Senin, 04 Juni 2012

PRESENT - TIGA

 “Hey, Lexa. Lo mau langsung pulang? Jalan bentar yuk?”
“Tau nih Lexa. Buru-buru amat. Jarang-jarang loh kita dipulangin cepat begini.”
Aku berpikir sejenak, kemudian mengangguk, tersenyum lebar kepada mereka. Sekolah memulangkan kami lebih cepat daripada biasanya karena guru-guru akan mengadakan rapat untuk membuat soal-soal tryout UAN untuk kelas 3. Yang berarti soal-soal untuk aku juga.
Ya. Aku sudah duduk di kelas 3 sekarang. Bertambah aja deh beban pikiran ini, karena aku kudu, wajib lulus SMP.
Hehehe... Terkesan aku begitu serius banget menghadapi hari-hari terakhirku sebagai anak berseragam putih-biru. Tidak kok. Aku justru menjalaninya dengan santai. Seperti saat ini, aku justru pergi jalan-jalan ke pasar tradisional dengan beberapa teman sekelasku. Padahal UAN tinggal tiga bulan lagi loh.
Hmm.. tidak juga sih. Aku berbohong sedikit. Aku tidak benar-benar menjalani ini dengan santai. Tapi aku mencoba membuat diriku santai menjalani kehidupanku sekarang. Ketiadaan Mama sejak berbulan-bulan yang lalu begitu mempengaruhiku. Bagaimanapun juga aku harus menggantikan pekerjaannya selama masih bersama kami: memasak, belanja bulanan, dan lain-lain. Bahkan aku juga yang harus menggantikannya mengambil raport adikku.
Tapi satu hal yang sedikitpun tidak bisa kulakukan adalah menggantikannya untuk memberikan kasih sayang buat Fay. Untuk sekedar bertanya, “Bagaimana sekolahmu hari ini?” itu saja sulit sekali, karena aku sendiri pusing dengan hari-hari ku di sekolah. Bahkan terkadang kalau Fay meminta bantuanku tentang PR-nya, aku malah bersikap ketus dan menyuruhkannya mengerjakan sendiri.
Mungkin aku bukan kakak yang baik. Aku pasti bukan kakak yang baik. Tapi aku tetap berharap adikku bisa tumbuh dengan normal.
Dan aku masih berharap Mama pulang. Aku sendiri sangat membutuhkan sosoknya dalam hidupku. Bayangkan ketika aku mendapatkan untuk pertama kalinya anugerah sebagai seorang keturunan Hawa, aku syok sendiri. Bingung bertanya kepada siapa bagaimana memasang pembalut.
Oke. Bukan bermaksud menyederhanakan peran Mama dalam hidupku. Aku hanya memberi contoh sederhana saja. Aku benar-benar kosong tanpa dirinya. Selalu ingin menangis ketika melihat ibu-ibu menggandeng anaknya di Mall, tertawa bersama-sama.

Tuhan, kapan aku bisa merasakan itu lagi...
***
“Lexa, soal nomor ini gimana sih caranya?”
Melly, teman sebangkuku, menyodorkan buku cetak matematika sambil duduk lebih rapat ke arahku. Aku membacanya sejenak, kemudian menyoret-nyoret jawabannya di selembar kertas kosong yang diberikan Melly.
UAN sebentar lagi, tepatnya bulan depan. Teman-teman sekelasku terlihat semakin hari semakin tambah paniknya. Apalagi ketika nilai-nilai tryout keluar. Baik yang puas maupun yang tidak puas dengan nila-nilai tersebut, semakin terpacu buat belajar dan bertanya kepada temannya yang lebih pintar. Misalnya aku, si ranking 1.
Bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Beberapa dari teman sekelasku langsung berhamburan ke kantin. Sisanya, termasuk aku, sibuk mengambil bekal dari tas masing-masing, kemudian menggeserkan meja-meja supaya bisa makan sama-sama. Kami berdelapan sebelumnya sudah berjanji membawa makanan dari rumah, menyadari bahwa ingin menghabiskan waktu yang tinggal sedikit lagi bersama-sama.
