Follow by Email

Jumat, 12 Oktober 2012

Birthday – Not Really a Special Day



Finalllyyyyyy… #ngeblogramerame kembali lagiiiii…. *pasang petasan*
Temanya kali ini tentang ulang tahun. Jujur, tidak ada yang bisa diceritakan tentang pengalaman saat gue berulang tahun. Tidak ada yang spesial.
Gue berulang tahun tanggal 28 Mei 1989 dan seinget gue, cuma sekali ulang tahun gue dirayain, yaitu pas umur lima tahun. Itu juga dirayain bareng keluarga besar: tante-tante, om-om, sepupu, dan masih ada kakek gue saat itu.
Sepertinya, gue gak pernah ngerayain ulang tahun bareng teman-teman.
Karena memang tidak pernah dirayakan, mungkin itu alasan kenapa gue selalu hepi jika ada yang ngucapin ultah dan apalagi dikasih hadiah. Maklum aja, gak pernah dikasih hadiah pas ultah sih. Hihihi…
Pernah suatu kali, saking pengennya dirayain dan dapet hadiah, gue bikin sendiri acara ulang tahun gue. Kalau gak salah gue masih SD kelas enam. Tepat di tanggal 28 itu, hanya lewat mulut ke mulut tanpa undangan, gue suruh teman-teman gue di sekitar rumah dateng ke ultah. Terus gue ngotot ke ortu untuk beliin kue ultah. Sisanya? Gak ada. Gak ada hiasan sama sekali di rumah gue. Yang dateng juga dikit.
Yang penting diucapin selamat dan dapet hadiah.
Setelah gue gede-an dikit, makin jarang perayaan, paling traktir temen-temen sekolah makan. Harapannya? Tetep dapat ucapan selamat dan kado.
 Sampai sekarang perasaan itu masih ada. Gue bahkan suka ngitung-ngitung kalau tanggal ultah gue semakin deket.
Lucu memang. Hari ulang tahun gue justru selalu menjadi hari paling hampa dalam hidup.
Tapi, ada momen yang paling bikin gue bahagia ngerayain ultah, pas gue masih kelas lima SD. Pas SD, gue juara kelas, kesayangan guru, punya banyak temen terutama cowok. Jadilah pas gue ultah, temen-temen gue justru udah heboh dari pagi.
Pas jam istirahat, mereka rame-rame beli tepung. Kami main kejar-kejaran. Semua ngejar gue untuk nimpukkin gue pake tepung. Gue gak mau kalah, gue beli tepung bales lemparin ke mereka. Tapi, jelas muka gue paling berantakan :D
Wali kelas gue sempet marah, dikira gue yang provokasi, padahal bener, inisiatif temen gue yang cowok.
Pulang sekolah lebih parah lagi. Muka udah makin berantakan sama tepung. Eh, pas gue ditimpuk telor, telornya mental dari kepala! Lolos dari telor deh gue.
Oh iya, waktu SMP gue juga pernah ‘disiksa’ begini. Kali ini gue gak lolos dari telor. Banyak banget. Mana sekolah gue mayan jauh dari rumah. Walhasil, gue dianterin rame-rame sama temen-temen gue pulang jalan kaki.
Di jalan, ada mas-mas yang lagi nyuci mobil, ngasih selang ke temen gue. Diguyur deh gue. Basah, bau, lengket jadi satu.
Meski begitu, gue seneng…. :)

Senin, 03 September 2012

Veni, Vidi, Van Persie!


Veni, Vidi, Vici (Saya datang, saya lihat, saya menang). Ungkapan dari Romawi ini tepat untuk menggambarkan sosok seorang Robin van Persie.
Di awal kedatangannya ke Manchester United hanya tiga hari menjelang Liga Premier musim 2012-13 bergulir, beragam opini muncul. Ada yang menilai Setan Merah tidak membutuhkannya karena sudah banyak striker di klub tersebut, namun juga tidak sedikit meyakini ia akan berhasil.

