Jumat, 03 Agustus 2012

How to Get ‘Present’


Dear, Friends :)
Berikut gue paparkan bagaimana caranya dapetin novel pertama gue, ‘Present’


‘Present’ belum bisa didapatkan di toko buku, karena prosedur-nya lebih ribet. Mohon doanya saja supaya akhir tahun ‘Present’ bisa nampang di toko buku :)
Tapi, bagi yang ‘kebelet’ pengen baca ‘Present’, caranya cuma 1: beli online!
Sementara ini ‘Present’ bisa kalian miliki dengan membeli online di: www.nulisbuku.com. Silakan lihat link-nya: Present di Nulisbuku
Bagaimana cara pemesanannya?
Registrasi Di Situs Nulisbuku
Kalian silakan bikin akun dulu di situs tersebut. Daftarnya mirip bikin email kok, tidak ribet. Kalau sudah registrasi, tinggal klik aja ke ‘Present’, sama kayak biasa beli sesuatu secara online. Atau ada cara yang lebih mudah, yaitu.
Pesan ke Alamat Email Nulisbuku
Silakan kirim email ke: admin@nulisbuku.com, dengan subject: Pesan Buku. Di body email, teman-teman cukup mengisikan:
Nama:
Alamat yang dituju:
No hp:
Judul Buku yang dibeli dan pengarangnya:
Jumlah Buku:
Jika sudah, nanti ada email konfirmasi dari Nulisbuku tentang jumlah Rupiah yang harus kalian transfer (harga buku + ongkos kirim). Di email konfirmasi itu, akan diberikan nomor rekening Nulisbuku.
Jika sudah ditransfer, balas email konfirmasi itu dengan bukti transfernya. Maka, dalam 10 hari waktu kerja (weekend tidak dihitung), novel ‘Present’ sudah bisa teman-teman baca.


Contoh email konfirmasi setelah transfer

Gak mau beli kucing dalam karung kan? Silakan baca detail dari ‘Present’ dan sinopsis di link ini: Details & Synopsis of Present
Itu aja infonya. Really appreciate if you buy my first novel. Looking forward your comments. Thank you and God bless!

More Details and Synopsis of ‘Present’

Dear, Friends :)
Finally, novel pertamaku, ‘Present’, sudah bisa kalian miliki! (heboh sendiri)
Sayangnya, ‘Present’ belum bisa didapatkan di toko buku, karena prosedur-nya lebih ribet. Mohon doanya saja supaya akhir tahun ‘Present’ bisa nampang di toko buku :)
Tapi, bagi yang ‘kebelet’ pengen baca ‘Present’, caranya cuma 1: beli online!
Pastinya, teman-teman tidak mau ‘beli kucing dalam karung’. Jadi, saya sekarang beritahu sedikit info tentang Present.
Judul:                          Present
Penulis:                       Theresia Simanjuntak

Desainer Cover:          Agung Rahman Saputro
Jumlah Halaman:         263
Harga:                        Rp. 55.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Untuk prosedur pembelian, bisa klik link ini: 
Tampilan 'Present' di situs Nulisbuku.com, bisa diliat di link: Present di Nulisbuku

----------------------------------------------------------------------------------------------

SINOPSIS
Mya Alexa Siagian adalah potret wanita yang diimpikan setiap wanita di muka bumi. Cantik, muda, dan sudah mencapai kesuksesan di bidangnya sebagai jurnalis dan presenter sepakbola. Tapi, pasti pandangan tersebut berubah saat mengetahui bahwa Alexa belum pernah sekalipun berpacaran.
Hatinya hanya tertambat pada sahabatnya, si misterius tetapi sangat hangat Tristan Wisesa, yang ternyata juga memiliki perasaan yang sama padanya. Mereka pun berpacaran. Happy ending? Tidak juga.
Lexa, panggilannya, selalu terbayang dengan masa lalunya, penyebab utama yang mempengaruhi susahnya dia mendapatkan cinta, yaitu perceraian kedua orangtuanya. Kisah perpisahan orangtuanya yang berakhir tidak baik telah menjadi duri dalam hubungannya dengan Tristan.
Ketika sang pria impian menawarkan tangannya untuk digenggam selamanya, Lexa justru terpaku di persimpangan jalan antara masa lalu dan masa depan. Ketika hal misterius Tristan tersibak, maka yang Lexa harus percaya adalah bahwa sang kekasih memang hadiah yang telah dipersiapkan Tuhan untuknya.

Is that clear enough? Feel free to ask me, yah..
Looking forward your comments. Thank you so much and God bless :)

Kamis, 02 Agustus 2012

Disgrace in Badminton


Bulutangkis dunia, termasuk (dan terutama) Indonesia tercorang dengan skandal yang baru saja terjadi pada Olimpiade 2012 di ganda putri.
Pasangan ganda putri Indonesia, Meiliana Djauhari/Greysia Polii, akhirnya harus mengakhiri kiprahnya di Olimpiade karena didiskualifikasi. Bersama mereka, ada tiga pasangan ganda putri lainnya yang bernasib sama.
Bersama Meiliana/Greysia, dua wakil Korea Selatan, Ha Jung-Eun/Kim Min-Jung serta Jung Kyung-Eun/Kim Ha-Na serta unggulan teratas, Wang Xiaoli/Yu Yang, dianggap oleh Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) mencederai fair play dengan tidak bermain serius untuk meraih kemenangan alias bermain setengah hati.
Dari mana sih kasus ini bermula? Berikut uraian yang saya ambil dari beberapa sumber dan pengamatan saya sendiri sebagai penonton.
Semua diawali kekalahan tidak terduga pasangan Cina di Grup D, Tian Qing / Zhao Yunlei, atas pasangan Denmark, Kamilla Ryterr/Christinna Peders. Kekalahan itu membuat duo Denmark memuncaki klasemen Grup D, sementara Tian/Zhao jadi runner up.
Nah, mulai deh bertingkah ide-ide jelek dari tim Cina. Unggulan pertama Wang Xiaoli/Yu Yang berhadapan dengan pasangan Korea, Jung Kyung-eun/Kim Ha-na di Grup A. Hitung-hitungannya adalah, yang menjadi juara Grup A kemungkinan besar (masih kemungkinan loh!) akan bertemu dengan Tian/Zhao di perempat final.
Kenapa saya bilang masih kemungkinan? Karena kan masih ada elimination group (sumpah, sistemnya bikin bingung), di mana juara Grup A akan bertemu dengan runner up Grup C, dan runner up Grup A akan menghadapi juara Grup C. Sehabis elimination, barulah ke perempat final. (Lihat Bagan)

Ket:
QF: Quarter Finalist
SF: Semi Finalist

Kembali lagi, jadi baik Wang/Yu maupun Jung/Kim udah ‘remehin’ pertandingan di elimination group, sama-sama enggak mau menang agar terhindar bertemu dengan Tian/Zhao di perempat final. Kalau alasan Wang/Yu pastinya bagian dari strategi, jikalau mereka bertemu di perempat final, berarti dipastikan kehilangan kesempatan raih medali, even perunggu sekalipun! Mereka menargetkan All Chinese Final! Kalau pasangan Korea, ya karena siapa sih yang mau ketemu Cina di babak yang masih terlalu awal?
Dan ‘opera sabun’ jilid pertama ditilik dari dramanya, yang menang Cina, tapi hasilnya adalah Korea. Wang/Yu kalah 14-21 dan 11-21, hanya dalam waktu 23 menit! Peringkat satu dunia lho!
Korea ‘nangkep’ maksud dari Cina ini, sehingga mereka pun berstrategi yang sama dan diterapkan oleh ganda Korea di Grup C, Ha Jung-eun/Kim Min-jung, yang sialnya buat Indonesia karena berhadapan dengan perwakilan kita, Meiliana Jauhari/Greysia Polii.
Bagi yang nonton pertandingan dini hari WIB itu, pasti ngelihat kalau sebenernya Meiliana/Greysia sempat menunjukkan keinginan pengen menang di awal set pertama. Sayang, pasangan Ha/Kim acting-nya jelek banget, keliatan gak mau menang. Akhirnya ganda Indonesia ‘nyadar’ bahwa jika mereka menang, maka mereka harus berhadapan dengan Wang/Yu di elimination group. Indonesia-pun ikut-ikutan main ‘opera sabun’.
Walhasil, penonton kecewa, wasit dan pengadil serta official, dan pastinya seluruh penikmat bulutangkis, kecewa dengan penampilan pengecut tidak sportif yang ditunjukkan empat pasang ganda.
Hasilnya, seperti yang diketahui, keempatnya didiskualifikasi dari turnamen. What a shame!
Saya tidak mau menyalahkan keputusan BWF memakai sistem grup baru yang njlimet ini di ajang sebesar ini, yang banyak pihak menilai sebagai alasan munculnya kecurangan. Banyak yang menilai lebih bagus pakai sistem lama, yaitu knock-out.
Mau sistem apapun, sudah seharusnya yang namanya atlet mewakilkan sikap sportivitas, pantang menyerah, tidak takut menghadapi apapun. Nyatanya? Disgrace!
Media-media luar seperti Dailymail, Sky Sports, Guardian, BBC, semua sepakat menilai Indonesia ‘ikut-ikutan’, dan menyoroti tingkah Cina dan Korea. Namun, bukan berarti saya mendukung untuk membela Meiliana/Greysia, apalagi setelah mereka mengakui bahwa mereka memang tidak mau ketemu Wang/Yu di elimination.
Meski (mungkin) kesalahan kecil, tapi tetap saja sudah mencoreng. Hukuman diskualifikasi sudah cukup menjelaskan bahwa Meiliana/Greysia telah memang bersalah karena tidak sportif.
Seperti yang dinyatakan Taufik Hidayat sebelum berhadapan dengan Lin Dan: Di setiap turnamen, kita harus siap dengan lawan manapun. Itulah yang harusnya diresapi betul untuk Meiliana/Greysia. Bagaimanapun, masa depan mereka di bulutangkis masih panjang dan harapan rakyat Indonesia untuk melihat olahraga berhasil, salah satunya di tangan mereka.
Semoga hal ini tidak terulang lagi.

Selasa, 17 Juli 2012

Bermainlah Sehebat Tampangmu, Nick!


Seminggu terakhir ini, para wanita pencinta Manchester United mendapat idola baru dalam sosok Nick Powell. Bukan, yang pasti bukan karena kemampuannya dalam menggocek bola, karena namanya termasuk asing di telinga penggemar bola sebelum resmi dipinang Setan Merah dengan nilai transfer 6 juta Pounds.
Sesungguhnya alasan ini memalukan – setidaknya bagi saya, sebagai cewek murni penggemar olahraga kulit bundar ini – tetapi faktanya adalah opini ini sudah sangat melekat tercipta bagi kaum hawa.
Ya, karena tampang.
Sudah sangat umum terdengar bahwa alasan utama yang mendasari seorang wanita menyukai klub sepakbola tertentu adalah karena wajah dan perawakan aduhai para pesepakbola. Sungguh alasan yang mendiskreditkan.
Namun, kali ini, saya justru tertarik untuk membahas rekrutan anyar United dengan wajah dan fisik yang, oke, breathtaking.
Nick Powell, masih berumur 18 tahun! Saya pribadi baru mendengar namanya di akhir Juni, ketika diberitakan bahwa klub kesayangan saya ini mengejar seorang gelandang serang dari klub antah berantah, Crewe Alexandra. Saya kurang tertarik, karena media juga lebih menghebohkan isu transfer seorang mutiara Asia lainnya, Shinji Kagawa, yang menjalani dua musim sukses bersama Borussia Dortmund.
Lalu, Powell-pun resmi mendarat di Old Trafford pada tanggal 1 Juli 2012. Saya mulai googling tentang dirinya, well, maksud saya gambarnya. Foto yang saya temukan kurang jelas, jadi komen saya datar-datar aja: ohh.. dia. Terus? Kok mahal bener?
Jelas saya anggap Powell ‘mahal’. Jika dibandingkan dengan harga mantan gelandang kesayangan fans United asal Korea Selatan, Park Ji-sung, yang dihargai senilai 4 juta Pounds pada tahun 2005 silam. Apa nilai mata uang mempengaruhi tahun? Entahlah, saya bukan ahli ekonomi, enggan membahas.
Kemudian, pada tanggal 12 Juli 2012, Sir Alex Ferguson memperkenalan dua rekrutan barunya di bursa transfer musim panas ini, Kagawa dan Powell. Akhirnya, saya melihat wajah si berondong dengan jelas. Ganteng juga.

Tapi, kegilaan justru muncul tiga hari kemudian. Saat itu, saya melihat salah seorang teman saya retweet kicauan Powell (saya belum follow akun Twitter-nya saat itu). Isinya begini: And what… what’s wrong with my stallion corsa. Powell juga kasih pic sebuah artikel yang menulis nyeleneh tentang mobilnya yang ‘hanya’ sebuah Corsa, jika dibandingkan dengan para pemain United dengan mobil-mobil jauh lebih mahal seperti Bentley, Range Rover dan Lamborghini.
Ketika selesai membacanya, saya tertawa ngakak. Ini bocah humornya berkelas. Langsung deh saya follow dia. Humornya semakin saya anggap ‘dewa’ ketika keesokan harinya dia nge-tweet: No. Its them parking there Bentleys next to #stallioncorsa. Ini twit yang merespon kicauan dia sehari sebelumnya dan menanggapi isi artikel yang terkesan mengejeknya. Namun, dengan pede, Powell membalas dengan twit itu! :D
Ternyata bukan hanya saya yang mendadak menyukai pemilik no punggung 25 itu. Rekan-rekan saya di @indomanutd, juga ikutan menggila: mbakyu @rynagiggs, mba @shantyadhitya dan kak @lisadepe serta @cuzziiii. Bahkan mbakyu Ryna membuat nama untuk para ‘fans’ baru sang berondong, yaitu Powell Rangers!
Kami senang karena ada pemain tampan di United. Tapi, saya tidak mau hal ini malah menyudutkan kami sebagai penyuka sepakbola, yang murni bukan karena tampang pemain.
Jika dilihat dari video-video, kualitas pemain kelahiran 23 Maret 1994 itu cukup menjanjikan. Tapi, apalah arti sebuah video jika tidak dilihat kualitasnya secara langsung.
Menurut kacamata amatir saya, fisiknya yang tinggi besar akan bisa menolong tim ketika ada umpan-umpan lambung ataupun dalam merespon tendangan bebas maupun corner kick. Mumpung masih ada sosok Paul Scholes, Powell bisa minta tutor dari sang maestro lapangan tengah.
Mungkin musim depan Powell masih akan jarang diturunkan sebagai starter, mengingat United memiliki stok gelandang tipe menyerang di skuadnya. Namun, jika dia bisa memaksimalkan tur pra-musim ke Afrika Selatan dan Cina, bukan tidak mungkin kaum wanita bisa sering menikmati wajah (dan performa) apiknya musim 2012-13 nanti.

Powell masih muda, perjalanan kariernya masih sangat panjang. Besar harapan saya (dan para fans United pastinya) agar dia bisa beradaptasi dengan gaya permainan United dengan cepat. Kalau tampang aja nyaingin Beckham, tapi penampilan setara sama Bebe, yo buat apa?
Maka, bermainlah sehebat tampangmu, Nick!

Jumat, 13 Juli 2012

Impian Masa Kecil


#ngeblogramerame

Ketika seseorang masih kecil, pasti pernah punya impian kelak ingin menjadi seperti apakah dia. Demikian juga saya, yang pernah jadi anak kecil.. *ya iyalaahh.. :D
Sejak TK, otak gue dicekokin sama Mama supaya jadi dokter. Jadi tiap ditanya guru, pasti jawab kepengen jadi dokter. Dulu juga sempat punya mainan dokter-dokteran, kayak ada stetoskop, suntikan, dan lain-lain. Beneran dicuci otak :D
Gue pun tumbuh dengan keinginan yang timbul di dalam hati: harus jadi dokter. Walau ternyata sejak SD gue juga suka nulis karangan (dan pernah dibaca sama Mama dan Papa). Tapi, yah gak pernah punya pikiran cita-cita lain, selain dokter. SMP makin sering nulis, tapi tidak ngusik sedikitpun keinginan jadi dokter itu.
Dan keinginan itu sempat jadi ambisi sampai SMA, bahkan mati-matian usaha masuk jurusan IPA. Api impian dan harapan itu pun bertahan karena di kelas XI (kelas 2 SMA), gue terpilih masuk IPA. Bahkan nilai-nilai pelajaran yang sangat berhubungan dengan dunia kedokteran, yaitu Biologi dan Kimia, bagus-bagus. Ampe gue sendiri jadi kesayangan guru Biologi (Apa kabar, Bu Is?)
Tapi pas kelas XII (Kelas 3) SMA, gue pun memutuskan mengakhiri cita-cita itu, seiring masalah demi masalah yang datang ke keluarga gue. Sempet kurang fokus untuk belajar.
Kuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Sumatera Utara, gue pun mulai berpikir cita-cita lebih serius. Lalu gue sempet teringat bakat gue yang sempet terpendam, yaitu menulis. Pas kelas 3 SMA, gue memang sempat berhenti menulis total. Lalu, kemudian gue menyadari sangat menyukai bola. Kenapa gak keduanya gue asah dan menjadi sebuah pekerjaan impian?
Jadilah impian masa kuliah gue berubah: jurnalis sepakbola (dan novelis).
Tuhan baik. Baik banget. Sekarang gue bisa melihat, ternyata kegagalan itu bukan untuk ditangisi atau disesali, tetapi mengetahui rencana apa yang sesungguhnya telah Tuhan buat untuk diri kita. Jadi dokter sudah pasti bukan jadi rencana-Nya.
Setahun lebih dikit dari resminya gue bergelar S.S (Sarjana Sastra) pada akhir April 2011 lalu, gue pun diizinkan Tuhan mendapat impian gue: as a football journalist.
Jadi impian kelar? Belum donk. Pelan-pelan gue tetap kudu banyak belajar, karena selama hidup, manusia pasti harus terus belajar, baik pembelajaran secara akademik maupun dari pengalaman hidup. Lagipula, jika impian dan harapan sudah tidak ada, apa bisa seseorang hidup?
Secara akademik, gue masih terus belajar tentang dunia sepakbola dan tulis menulis. Dan semoga suatu hari nanti, gue dapat kesempatan untuk meliput ajang sepakbola secara langsung, bertemu dengan pemain sepak bola.
Itu impian gue; itulah hidup gue…