“Weiiitsss... Lexa bawa nugget dan sosis. Nyomot dong..” seru Dicky antusias, namun tangannya yang hendak mengambil sosis ditepis langsung dari Melly.
“Elo emang yak, suka banget nyomot. Noh makan sendiri punya lo. Dasar!” Melly berseru galak. Aku hanya terkekeh pelan. Mereka semua tau keadaan keluargaku, dan sangat memahami posisiku di rumah seperti apa.
Makananku baru habis setengah ketika Dion, salah seorang teman sekelasku, memanggilku dari pintu kelas. “Lexaaaa.... ada yang nyari.”
“Siapa, Yon?”
“Nyokap lo.”
Hanya sedetik aku termenung di tempat, kemudian aku langsung berlari keluar kelas, diikuti teman-temanku lainnya. Persis di luar kelas, aku lihat sosok yang hampir setahun ini kurindukan. Sosok yang selalu kuharapkan muncul di depanku setiap harinya. Dan kali ini dia benar-benar muncul. Tersenyum. Air matanya terlihat menggenangi sudut matanya.
“Lexa...”
Dadaku begitu sesak saat menggumamkan pelan, “Ma...”
***
Mama dan aku duduk di bangku dekat lapangan basket sekolah. Walaupun matahari agak terik, tapi ada pohon rindang, sehingga panas matahari tidak langsung ke arah kami.
Tadi Mama akhirnya meneteskan air matanya. Tanganku tak henti-hentinya digenggam. Terlihat bagaimana Mama begitu mencurahkan rasa rindunya kepadaku.
“Bagaimana keadaanmu, Nak?”
“Baik, Ma. Mama sendiri gimana?”
“Sehat. Mama sehat.”
Kemudian berbagai pertanyaan pun tergelontar cepat dari mulutku, tanpa sedikitpun aku bisa memberhentikan. Aku senang Mama ternyata pulang. “Mama kapan nyampe? Kok gak ada berita dari Mama? Mama sakit disana? Atau ada apa gitu jadi Mama gak bisa nelpon? Mama udah ke rumah kan? Oh iya ya, kunci rumah kan sama Lexa dan Fay. Mama gak bisa masuk ya? Ya udah kita pulang sekarang aja. Nanti Lexa minta izin sama guru. Oh iya Papa. Papa udah tau Mama mau pulang, kan? Belakangan agak galak sih Papa, tapi Lexa rasa nanti..”
Mama menyelaku. “Ssstt... Lexa.. jangan begitu. Maafkan Mama, Nak..” tanganku dicium sekilas, semakin erat dipegang.
Aku menggeleng. “Kok Mama minta maaf? Mama gak salah apa-apa kok. Pasti ada alasan kenapa Mama baru pulang sekarang. Lexa gak peduli, yang penting Mama pulang. Yuk, ke rumah, Ma. Lexa pamitan dulu sama guru Lexa.”
Aku hendak beranjak dari bangku, namun Mama menarik tanganku yang masih digenggamnya. “Duduk dulu, Lexa. Ada yang Mama harus bicarakan.”
Aku tidak suka perasaanku sekarang karena mendengar ucapan Mama, serta melihat ekspresinya yang masih sendu. “Ada apa, Ma? Mama kok kayaknya...” tidak ingin pulang. Bahkan aku tidak mau melanjutkan perkataan. Aku benci pikiranku sekarang.
Mama mengusap air mata di pipinya. “Lexa, Mama mau bicara sesuatu. Mama mohon maaf sama kamu, Lex. Jangan benci Mama ya. Tolong jangan benci Mama. Mama... Mama...”
Mataku menyipit. “Langsung aja, Ma.”
Air mata Mama berjatuhan, tidak mampu lagi ditahannya. “Mama gak bisa pulang, Lex. Mama... udah bercerai dengan Papamu.”
Aku menunduk. Aku bingung harus mengatakan apa tentang perasaanku saat ini. Bagaikan petir di siang bolong? Hatiku bagai tertusuk pisau? Iya, aku kaget. Tapi aku sangat tidak bisa menggambarkan apa yang kurasakan sekarang.
Mati rasa. Kosong.
Bahkan aku tidak bisa menangis, seperti yang sering kulakukan di malam-malam setelah kepergian Mama.
“Mama terpaksa harus meninggalkan kamu dan Fay, Nak. Kalian harus tinggal dengan Papamu.”
Apa aku mendadak bisu, sehingga tidak bisa merespon, atau setidaknya berteriak?
“Lexa, lihat Mama, Nak. Lihat Mama, tolong...”
Mama mendongakan kepalaku. Kulihat matanya yang merah, penuh dengan air mata. “Dengar, Lexa. Jangan pernah kamu mengira Mama meninggalkan kalian. Mama ingin sekali membawa kalian bersama, melihat kalian tumbuh, membesarkan kalian. Tapi keadaan Mama sekarang secara ekonomi tidak bisa, Nak. Kalau Mama memikirkan ego Mama sendiri, kalian bisa makan apa nanti? Bagaimana cara Mama menyekolahkan kalian? Mama tidak berani mengambil resiko itu, Lexa. Mama tidak ingin kalian hancur karena Mama.”
“Tapi, Mama janji, suatu hari nanti kalian akan tinggal sama Mama. Untuk beberapa tahun nanti, Mama akan berusaha bekerja semampu yang Mama bisa. Demi kalian. Jadi, jangan pernah beranggapan Mama meninggalkan kamu dan Fay, ya?”
Aku mengangguk singkat.
“Mama tahu sifat Papamu. Dia sangat pendendam. Dia jelas mengatakan Mama tidak bisa bertemu dengan kalian. Jadi, maaf, Nak. Untuk sementara, kita tidak bisa bertemu.” Mama membuka tasnya, mengambil pulpen dan secarik kertas, menuliskan sesuatu, lalu memberikannya kepadaku. “Ini nomor HP Mama. Kapanpun kamu bisa nelpon Mama. Tapi hati-hati, jangan sampai ketahuan Papamu. Dia bisa marah besar.”
Aku menatap kertas tersebut.
“Mama tidak bisa lama-lama, Nak. Mama akan Medan hari ini juga. Maafkan Mama, Lexa. Maafkan Mama...”
Mama memelukku erat dan lama, tapi untuk membalas pelukannya pun aku tidak bisa.
Sepertinya Mama merasakan keanehanku. Masih memelukku, dia bertanya, “Lexa, kamu tidak mau ngomong sedikitpun ke Mama, Nak? Kamu benci Mama, Nak, sampai bicarapun tidak mau?” Mama menangis.
Aku meresponnya, hanya ingin memberitahu Mama bahwa aku tidak membencinya. “Mama jaga diri baik-baik, ya?”
Tangis Mama pecah. Beliu mencium pipiku. “Kamu dan Fay harus jaga diri baik-baik juga. Sekolah yang benar. Perhatikan Fay baik-baik. Dengar ya, Lexa, kalian harus jadi orang. Buat Mama bangga.” Mama membelai kepalaku lembut. Kemudian beliau menyeka air matanya. “Mama pergi sekarang ya, Nak? Jaga diri kalian baik-baik.”
Aku memberanikan diri melihat Mama pergi, semakin mendekati pintu gerbang sekolahku. Tiba-tiba kurasakan sesak di dadaku. Semakin jauh jarak pandangku dari Mama, semakin sesak dadaku.
Dan kemudian Mama menghilang dari pandanganku.
Aku berjalan memasuki kelas. Bel masuk baru saja berbunyi sehingga kelas sudah ramai kembali. Teman-teman terdekatku, yang sejak tadi menantikanku, juga ada di kelas, dan langsung berdiri mendekatiku.
“Gimana, Lex?” tanya Dinda, salah satu sahabatku.
“Lo gak apa-apa kan, Lex?” Dion, sahabatku yang lain, juga bertanya.
Aku terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan mereka, terus berjalan menuju bangku paling pojok kanan belakang kelasku. Bangku Dion. Aku duduk, lalu menunduk, menyandarkan kepalaku ke meja. Dan kemudian, bagai singa terluka parah,
aku menangis sejadi-jadinya...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar