Jumat, 30 Desember 2011

Love, Friendship & Identity


Haaaiiiii..... Selamat H-2 Tahun Baruuuuuu.... :D

Biasa kalo menjelang tahun baru gini, kita suka banget flashback ke momen-momen yang bikin kita menjadi seperti sekarang ini. Termasuk yang akan gue lakuin sekarang.

Gue ambil topik Love, Friendship & Identity. Gue yakin tiap orang pasti pernah ngalamin krisis identitas, terutama jika krisis itu berkaitan dengan hubungan percintaan maupun persahabatan. Kita jadi seseorang yang bukan kita banget demi kesuksesan dalam cinta maupun persahabatan.

Gue pertama kali jatuh cinta (ralat: jatuh suka. Karena emang hanya sebatas suka :D), itu pas kelas 3 SMP, sekitar tahun 2003. Sang cowo beruntung itu temen gereja gue, sebut aja namanya Tono. Dia setahun lebih tua dari gue. Hal pertama yang bikin gue saat itu klepek-klepek dengan doi karena doi pinter main piano dan suaranya bagus + tinggi & cakep :D. Sayangnya, gue ga pernah berani ngomong sama dia karena dia masuk ke genk populer di gereja, sementara gue berstatus the outsider, pokoknya yang ga banget ya masuk kategori outsider. Lucu memang strata-strata anak ababil ye. Ironisnya, kalo di sekolah gue ditemenin banget (si ranking 1 gitu), ehh di gereja malah ga dianggep apa-apa karena gue ga modis! :D.

Singkat cerita, tersebarlah berita kalo gue suka ama si Tono. Saat itu gue kelas 1 SMA. Karena ketauan, gue 'agak' bersemangat cari perhatian dia. Gue tetep ga berani ngajak doi ngomong, tapi demi doi, gue berusaha tampil modis.  Sayangnya gagal total berhubung gue ga punya ilmu sama sekali tentang mempercantik diri. Yang ada, gue malah denger komentar salah 1 cowo temen dia: Dasar Betty La Fea.


Buat yang ga tau Betty La Fea, ini adalah drama telenovela yang pernah heboh banget di Indonesia pas tahun 2000an. Tokoh utama-nya, wanita pinter tapi berparas jelek dengan kacamata tebel & kawat gigi serta baju kuno.

Jadi, silakan bayangin betapa BT-nya gue saat denger komentar itu. Akhirnya, kalo ga salah pertengahan kelas 2 SMA, gue mutusin untuk berubah penampilan supaya menarik perhatian dia. Bukan untuk dijadiin pacar, tapi biar gantian dia yang ngejar-ngejar gue :D. Gue ampe beli majalah-majalah remaja buat belajar mix & match baju, serta belajar make up & tatanan rambut ke sepupu-sepupu gue. Jadi, tiap gereja, baju gue modis, make up gue pas, dan kadang rambut gue yang lurus ini, gue ikalin seksi gimana gitu :p

Dan, sukses, guys. Tono mulai tanya-tanya tentang gue ke temen-temen dan sepupu-sepupu gue. Dan di awal kelas 3, untuk pertama kalinya, si Tono ngajak gue ngomong. Tau apa yang dia tanya?

“Eh, Ter. Denger-denger standar nilai UN (Ujian Nasional) dinaikin ya?”

Topiknya berkelas banget ga sih? :

Dia terus berusaha deketin gue, sementara gue udah ilfil berat, hanya “menikmati” tingkah dia. Temen-temen dia juga berusaha temenan sama gue, termasuk yang nyebut Betty La Fea itu. Dia akhirnya berhenti ngejar-ngejar gue saat gue harus kuliah di Medan.

Apakah gue puas dengan yang gue lakuin? No, guys, totally no. Dua hal yang gue sadarin:
1)      Dia suka fisik gue doang
2)      This was the worst, I lost my identity.

Seorang Theresia Ruth Simanjuntak yang gue kenal itu ga suka make up, suka tampil apa adanya. Dan bodohnya, demi dia yang bahkan ga hargain diri gue apa adanya, gue rela merubah diri gue.

Pas awal-awal kuliah (tahun 2007), didukung lingkungan yang justru nganggep lebay orang yang tampil modis, gue kembali ke diri gue yang ga suka dandan. Tapi, kepercayaan diri gue belum timbul saat itu. Proses pencarian identitas masih gue lakukan.