His first number and target for Manchester United

Memang, keberadaannya membawa tumbal dengan Dimitar Berbatov ‘mengalah’ dan bergabung ke Fulham, bereuni dengan Martin Jol, manajer yang membuat namanya besar kala bersama-sama di Tottenham Hotspur.
Dan van Persie, diiringi sambutan ramai fans United sekaligus lautan sindiran ‘pengkhianat’ dari pendukung The Gunners, memulai debutnya sebagai pemain pengganti melawan Everton di pekan pertama. Fans Arsenal tersenyum lebar karena sang mantan pahlawan tidak mampu berbuat banyak dan menjalani debut dengan kekalahan 0-1 atas The Toffees.
Top skorer musim lalu itu tidak ambil pusing dengan hujatan yang dlayangkan kepadanya dan memilih berkonsentrasi dengan karier barunya di Old Trafford.
Di pekan kedua, ia mendapat kesempatan dari Sir Alex Ferguson untuk bermain sejak menit awal di depan pendukung United langsung, kala timnya menjamu Fulham.
Dan van Persie sangat pintar mengambil hati pendukung United. Ketika memasuki stadion kebanggaan Manchester Merah, ia terlihat penuh percaya diri, seolah-olah mengatakan kepada publik Old Trafford: Hai, lihat! Pahlawan baru kalian datang.
Hanya butuh waktu singkat bagi pemain berusia 29 tahun itu mengamati dan beradaptasi dengan permainan klub barunya. Ia pun langsung mencetak gol pertamanya yang indah bagi United di kesempatan shoot-on-goal pertama yang diperolehnya. Van Persie merayakannya dengan sliding ke arah pendukung United dan sorak-sorai para fans mengindikasikan mereka telah menerima sosok mantan lawan.

His first goal for Manchester United!

Van Persie mungkin merasa belum sepenuhnya diterima klub baru dan pendukungnya, terutama karena namanya masih disangkutpautkan dengan Arsenal, terutama karena kegagalan mantan klubnya membukukan satu gol pun di dua laga awal. Ia perlu melakukan sesuatu untuk benar-benar dicintai fans. Dan satu-satunya cara hanyalah mencetak gol.
Dan bisa saja merupakan berkah tersendiri bagi van Persie ketika Wayne Rooney, striker utama United selama beberapa musim terakhir, harus absen setidaknya satu bulan karena luka parah di pahanya setelah diinjak pemain Fulham, Rodallega.
Sudah pasti, ketiadaan Rooney membuat van Persie menjadi tumpuan harapan klub membobol gawang lawan.
Seperti nyanyian yang dikumandangkan fans Arsenal untuknya musim lalu: He scores when he wants. Robin van Persie, he scores when he wants (dia mencetak gol ketika ia menginginkan. Robin van Persie, ia mencetak gol ketika ia menginginkan), van Persie menerapkan lagu tersebut bersama United.
Beberapa saat sebelum pertandingan tandang melawan Southampton Minggu (2/9), di laga lain Arsenal akhirnya memecahkan kemandulan mereka, mencetak dua gol kemenangan atas Liverpool yang dilesakkan dua pemain baru mereka, Lukas Podolski dan Santi Cazorla. Kalimat: “who needs van Persie” muncul dari pendukung klub kota London itu.
Hanya butuh 90 menit pertandingan dan kubu Arsenal, yang sempat tertawa karena RvP sempat gagal mengeksekusi penalti, kembali tersentak, dan mungkin diam-diam merindukan sosoknya di Emirates, ketika mengetahui pemain bernomor punggung 20 itu mencetak hattrick perdana bagi klub barunya, membawa kemenangan 3-2, setelah sempat tertinggal dari The Saint.

His first hattrick for Manchester United!

Total sudah empat gol yang dibukukan van Persie, memimpin daftar pencetak gol terbanyak Barclays Premier League bersama pemain Swansea City, Michu. Setan Merah semakin mencintainya, sementara Arsenal semakin sulit melupakannya. Setidaknya itu diakui bos Arsene Wenger selepas pertandingan melawan The Reds di Anfield.
Sayangnya dengan kualitas yang telah kami miliki kami kehilangan Robin, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa terhadap itu." Aku Wenger kepada Sky Sports.
Bagaimanapun, Arsenal sudah menjadi masa lalu bagi van Persie, apalagi bergabung dengan United adalah keputusannya sendiri, demi meraih trofi pertama dalam karirnya dan gelar liga ke-20 United, seperti yang dinyatakannya di konferensi pers perdana ketika ia diperkenalkan sebagai rekrutan terbaru klub.
“Saya memilih nomor punggung 20 karena saya ingin meraih gelar Manchester United yang ke-20.”
Dan ketika van Persie menginginkannya, ia bisa mendapatkannya. Van Persie datang, van Persie lihat, van Persie menang. Veni, Vidi, van Persie.

Jumat, 03 Agustus 2012

How to Get ‘Present’


Dear, Friends :)
Berikut gue paparkan bagaimana caranya dapetin novel pertama gue, ‘Present’


‘Present’ belum bisa didapatkan di toko buku, karena prosedur-nya lebih ribet. Mohon doanya saja supaya akhir tahun ‘Present’ bisa nampang di toko buku :)
Tapi, bagi yang ‘kebelet’ pengen baca ‘Present’, caranya cuma 1: beli online!
Sementara ini ‘Present’ bisa kalian miliki dengan membeli online di: www.nulisbuku.com. Silakan lihat link-nya: Present di Nulisbuku
Bagaimana cara pemesanannya?
Registrasi Di Situs Nulisbuku
Kalian silakan bikin akun dulu di situs tersebut. Daftarnya mirip bikin email kok, tidak ribet. Kalau sudah registrasi, tinggal klik aja ke ‘Present’, sama kayak biasa beli sesuatu secara online. Atau ada cara yang lebih mudah, yaitu.
Pesan ke Alamat Email Nulisbuku
Silakan kirim email ke: admin@nulisbuku.com, dengan subject: Pesan Buku. Di body email, teman-teman cukup mengisikan:
Nama:
Alamat yang dituju:
No hp:
Judul Buku yang dibeli dan pengarangnya:
Jumlah Buku:
Jika sudah, nanti ada email konfirmasi dari Nulisbuku tentang jumlah Rupiah yang harus kalian transfer (harga buku + ongkos kirim). Di email konfirmasi itu, akan diberikan nomor rekening Nulisbuku.
Jika sudah ditransfer, balas email konfirmasi itu dengan bukti transfernya. Maka, dalam 10 hari waktu kerja (weekend tidak dihitung), novel ‘Present’ sudah bisa teman-teman baca.


Contoh email konfirmasi setelah transfer

Gak mau beli kucing dalam karung kan? Silakan baca detail dari ‘Present’ dan sinopsis di link ini: Details & Synopsis of Present
Itu aja infonya. Really appreciate if you buy my first novel. Looking forward your comments. Thank you and God bless!

More Details and Synopsis of ‘Present’

Dear, Friends :)
Finally, novel pertamaku, ‘Present’, sudah bisa kalian miliki! (heboh sendiri)
Sayangnya, ‘Present’ belum bisa didapatkan di toko buku, karena prosedur-nya lebih ribet. Mohon doanya saja supaya akhir tahun ‘Present’ bisa nampang di toko buku :)
Tapi, bagi yang ‘kebelet’ pengen baca ‘Present’, caranya cuma 1: beli online!
Pastinya, teman-teman tidak mau ‘beli kucing dalam karung’. Jadi, saya sekarang beritahu sedikit info tentang Present.
Judul:                          Present
Penulis:                       Theresia Simanjuntak

Desainer Cover:          Agung Rahman Saputro
Jumlah Halaman:         263
Harga:                        Rp. 55.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Untuk prosedur pembelian, bisa klik link ini: 
Tampilan 'Present' di situs Nulisbuku.com, bisa diliat di link: Present di Nulisbuku

----------------------------------------------------------------------------------------------

SINOPSIS
Mya Alexa Siagian adalah potret wanita yang diimpikan setiap wanita di muka bumi. Cantik, muda, dan sudah mencapai kesuksesan di bidangnya sebagai jurnalis dan presenter sepakbola. Tapi, pasti pandangan tersebut berubah saat mengetahui bahwa Alexa belum pernah sekalipun berpacaran.
Hatinya hanya tertambat pada sahabatnya, si misterius tetapi sangat hangat Tristan Wisesa, yang ternyata juga memiliki perasaan yang sama padanya. Mereka pun berpacaran. Happy ending? Tidak juga.
Lexa, panggilannya, selalu terbayang dengan masa lalunya, penyebab utama yang mempengaruhi susahnya dia mendapatkan cinta, yaitu perceraian kedua orangtuanya. Kisah perpisahan orangtuanya yang berakhir tidak baik telah menjadi duri dalam hubungannya dengan Tristan.
Ketika sang pria impian menawarkan tangannya untuk digenggam selamanya, Lexa justru terpaku di persimpangan jalan antara masa lalu dan masa depan. Ketika hal misterius Tristan tersibak, maka yang Lexa harus percaya adalah bahwa sang kekasih memang hadiah yang telah dipersiapkan Tuhan untuknya.

Is that clear enough? Feel free to ask me, yah..
Looking forward your comments. Thank you so much and God bless :)

Kamis, 02 Agustus 2012

Disgrace in Badminton


Bulutangkis dunia, termasuk (dan terutama) Indonesia tercorang dengan skandal yang baru saja terjadi pada Olimpiade 2012 di ganda putri.
Pasangan ganda putri Indonesia, Meiliana Djauhari/Greysia Polii, akhirnya harus mengakhiri kiprahnya di Olimpiade karena didiskualifikasi. Bersama mereka, ada tiga pasangan ganda putri lainnya yang bernasib sama.
Bersama Meiliana/Greysia, dua wakil Korea Selatan, Ha Jung-Eun/Kim Min-Jung serta Jung Kyung-Eun/Kim Ha-Na serta unggulan teratas, Wang Xiaoli/Yu Yang, dianggap oleh Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) mencederai fair play dengan tidak bermain serius untuk meraih kemenangan alias bermain setengah hati.
Dari mana sih kasus ini bermula? Berikut uraian yang saya ambil dari beberapa sumber dan pengamatan saya sendiri sebagai penonton.
Semua diawali kekalahan tidak terduga pasangan Cina di Grup D, Tian Qing / Zhao Yunlei, atas pasangan Denmark, Kamilla Ryterr/Christinna Peders. Kekalahan itu membuat duo Denmark memuncaki klasemen Grup D, sementara Tian/Zhao jadi runner up.
Nah, mulai deh bertingkah ide-ide jelek dari tim Cina. Unggulan pertama Wang Xiaoli/Yu Yang berhadapan dengan pasangan Korea, Jung Kyung-eun/Kim Ha-na di Grup A. Hitung-hitungannya adalah, yang menjadi juara Grup A kemungkinan besar (masih kemungkinan loh!) akan bertemu dengan Tian/Zhao di perempat final.
Kenapa saya bilang masih kemungkinan? Karena kan masih ada elimination group (sumpah, sistemnya bikin bingung), di mana juara Grup A akan bertemu dengan runner up Grup C, dan runner up Grup A akan menghadapi juara Grup C. Sehabis elimination, barulah ke perempat final. (Lihat Bagan)

Ket:
QF: Quarter Finalist
SF: Semi Finalist

Kembali lagi, jadi baik Wang/Yu maupun Jung/Kim udah ‘remehin’ pertandingan di elimination group, sama-sama enggak mau menang agar terhindar bertemu dengan Tian/Zhao di perempat final. Kalau alasan Wang/Yu pastinya bagian dari strategi, jikalau mereka bertemu di perempat final, berarti dipastikan kehilangan kesempatan raih medali, even perunggu sekalipun! Mereka menargetkan All Chinese Final! Kalau pasangan Korea, ya karena siapa sih yang mau ketemu Cina di babak yang masih terlalu awal?
Dan ‘opera sabun’ jilid pertama ditilik dari dramanya, yang menang Cina, tapi hasilnya adalah Korea. Wang/Yu kalah 14-21 dan 11-21, hanya dalam waktu 23 menit! Peringkat satu dunia lho!
Korea ‘nangkep’ maksud dari Cina ini, sehingga mereka pun berstrategi yang sama dan diterapkan oleh ganda Korea di Grup C, Ha Jung-eun/Kim Min-jung, yang sialnya buat Indonesia karena berhadapan dengan perwakilan kita, Meiliana Jauhari/Greysia Polii.
Bagi yang nonton pertandingan dini hari WIB itu, pasti ngelihat kalau sebenernya Meiliana/Greysia sempat menunjukkan keinginan pengen menang di awal set pertama. Sayang, pasangan Ha/Kim acting-nya jelek banget, keliatan gak mau menang. Akhirnya ganda Indonesia ‘nyadar’ bahwa jika mereka menang, maka mereka harus berhadapan dengan Wang/Yu di elimination group. Indonesia-pun ikut-ikutan main ‘opera sabun’.
Walhasil, penonton kecewa, wasit dan pengadil serta official, dan pastinya seluruh penikmat bulutangkis, kecewa dengan penampilan pengecut tidak sportif yang ditunjukkan empat pasang ganda.
Hasilnya, seperti yang diketahui, keempatnya didiskualifikasi dari turnamen. What a shame!
Saya tidak mau menyalahkan keputusan BWF memakai sistem grup baru yang njlimet ini di ajang sebesar ini, yang banyak pihak menilai sebagai alasan munculnya kecurangan. Banyak yang menilai lebih bagus pakai sistem lama, yaitu knock-out.
Mau sistem apapun, sudah seharusnya yang namanya atlet mewakilkan sikap sportivitas, pantang menyerah, tidak takut menghadapi apapun. Nyatanya? Disgrace!
Media-media luar seperti Dailymail, Sky Sports, Guardian, BBC, semua sepakat menilai Indonesia ‘ikut-ikutan’, dan menyoroti tingkah Cina dan Korea. Namun, bukan berarti saya mendukung untuk membela Meiliana/Greysia, apalagi setelah mereka mengakui bahwa mereka memang tidak mau ketemu Wang/Yu di elimination.
Meski (mungkin) kesalahan kecil, tapi tetap saja sudah mencoreng. Hukuman diskualifikasi sudah cukup menjelaskan bahwa Meiliana/Greysia telah memang bersalah karena tidak sportif.
Seperti yang dinyatakan Taufik Hidayat sebelum berhadapan dengan Lin Dan: Di setiap turnamen, kita harus siap dengan lawan manapun. Itulah yang harusnya diresapi betul untuk Meiliana/Greysia. Bagaimanapun, masa depan mereka di bulutangkis masih panjang dan harapan rakyat Indonesia untuk melihat olahraga berhasil, salah satunya di tangan mereka.
Semoga hal ini tidak terulang lagi.

Selasa, 17 Juli 2012

Bermainlah Sehebat Tampangmu, Nick!


Seminggu terakhir ini, para wanita pencinta Manchester United mendapat idola baru dalam sosok Nick Powell. Bukan, yang pasti bukan karena kemampuannya dalam menggocek bola, karena namanya termasuk asing di telinga penggemar bola sebelum resmi dipinang Setan Merah dengan nilai transfer 6 juta Pounds.
Sesungguhnya alasan ini memalukan – setidaknya bagi saya, sebagai cewek murni penggemar olahraga kulit bundar ini – tetapi faktanya adalah opini ini sudah sangat melekat tercipta bagi kaum hawa.
Ya, karena tampang.
Sudah sangat umum terdengar bahwa alasan utama yang mendasari seorang wanita menyukai klub sepakbola tertentu adalah karena wajah dan perawakan aduhai para pesepakbola. Sungguh alasan yang mendiskreditkan.
Namun, kali ini, saya justru tertarik untuk membahas rekrutan anyar United dengan wajah dan fisik yang, oke, breathtaking.
Nick Powell, masih berumur 18 tahun! Saya pribadi baru mendengar namanya di akhir Juni, ketika diberitakan bahwa klub kesayangan saya ini mengejar seorang gelandang serang dari klub antah berantah, Crewe Alexandra. Saya kurang tertarik, karena media juga lebih menghebohkan isu transfer seorang mutiara Asia lainnya, Shinji Kagawa, yang menjalani dua musim sukses bersama Borussia Dortmund.
Lalu, Powell-pun resmi mendarat di Old Trafford pada tanggal 1 Juli 2012. Saya mulai googling tentang dirinya, well, maksud saya gambarnya. Foto yang saya temukan kurang jelas, jadi komen saya datar-datar aja: ohh.. dia. Terus? Kok mahal bener?
Jelas saya anggap Powell ‘mahal’. Jika dibandingkan dengan harga mantan gelandang kesayangan fans United asal Korea Selatan, Park Ji-sung, yang dihargai senilai 4 juta Pounds pada tahun 2005 silam. Apa nilai mata uang mempengaruhi tahun? Entahlah, saya bukan ahli ekonomi, enggan membahas.
Kemudian, pada tanggal 12 Juli 2012, Sir Alex Ferguson memperkenalan dua rekrutan barunya di bursa transfer musim panas ini, Kagawa dan Powell. Akhirnya, saya melihat wajah si berondong dengan jelas. Ganteng juga.

Tapi, kegilaan justru muncul tiga hari kemudian. Saat itu, saya melihat salah seorang teman saya retweet kicauan Powell (saya belum follow akun Twitter-nya saat itu). Isinya begini: And what… what’s wrong with my stallion corsa. Powell juga kasih pic sebuah artikel yang menulis nyeleneh tentang mobilnya yang ‘hanya’ sebuah Corsa, jika dibandingkan dengan para pemain United dengan mobil-mobil jauh lebih mahal seperti Bentley, Range Rover dan Lamborghini.
Ketika selesai membacanya, saya tertawa ngakak. Ini bocah humornya berkelas. Langsung deh saya follow dia. Humornya semakin saya anggap ‘dewa’ ketika keesokan harinya dia nge-tweet: No. Its them parking there Bentleys next to #stallioncorsa. Ini twit yang merespon kicauan dia sehari sebelumnya dan menanggapi isi artikel yang terkesan mengejeknya. Namun, dengan pede, Powell membalas dengan twit itu! :D
Ternyata bukan hanya saya yang mendadak menyukai pemilik no punggung 25 itu. Rekan-rekan saya di @indomanutd, juga ikutan menggila: mbakyu @rynagiggs, mba @shantyadhitya dan kak @lisadepe serta @cuzziiii. Bahkan mbakyu Ryna membuat nama untuk para ‘fans’ baru sang berondong, yaitu Powell Rangers!
Kami senang karena ada pemain tampan di United. Tapi, saya tidak mau hal ini malah menyudutkan kami sebagai penyuka sepakbola, yang murni bukan karena tampang pemain.
Jika dilihat dari video-video, kualitas pemain kelahiran 23 Maret 1994 itu cukup menjanjikan. Tapi, apalah arti sebuah video jika tidak dilihat kualitasnya secara langsung.
Menurut kacamata amatir saya, fisiknya yang tinggi besar akan bisa menolong tim ketika ada umpan-umpan lambung ataupun dalam merespon tendangan bebas maupun corner kick. Mumpung masih ada sosok Paul Scholes, Powell bisa minta tutor dari sang maestro lapangan tengah.
Mungkin musim depan Powell masih akan jarang diturunkan sebagai starter, mengingat United memiliki stok gelandang tipe menyerang di skuadnya. Namun, jika dia bisa memaksimalkan tur pra-musim ke Afrika Selatan dan Cina, bukan tidak mungkin kaum wanita bisa sering menikmati wajah (dan performa) apiknya musim 2012-13 nanti.

Powell masih muda, perjalanan kariernya masih sangat panjang. Besar harapan saya (dan para fans United pastinya) agar dia bisa beradaptasi dengan gaya permainan United dengan cepat. Kalau tampang aja nyaingin Beckham, tapi penampilan setara sama Bebe, yo buat apa?
Maka, bermainlah sehebat tampangmu, Nick!

Jumat, 13 Juli 2012

Impian Masa Kecil


#ngeblogramerame

Ketika seseorang masih kecil, pasti pernah punya impian kelak ingin menjadi seperti apakah dia. Demikian juga saya, yang pernah jadi anak kecil.. *ya iyalaahh.. :D
Sejak TK, otak gue dicekokin sama Mama supaya jadi dokter. Jadi tiap ditanya guru, pasti jawab kepengen jadi dokter. Dulu juga sempat punya mainan dokter-dokteran, kayak ada stetoskop, suntikan, dan lain-lain. Beneran dicuci otak :D
Gue pun tumbuh dengan keinginan yang timbul di dalam hati: harus jadi dokter. Walau ternyata sejak SD gue juga suka nulis karangan (dan pernah dibaca sama Mama dan Papa). Tapi, yah gak pernah punya pikiran cita-cita lain, selain dokter. SMP makin sering nulis, tapi tidak ngusik sedikitpun keinginan jadi dokter itu.
Dan keinginan itu sempat jadi ambisi sampai SMA, bahkan mati-matian usaha masuk jurusan IPA. Api impian dan harapan itu pun bertahan karena di kelas XI (kelas 2 SMA), gue terpilih masuk IPA. Bahkan nilai-nilai pelajaran yang sangat berhubungan dengan dunia kedokteran, yaitu Biologi dan Kimia, bagus-bagus. Ampe gue sendiri jadi kesayangan guru Biologi (Apa kabar, Bu Is?)
Tapi pas kelas XII (Kelas 3) SMA, gue pun memutuskan mengakhiri cita-cita itu, seiring masalah demi masalah yang datang ke keluarga gue. Sempet kurang fokus untuk belajar.
Kuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Sumatera Utara, gue pun mulai berpikir cita-cita lebih serius. Lalu gue sempet teringat bakat gue yang sempet terpendam, yaitu menulis. Pas kelas 3 SMA, gue memang sempat berhenti menulis total. Lalu, kemudian gue menyadari sangat menyukai bola. Kenapa gak keduanya gue asah dan menjadi sebuah pekerjaan impian?
Jadilah impian masa kuliah gue berubah: jurnalis sepakbola (dan novelis).
Tuhan baik. Baik banget. Sekarang gue bisa melihat, ternyata kegagalan itu bukan untuk ditangisi atau disesali, tetapi mengetahui rencana apa yang sesungguhnya telah Tuhan buat untuk diri kita. Jadi dokter sudah pasti bukan jadi rencana-Nya.
Setahun lebih dikit dari resminya gue bergelar S.S (Sarjana Sastra) pada akhir April 2011 lalu, gue pun diizinkan Tuhan mendapat impian gue: as a football journalist.
Jadi impian kelar? Belum donk. Pelan-pelan gue tetap kudu banyak belajar, karena selama hidup, manusia pasti harus terus belajar, baik pembelajaran secara akademik maupun dari pengalaman hidup. Lagipula, jika impian dan harapan sudah tidak ada, apa bisa seseorang hidup?
Secara akademik, gue masih terus belajar tentang dunia sepakbola dan tulis menulis. Dan semoga suatu hari nanti, gue dapat kesempatan untuk meliput ajang sepakbola secara langsung, bertemu dengan pemain sepak bola.
Itu impian gue; itulah hidup gue…

Jumat, 06 Juli 2012

Dear Mama


#ngeblogramerame

Dear Mama,
Essy masih ingat sangat jelas ketika Mama cerita proses kelahiran Essy. Mama bilang kalau melahirkan Essy penuh perjuangan karena badan Essy terlalu besar di kandungan Mama (ternyata bodi besar yang Essy miliki saat ini emang udah bibit ya, Mah? :D). Mama bilang dokter sangat menyarankan untuk lahir secara caesar karena jika dipaksakan lahir normal, Mama bisa kehilangan nyawa. Tapi Mama bertekad untuk melahirkan Essy dengan normal, karena saat itu Mama pernah dengar mitos bahwa anak yang lahir caesar pas sudah besar nanti ada aja ‘cacat’ yang dimiliki. Hehehe.. mamah… :)
Dan ketika Essy lahir, masih juga ada perdebatan mengenai tanggal lahir Essy. Papa dulu pernah bilang Essy lahir tanggal 27 Mei 1989, tetapi Mama ngotot bahwa Essy lahir tanggal 28 Mei 1989  tepat jam 00.05, karena setelah Essy keluar dari rahim Mama, Mama langsung melihat ke jam dinding. Essy gak habis pikir, ketika masih sangat kesakitan, Mama sempet-sempetnya merhatiin jam, merhatiin kapan anak pertama Mama muncul ke dunia.. :)
Masa batita, balita, anak-anak.. yang Essy ingat bagaimana Mama kelewat galak dan bagaimana Essy kelewat manja. Essy masih sangat ingat setiap minggunya Mama selalu ngajak ke Mal. Sifat hedon yang sempat Essy rasakan ketika kita tidak tahu bagaimana cara bersenang-senang dengan uang yang terlalu banyak ya, Mah :D
Meski dulu kita kaya banget, Mama gak pernah ngajarin Essy untuk bisa mendapatkan segala yang Essy inginkan. Masih inget, ketika Essy meminta dibelikan sesuatu, Mama gak mau, lalu Essy nangis sesenggukan, yang kemudian pasti Mama akhiri dengan ancaman akan ditinggalkan. Hehehe… kalau udah kayak gitu, Essy lari ke Papa, minta Papa yang beliin. Kalo Papa nurutin, Mama deh yang ngamuk. :D
Kemudian, tsunami datang ke keluarga kita. Essy gak ngerti saat itu, masih umur 7 tahun kan, Mah? Tiba-tiba saja Essy sudah berada di rumah yang jauh lebih kecil, Essy tidak lagi sekolah di SD Essy yang bertingkat 6 itu, pindah ke sekolah negeri.
Dan Essy juga tidak mengerti mengapa Papa tidak ada bersama kita – bersama Mama, Essy dan adek yang masih berumur 2 tahun.


Tapi, tahukah Mama, di umur segitu Essy udah belajar terhadap situasi yang tengah kita hadapi. Dan Essy tidak manja lagi, menginginkan hal-hal yang tidak penting.
Melihat Mama bekerja begitu keras untuk Essy dan adek, pergi pagi pulang malam, menitipkan kami kepada tetangga atau saudara, mengajarkan Essy bagaimana cara menggoreng tempe.
Mama ingat gak, ketika Essy – dan adek, mengunjungi tempat Mama bekerja, jauh-jauh dari Bekasi ke Kampung Melayu, karena adek nangis terus. Dengan duit paspasan, Essy inget bawa adek naik angkot tiga kali. Untung banget Mah, banyak penumpang yang kami temui baik sekali, membayar ongkos kami. Semoga mereka diberkati selalu :)
Lalu, ketika kami sampai di terminal Kampung Melayu, melihat Mama dengan usaha yang Mama jalani – dagang asongan bermodalkan etalase kecil. Essy gak memikirkan apapun selain bahagia bisa melihat Mama.
Yang baru Essy ketahui saat itu, ternyata Mama juga jadi supir mikrolet. Wah, Essy malah girang saat itu, yak an Mah? Mama yang nyupir, Essy yang jadi kernet. What a moment, Mom :)
Pasang-surut di keluarga kita terus aja terjadi. Kita sempat berkumpul lagi dengan Papa, namun tetap pada akhirnya jalan perceraian yang Mama dan Papa ambil.
Mama ingat gak, Essy pernah bertanya apakah Mama menyesal menikah dengan Papa? Mama tidak pernah tahu betapa leganya Essy ketika Mama jawab: tidak, Nak. Kalau tidak bertemu Papamu, ya gak mungkin Mama punya anak seperti kalian.
Pernah Essy merasa ingin Mama bertanya balik, apakah Essy menyesali perceraian kalian? Well, Essy gak nyesel, Ma. Yang Essy sesali adalah setiap pertengkaran yang Mama dan Papa lakukan, kenapa harus di hadapan kami. Akan jauh lebih baik jika kami – Essy – tidak mendengar ataupun melihat rentetan kejadian yang jika melintas di pikiran Essy, hanya mampu membuahkan air mata. Lagi.
Ketika Mama meninggalkan kami, well, berat lho, Mah. Tapi Essy gak pernah izinin Mama tahu hal itu, karena saat itu Essy udah tumbuh cukup dewasa untuk sangat memahami perjuangan yang tengah Mama lakukan.
Ketika kita bersatu lagi – Mama, Essy dan adek – Mama menunjukkan banyak perubahan. Pekerjaan yang sukses Mama jalani, dan yang terpenting tidak ada rasa tertekan seperti ketika Mama masih bersama Papa. Salah satu hal yang membuat Essy bersyukur kalian tidak bersatu lagi.
Ketika Essy kuliah, Essy melihat bagaimana perjuangan Mama demi Essy menjadi sarjana. Kembali, Mama bekerja tanpa kenal waktu dan menyuruh Essy memfokuskan diri sama kuliah.
Tapi, saat itu juga Essy merasa bersyukur memiliki Mama. Dari dulu, Mama selalu berjuang demi pendidikan anak-anaknya. Bagi Mama, ‘upah’ dari kami adalah prestasi yang bagus. Puji Tuhan, kami tidak pernah mengecewakan Mama.
Mama masih ingat, ketika Essy menelepon Mama bahwa Essy sudah lulus sidang. Mama menangis sejadi-jadinya dan kemudian heboh ke Medan, cuma untuk berbelanja keperluan wisuda, di mana Mama heboh mewajibkan Essy memakai kebaya hasil jahitan, bukan disewa. Ampun deh..
Dan ketika Essy memakai toga, Mama menangis lagi.



Setahun sudah Essy lulus, namun Essy belum bisa berikan kebahagiaan sepenuhnya untuk Mama. Bahkan permintaan Mama yang belakangan paling gencar, yaitu PACAR, aja belum Essy penuhi. Maaf ya, Mah..
Di luar segala permasalahan yang kita hadapi, Essy sangat beruntung memiliki sosok seperti Mama, yang tidak pernah menyerah atas kami. Mungkin orangtua lain banyak yang terjerumus dan menyesatkan anaknya sendiri, tapi Mama tidak.
Dear Mama.. terima kasih karena Mama selalu percaya dengan setiap langkah yang Essy ambil. Bagaimana Mama mengizinkan Essy untuk bergabung di komunitas bola (IndoManUtd), di mana sempat Essy digosipin menjadi anak liar, tapi Mama tidak pernah percaya. Karena Mama pernah berpesan: Lakukan segala hal yang pengin kau lakukan, tetapi ingat satu hal. Jangan pernah mempermalukan Mama. Essy inget selalu, Mah. Makanya jalan Essy lurus-lurus aja :D
Mama selalu mendukung setiap keputusan yang Essy ambil. Jarang ada orangtua yang bersedia membebaskan anaknya menentukan arah hidupnya, Mama berbeda. Karena pasti Mama menyadari bahwa setiap langkah yang Essy ambil semua bertujuan untuk membuat Mama bangga.
Doain Essy selalu ya, Mah. Dan semoga Tuhan memberikan Mama umur yang panjang, karena bagaimanapun juga, Essy berhutang untuk kenalin Mama ke calon suami Essy, yang berarti… masih lama, Maaahhh…. Hihihihi…