguk singkat.
“Mama tahu sifat Papamu. Dia sangat pendendam. Dia jelas mengatakan Mama tidak bisa bertemu dengan kalian. Jadi, maaf, Nak. Untuk sementara, kita tidak bisa bertemu.” Mama membuka tasnya, mengambil pulpen dan secarik kertas, menuliskan sesuatu, lalu memberikannya kepadaku. “Ini nomor HP Mama. Kapanpun kamu bisa nelpon Mama. Tapi hati-hati, jangan sampai ketahuan Papamu. Dia bisa marah besar.”
Aku menatap kertas tersebut.
“Mama tidak bisa lama-lama, Nak. Mama akan Medan hari ini juga. Maafkan Mama, Lexa. Maafkan Mama...”
Mama memelukku erat dan lama, tapi untuk membalas pelukannya pun aku tidak bisa.
Sepertinya Mama merasakan keanehanku. Masih memelukku, dia bertanya, “Lexa, kamu tidak mau ngomong sedikitpun ke Mama, Nak? Kamu benci Mama, Nak, sampai bicarapun tidak mau?” Mama menangis.
Aku meresponnya, hanya ingin memberitahu Mama bahwa aku tidak membencinya. “Mama jaga diri baik-baik, ya?”
Tangis Mama pecah. Beliu mencium pipiku. “Kamu dan Fay harus jaga diri baik-baik juga. Sekolah yang benar. Perhatikan Fay baik-baik. Dengar ya, Lexa, kalian harus jadi orang. Buat Mama bangga.” Mama membelai kepalaku lembut. Kemudian beliau menyeka air matanya. “Mama pergi sekarang ya, Nak? Jaga diri kalian baik-baik.”
Aku memberanikan diri melihat Mama pergi, semakin mendekati pintu gerbang sekolahku. Tiba-tiba kurasakan sesak di dadaku. Semakin jauh jarak pandangku dari Mama, semakin sesak dadaku.
Dan kemudian Mama menghilang dari pandanganku.
Aku berjalan memasuki kelas. Bel masuk baru saja berbunyi sehingga kelas sudah ramai kembali. Teman-teman terdekatku, yang sejak tadi menantikanku, juga ada di kelas, dan langsung berdiri mendekatiku.
“Gimana, Lex?” tanya Dinda, salah satu sahabatku.
“Lo gak apa-apa kan, Lex?” Dion, sahabatku yang lain, juga bertanya.
Aku terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan mereka, terus berjalan menuju bangku paling pojok kanan belakang kelasku. Bangku Dion. Aku duduk, lalu menunduk, menyandarkan kepalaku ke meja. Dan kemudian, bagai singa terluka parah,
aku menangis sejadi-jadinya...
***

Jumat, 01 Juni 2012

REVIEW: SPRING IN LONDON – ILANA TAN


#ngeblogramerame #11

Penggemar novel, terutama yang suka genre romance, udah pasti kenal dengan sosok Ilana Tan. Setidaknya tau judul-judul bukunya.
Saya sendiri termasuk baru jadi fans Ilana Tan, karena tahun inilah saya mulai membaca karya-karyanya. Berhubung saya sendiri baru menyukai genre mainstream romance, yaitu percintaan dewasa, baru tahun 2011. Sebelumnya masih menggilai membaca novel teenlit, alias cinta-cintaan ala remaja.
Mainstream romance sendiri kalau di penerbit Gramedia itu disebut dengan nama metropop. Maka sekarang, saya tertarik mengulas novel metropop karangan Ilana Tan.
Spring in London adalah novel terakhir dari serial musim Ilana Tan. Seri yang pertama berjudul Winter in Tokyo, kedua Autumn in Paris, dan ketiga Summer in Seoul. Bukan cerita bersambung, tapi tiap tokoh di novel masing-masing saling memiliki keterikatan sendiri. Silakan baca sesuai urutan, tapi kalau random juga tidak apa-apa. Karena saya sendiri bacanya random. Hihihi…
Spring in London ini terbit di bulan Februari 2010. Berkisah tentang seorang model video klip keturunan Korea bernama Jo In-Ho atau Danny Jo yang sedang syuting video musik di London. Danny Jo bertemu dengan rekannya yang sama-sama menjadi model video musik itu, Naomi Ishida, wanita cantik keturunan Jepang-Indonesia. Danny Jo penasaran kenapa cewek itu tidak suka berada di dekat dia, terkesan ketakutan, padahal dia baru pertama kali ketemu si cewek dan dia juga cowok yang baik.
Selama proses pembuat video itu, Danny Jo berusaha mendekatkan diri ke Naomi, misalnya mengajak jalan Naomi ketika break syuting di sekitar lokasi di London tersebut. Perlahan-lahan, Naomi-pun menerima pertemanan yang ditawarkan Danny.
Yang Danny tidak tahu, dirinya lah satu-satunya teman pria yang dia punya. Oke, sebenarnya masih ada Chris, teman satu flatnya, tapi dia gay. Jadi Naomi tidak merasa perlu takut kepada Chris.
Kenapa Naomi sempat takut kepada Danny? Kenapa pulak Naomi tidak pernah merasa nyaman kalau dekat kaum pria? Well, you have to find out by reading that novel. Hehehe…
Jadi, apa spesialnya novel ini bagi saya? Apakah ceritanya? Tidak juga. Kebetulan, kisah di Spring in London itu udah beberapa kali saya baca di novel lain. Tapi kenapa saya masih mau baca dan tertarik? Pertama, agak subjektif, saya sangat menyukai cerita yang karakter utama pria dan wanitanya sama-sama kuat. Bukan berarti sempurna. Saya juga pastinya mengharapkan ada sisi lemah dari para tokoh utamanya, tapi bagaimana sang penulis bisa membuat sisi lemah dari sang tokoh menjadi kekuatan dari cerita tersebut. Inilah yang saya temukan di Spring in London.
Naomi disini memiliki sisi lemah, dia memiliki ketakutan. Tapi Ilana Tan membuat Naomi tetap berjuang melawan ketakutannya tersebut demi kebahagiaan dia sendiri. That’s what I love.
Yang kedua, cara Ilana Tan membawa para pembaca hanyut pada ceritanya. Meski predictable, tapi saya mendapati diri saya tidak bosan membaca dan terus melanjutkan hingga selesai. Padahal saya sering membaca buku dengan dilompati ke halaman berikutnya atau bahkan berhenti begitu saja karena cerita yang dibawakan membuat saya bosan.
Kekuatan Ilana Tan memang di caranya membawakan cerita tetap mengalir enak. Setidaknya itulah yang saya sadari setelah membaca karya-karyanya.
Apalagi yang menarik dari Spring in London? Pastinya nilai moral. Ilana Tan berusaha memberitahukan ke pembacanya bahwa setiap orang, apapun masa lalunya, berhak untuk bahagia. Sekarang bagaimana orang tersebut ingin mengambil kesempatannya untuk bahagia atau membuangnya begitu saja.
Bagi saya, buku ini bernilai 3 bintang dari 4. Recommended… :)



Rabu, 30 Mei 2012

PRESENT - BAB DUA


             “Sudah pulang, Nak.”
            Aku baru saja pulang sekolah ketika Mama menyapaku sambil tersenyum lembut. Beberapa hari ini, sejak pertengkaran yang lalu, keadaan di rumah begitu tenang. Papa dan Mama pun udah saling berbicara, seolah-olah pertengkaran itu tidak pernah terjadi. Mungkin benar kata orang kalau di dalam rumah tangga, yang namanya bertengkar itu biasa. Hanya bumbu-bumbu dalam pernikahan.
            Aku meletakkan tasku di kamar, cepat-cepat berganti pakaian, lalu mencari makan di dapur.
         “Fay kemana, Ma?” tanyaku ketika melewati kamar Papa dan Mama. Mama terlihat begitu sibuk mengambil pakaian dari lemarinya.
         “Ke rumah Ririn, main.” Mama menyebutkan nama teman main Fay yang tinggal di sebelah rumah tanpa sedikitpun menoleh kepadaku.
           “Mama ngapain? Kok bongkar lemari?” tanyaku penasaran, sejenak melupakan niatku untuk makan. Bad feeling yang kemarin sempat hilang kini timbul lagi.
            “Oh iya. Mama belum sempat ngomong sama Lexa. Besok Mama harus ke Medan,”
          “Mau ngapain?” tanyaku cepat tanpa menyembunyikan suaraku yang menyiratkan kecemasan. Aku cemas Mama akan meninggalkan kami.
    Mama sepertinya menangkap kecemasan di suaraku, dan langsung menenangkanku. Beliau memberhentikan kesibukannya, kemudian menarikku lembut untuk duduk di tempat tidur. “Ya ampun, Nak. Kok takut begitu? Emangnya Mama mau kemana coba? Kamu ingat Tante Farida?”
            Aku menggeleng pelan, masih merasa cemas.
           “Tante Farida itu teman dekat Mama waktu SMA di Medan. Dulu waktu kamu masih, berapa tahun ya? Lupa juga Mama, dia datang ke Jakarta nemuin kita. Tante Farida dulu suka gendong kamu.” Mama mengusap kepalaku dan memainkan rambutku yang sepanjang bahu. “Nah, anaknya Tante Farida mau menikah minggu depan. Jadinya Mama kesana.” Sambungnya lagi.
            Mungkin aku jahat, tapi rasanya aku belum bisa memercayai yang Mama ucapkan. “Beneran nih?”
            “Iya, Nak. Buat apa Mama bohong.”
            “Sampai kapan?”
        “Paling lama dua minggu. Mama ingin melepas kangen dengan kampung halaman.” Jawab Mama sambil tersenyum.
            “Papa tau, Ma?”
         Mama terkekeh pelan. “Pasti dong. Sudah lama Papa tau rencana Mama kok. Pokoknya Lexa jangan mikir yang aneh-aneh, ya? Dan jangan lupa, jaga Fay.” Kemudian Mama melanjutkan berbenahnya. Beliau berjinjit mengambil koper dari atas lemari, kemudian memasukkan pakaian-pakaian yang sudah dipilihnya.
          Walaupun Mama sudah menjelaskan alasannya pergi ke Medan, dan bahkan sudah minta izin kepada Papa, entah kenapa hatiku tetap tidak tenang. Berusaha mengenyahkan perasaan yang jelek ini, aku meminta tolong sesuatu kepada Mama yang dulu, saat aku masih TK, sangat tidak suka kalau Mama udah melakukan ini.
         “Ma,” Panggilku ragu. Mama menoleh. “Besok tolong ikat kepang rambut Lexa ya?”
         Mama tersenyum lebar.

***
       Sesuai dengan kesepakatan, Mama akan mengepang rambutku pagi-pagi sekali, sebelum aku berangkat sekolah. Malamnya Mama tidur di kamarku dan Fay, memeluk Fay yang mendadak manja karena minta ikut ke Medan bersama Mama. Mama menolak permintaan Fay karena dia harus sekolah. “Eit, udah kelas 3 SD, gak boleh cengeng lagi.” Ucap Mama saat Fay mengeluarkan jurus terakhirnya, yaitu menangis, guna meluluhkan hati Mama. Tapi sayangnya gagal.
      Mama membangunkanku tepat jam 4 pagi. Beliau segera menyuruhku mandi dan melarangku mengeluarkan suara-suara berisik yang bisa membangunkan Fay.
        Mama sudah duduk di lantai kamar yang beliau alaskan dengan tikar. Aku segera memakai kaos rumah, lalu duduk persis membelakangi Mama.
           Mama menyisir rambutku lembut. Beliau selalu mengagumi rambutku yang tebal dan hitam, bersyukur karena sewaktuku kecil rajin sekali merawat rambutku.
           “Tumben minta dikepangi rambutmu, Lex?”
          “Gak tau, Ma. Lagi kepengen ngerubah gaya rambut aja.” Jawabku jujur. Aku yang tomboy ini sangat tidak peduli dengan gaya rambut dan pakaian. Rambutku dibelah tengah, padahal tren saat ini rambut berponi. Pakaianku pun, bisa dibilang seenak jidat. Yang penting make pakaian. Gitu aja kok repot.
      Mama terkekeh pelan. “Masih ingat waktu kamu TK? Mama hobi sekali otak-atik rambutmu. Dikepang, dikuncir kayak kuping kelinci, dikuncir kuda pakai ikat rambut yang lucu-lucu. Tapi kamu langsung marah, ngomel-ngomel protes gak suka. Sampai di sekolah udah dicopot lagi. Beda dengan Fay yang suka sekali Mama kucir rambutnya. Bibit tomboy-mu itu udah kelihatan dari kecil. Sekarang makin parah karena kamu gila bola kayak Papamu.”
         Aku tertawa pelan mendengar omongan terakhir Mama. Sampai sekarang Mama masih sulit menerima kalau anaknya yang tertua ini jauh lebih doyan nonton bola dan bela-belain begadang daripada jalan-jalan ke mall, dibeliin baju-baju khas cewek seumuranku. 
         “Lexa, kamu kan udah kelas 2 SMP. Kamu harus semakin mandiri, ya. Jaga terus Fay, jangan suka dimarahin. Kamu ini galak banget sama adikmu. Kasihan dia, Lex, masih kecil loh.”
         “Kalau dia gak bisa dibilangin, yah wajar diomelin.” Jawabku defensif, gak mau mengakui kalau aku galak sama Fay.
        “Tapi yang namanya kakak kan harus ngejagain adiknya. Pokoknya jangan galak-galak sama Fay. Jaga ya, Nak?”
***
       Aku pergi ke sekolah dengan lesu, mengingat aku tidak bisa mengantar Mama ke bandara. Penerbangan Mama jam 1 siang, sementara aku dilarang Mama untuk minta izin pulang cepat dari sekolah.
         Tiba di sekolah, aku disambut dengan komentar positif oleh teman-temanku. Aku memang bisa dibilang terkenal seantero sekolah karena prestasi akademikku (si juara kelas bahasa lainnya) dan juga kedekatanku dengan teman-teman tanpa pandang bulu, bahkan teman-teman cowok yang paling bandel sekalipun.
            Sebenarnya ada satu hal lagi, yang sebenarnya enggan aku sebutkan. Tapi emang kenyataan loh. Banyak yang bilang (bukan pendapatku) kalau aku memiliki wajah yang manis dan tubuh yang tinggi. Dan walaupun badanku berisi (kalau tidak mau dibilang gemuk), itu tidak mengurangi kadar kemanisanku (sekali lagi kutegaskan, bukan pendapatku). Hal ini bikin banyak yang naksir aku, tapi gak aku tanggepin. Gak ada di pikiranku aku punya pacar masih SMP begini.
            Setibanya di kelas, aku langsung dikerumuni teman-teman sekelasku yang udah datang. Kulirik jam tangan bermotif Juventus, klub sepakbola favoritku dari Italia. Masih jam setengah 7 kurang.
            “Hey, tumben dikepang?” Dicky, cowok terbandel di sekolah yang gak segan-segan godain cewek tapi gak pernah sekalipun berani menggodaku (dan juga paling dekat denganku), menarik pelan kepanganku. Aku membalasnya dengan cubitan keras di lengannya yang langsung disambut dengan, “Aduh!”
            “Sukur. Lagi pengen dikepang aja. Emang gak boleh?” Seruku ketus.
            “Boleh. Kan cuma nanya. Galak bener.”
        Teman sebangkuku, Melly, ikut-ikutan menimpali. “Tapi bener tuh kata Dicky, Lex. Tumben lo dikepang gitu?  Ada momen apaan?”
            “Gak ada apa-apa kok. Beneran. Cuma pengen dikepang aja. Sekalian bikin kerjaan buat nyokap sebelum cabut ke Medan.” Jawabku sambil terkekeh sejenak.
            “Nyokap lo ngapain ke Medan?” tanya Melly lagi.
            “Ada anak temen Mama nikah.” Jawabku singkat.
            Hening sejenak, kemudian dipecahkan dengan suara Dicky. “Rambut lo tebel juga, ya? Kepangan lo jadi mirip kalajengking raksasa gitu.” Serunya sambil menarik kepanganku lagi dan kemudian ngacir. Kutimpuk dia pake sepatuku. Beruntung dia karena lemparanku meleset, nyaris mengenai kepalanya.
            “Kebanyakan nonton film lo. Emang ada kalajengking raksasa?!!”
***
            “Mama kapan pulang ya, Kak?”
     Fay berdiri di belakangku, bersandar di dinding dekat rak piring. Sedari tadi dia memang memerhatikanku memasak nasi goreng. Entah benar-benar memerhatikanku memasak atau justru berkutat dengan lamunannya sendiri. Melamunkan mama.
            Kangen dengan mama.
            Sudah lewat 2 minggu (17 hari tepatnya) Mama pergi ke Medan, dan sejak itu pula tidak sekalipun kabar darinya datang. Mama tidak pernah menelepon, membuatku agak panik. Takut sekali terjadi sesuatu dengan Mama disana. Pernah sekali aku bertanya kepada papa namun beliau hanya menjawab tidak tau dengan ketusnya.
            Aku mematikan kompor, kemudian berbalik ke arah Fay. “Gak tau, Dek. Coba lo tanya papa.”
            Fay menggeleng, “Gak ahh. Takut.”
           “Papa sama elo mana mau marah. Tanya aja.” Fay tetap menggeleng. Dia mengambil piring kemudian menuangkan sendiri nasi goreng ke piringnya, kemudian pergi makan di kamar.
            Sekitar jam tujuh malam, Papa pulang. Dia mengambil segelas air putih, lalu meminumnya. Kemudian dia pergi ke kamar. Kurasa dia ingin mandi. Beberapa lama kemudian, Papa keluar kamar, kemudian duduk sambil menonton TV.
            Nanya, engga, nanya, engga....
            Aku menarik napas dalam-dalam, meyakinkan diriku sendiri untuk bertanya ke Papa tentang Mama.
            Aku berjalan mendekati Papa. “Pa,”
            Dia bergumam, tanpa menoleh kepadaku.
            “Lexa boleh nanya ga, Pa?”
            Raut wajahnya langsung berubah. Dia menoleh galak. “Kalau kau mau bertanya tentang Mama mu, dengar ini baik-baik. Mama mu tidak akan pernah kembali! Dia udah lari sama laki-laki lain, yang lebih muda dari saya! Ngerti kau?! Jadi jangan pernah kau tanya-tanya lagi ke saya tentang Mama-mu!”
        BRAK..!! Papa keluar rumah dengan membanting pintu. Aku hanya bisa pergi ke kamar sambil menahan tangis. Tidak ingin sedikitpun mempercayai perkataannya.
         Hari terasa cepat berganti hari, menyadarkanku satu hal. Papa benar. Bukan mengenai kepergian Mama dengan pria lain. Aku tidak percaya itu. Tapi Papa memang benar satu hal,
            Mama tidak akan pulang lagi.