Di Pertengahan 2009, gue lagi di Jakarta, menghadiri acara penyambutan datangnya United ke Indonesia bersama IndoManUtd yang diadakan salah 1 TV swasta, diadakan di sebuah kafe di kawasan Sarinah. Itu saat pertama kalinya gue akan bertemu dengan puluhan member IndoManUtd Jakarta dan sekitarnya (sebelum beberapa hari kemudian bertatap muka dengan ratusan member IndoManUtd seluruh Indonesia di acara Gathering Nasional IndoManUtd yang pertama). Saat itu, krisis PD melanda gue. Gue sangat ingin merasa diterima oleh mereka semua, sebagaimana gue sebelumnya diterima mereka di dunia maya (IndoManUtd memang diawali oleh sebuah forum diskusi online). Karena pengalaman gue sebelumnya, kalo mau diterima ya kudu tampil cantik, akhirnya timbul perasaan ingin dandan. Apalagi IndoManUtd mau nampang di tipi, wooy! Eksis donk ahh :D

Sayangnya, karena udah lama ga dandan, gue lupa cara make up :D. Akhirnya gue dibantu dandan sama temen-temen IndoManUtd yang cewe. Selesai dandan, gue merasa menor (ohh iya. Emang gue selalu ngerasa menor kalo didandanin :D).

Respon yang gue terima dari anak-anak IndoManUtd? Well, perasaan terkejut keliatan banget di wajah mereka, tapi ga ada komen apa-apa. Sampai, beberapa saat sebelum acara dimulai (acaranya live, btw), salah seorang temen gue, Bang Brucie PAS, di tengah kebisingan kafe, berbisik ke gue. Kalimat yang sampai kapanpun, sampai akhir hidup gue mungkin, akan selalu gue inget dan syukuri:

Tet (means: Butet, panggilan gue dari IndoManUtd), tau ga? Lo jauuuuhhhhh lebih cantik tanpa make up.

Gue tertohok, jelas, ampe ga bisa jawab apa-apa loh. Tapi senyum Bang Brucie saat itu menjelaskan kalo dia bukan mau nyela gue, tapi menginginkan gue tampil apa adanya.

Berhubung gue orang yang bertanggung jawab, gue ga mutusin lari ke toilet dan hapusin tuh make up di muka gue. Sampai acara selesai dan bahkan nongkrong bentar dengan IndoManUtd sebelum pulang, make up-nya masih ada. Sampe-sampe gue inget komen temen-temen kampus yang bilang: menor abis :D
Sejak itu, gue belajar kalo gue ga perlu jadi orang lain supaya orang menerima ataupun menyukai gue. Dan ketika gue akhirnya menerima diri gue sendiri dengan sepenuhnya, hasilnya luar biasa dan ternyata amat sangat nyaman untuk menjadi diri sendiri. Bukan berarti gue kaga dandan. Ya kalo ada acara, meeting sama client, ya pasti make up-an. Atau, ketika gue lagi pengen, gue juga dandan, bukan untuk orang lain, tapi untuk diri gue sendiri.

Ini contoh kecil aja krisis identitas diri gue, yang paling besar adalah bagaimana harus menghadapi kenyataan sebagai anak broken home. Bertahun-tahun gue berperang untuk menerima hal itu dalam hidup gue, karena memang identitas yang satu ini adalah faktor utama yang mempengaruhi hubungan pertemanan dan pastinya percintaan gue. Susah, dan jujur sampai sekarang masih suka terpengaruh, terutama kalo ngeliat satu keluarga sedang jalan-jalan, bawaan pasti ngiri aja.

Tapi, saat gue memutuskan berdamai dengan status tersebut dan bahkan sengaja memberitaukan itu ke mereka, yaitu temen-temen dan bahkan calon pacar, do you know what I feel? Relieved, guys. I am sooo relieved. Memang, banyak yang ga mau temenan ama gue atau batal jadiin gue pacar mereka, but, behind these damn situations, I can see my real friends. Friends who ignore my family background and accept me, the way I am.


And one day, there's someone who wants to accept and love me for the rest of his life.


And all I need to do now is just be myself.

Gue ga mau ngasih nasehat atau gimana, tapi kalo ada yang ngerasa krisis identitas hanya karena cinta dan pertemanan, find yourself darling. Life is too precious to waste. Having yourself lost is wasting your lives coz you, your lives, are too precious.

Enjoy loving yourself, guyyysss... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar