Pernah gak kalian merasakan sebuah perasaan yang bergejolak
di diri karena tidak bisa meraih apa yang kalian impikan? Well, saya jelas pernah merasakan. Contoh sampai saat ini,
cita-cita saya yang belum kecapai sebagai jurnalis membuat saya merasa gemas
jika lamaran saya tidak tembus di perusahaan media yang saya tuju. Atau, ketika
novel saya sampai sekarang tidak selesai-selesai. Arrrrggghhh….
Ada satu hal lagi yang membuat saya suka ngiri kalau ada
orang bisa melakukannya; traveling. Belakangan ini saya menyadari kalau saya
menyukai traveling juga. Namun sayang, terhalang budget. Maklum, baru kurang
dari satu tahun saya bekerja, belum cukup untuk mendukung hasrat ini. Yang,
paling jalan-jalan di dalam kota aja (baca: dari mal ke mal). Hihihi..
Untungnya, berkat fans klub bola tempat saya bernaung,
membuat saya setidaknya setahun sekali bisa traveling
lewat event Gathering National.
Kali ini saya ingin menceritakan kisah perjalanan saya ke Malang,
yang juga merupakan tempat terselenggaranya IndoManUtd National Gathering ke-3,
pada hari Sabtu, 14 Mei 2011 sampai Selasa, 17 Mei 2011. Berikut perinciannya.
Sabtu, 14 Mei 2011
Sekitar pukul 10.30 WIB, saya tiba di bandara Polonia Medan,
sementara penerbangan saya pukul 12.00 WIB. Saya memesan tiketnya tahun lalu,
sehingga mendapat harga promo yang pas di kantong mahasiswi seperti saya. Dan
saya beruntung, maskapai penerbangan ini satu-satunya yang melayani jadwal
terbang direct Medan – Surabaya dan
memang baru saja launching tujuan ini. Betapa beruntungnya.
Saya berangkat bersama teman saya sesama member dari Medan.
Berdua kami menikmati perjalanan 3 jam menuju Surabaya.
Jam 3 sore, pesawat kami tiba dgn selamat di Juanda Surabaya.
Teman-teman member IndoManUtd di Surabaya sudah menunggu di gerbang kedatangan.
Tidak berapa lama, rombongan Jakarta
juga tiba. Dan jam 4 sore, kami semua berangkat menuju Malang.
Kami tiba di Batu Malang pukul 18.30. Disambut dengan
sedikit rintik dan hawa yang dingin, kami memulai agenda pertama, yaitu nonton
bareng pertandingan Manchester United. Selesai nonbar, kami yang merasa lelah, menuju
penginapan yang sudah dipersiapkan panitia GathNas Malang. Penginapan kami
terletak di Jl Ikhwan Hadi, daerah yang cukup strategis dengan
tempat-tempat wisata di Batu. Tempatnya bersih dan nyaman, serta harganya
terjangkau. Bisa dijadikan pilihan bagi yang berwisata ke Batu.
Minggu,
15 Mei 2011
Hari ini kami benar-benar menikmati travelling. Hal pertama yang kami mulai adalah berkuliner. Selain
disebut Kota Apel, Malang juga terkenal dengan kenikmatan baksonya. Awalnya
saya memaandang remeh, merasa bahwa semua bakso di kota manapun, sama saja. Di
Medan juga banyak tukang bakso. Buat apa jauh-jauh kemari tapi makannuya bakso
juga.
Tapi saya salah. Jika kalian berencana ke Malang, mencicipi
baksonya adalah agenda wajib. Salah satu tempat bakso yang terkenal adalah
Bakso Bakar Pak Man yang beralamat di Jl,. Diponegoro 19 Malang. Tanamkan
pepatah: don’t judge a book by its cover. Tempatnya memang kecil, tapi ramenya
luar biasa. Rombongan kami yang begitu banyak sempat kebingungan untuk mencari
tempat duduk. Tapi, yang penting pesan dulu, makannya gampang.
Saya memesan dua jenis bakso, yang dibakar dan yang biasa. Rasanya?
Wueeennaaakk tenaaann reeekkk. Baksonya empuk, dan kuahnya juga nikmat. Rasanya
tidak rugi sama sekali dengan harga bakso yang sebutirnya bernilai Rp. 1.500,-.
Tidak sebanding dengan kenikmatan yang saya rasakan.
Selesai dari makan bakso, agenda selanjutnya adalah bermain
futsal di Playground Champions. Tempat futsal ini paling unik dari tempat
futsal yang pernah saya lihat karena view-nya indah banget. Banyak spot disana yang bisa dijadikan sebagai
ajang narsis alias berfoto ria. Spesial lainnya, bukan hanya tempat futsal,
tapi juga ada mini water park dan mini theme park. Sangat cocok buat yang
mengajak anak kecil liburan. Jika mendadak kangen mal, cukup berjalan sekitar
10 menit dari lokasi futsal, kalian bisa menemukan Matos (Malang Town Square).
Sekitar jam 2 siang, kami menyudahi bermain futsal dan balik
ke penginapan. Istirahat guna ‘mengisi batere’ penuh untuk petualangan di malam
hari.
Dan jam 7 malam, kami pun berada di Batu Night Spectacular
(BNS). Sesuai dengan namanya, tempat wisata ini hanya buka di malam hari. Tempatnya
seperti mini Dufan, yaitu berisi wahana-wahana permainan dan hiburan. Tapi
bedanya, tiket yang dibeli hanya sekedar tiket masuk. Untuk bermain wahana, ada
tiket lagi yang harus dibeli di tiap loket permainan. Wahananya antara lain
Bom-Bom Car, Rumah Hantu, Kursi Terbang (di Dufan namanya Ontang Anting), dan
lain-lain. Ada satu yang menarik, yaitu gokart. Teman-teman saya yang mayoritas
pria semua jelas langsung memilih ber-gokart ria. Sepulangnya, ada tempat
jualan merchandise. Tidak lengkap bukan kalau tidak membeli sesuatu dari kota
yang kita kunjungi?
Senin, 16 Mei 2011
Batu Malang terlalu banyak tempat wisata. Itu yang saya
sadari di Senin pagi, ketika kami menuju ke tempat wisata selanjutnya, Jatim
Park. Jatim Park adalah lokasi wisata yang sangat luas, sehingga terbagi
menjadi dua: Jatim Park 1, yang merupakan wahana permainan juga dan Jatim Park
2 yang adalah museum satwa. Sayang, karena keterbatasan waktu dan ramainya
pengunjung mengingat saat itu adalah tanggal merah, membuat kami harus memilih.
Kami pun memilih Jatim Park 2.
Di Jatim Park 2, kami melihat binatang-binatang dalam dua
wujud, replika dan nyata, dari spesies yang awam di telinga sampai yang baru
pertama kali didengar. Suatu perjalanan yang luar biasa. Selain menambah ilmu
tentang binatang, secara tidak langsung bisa membuat saya kagum terhadap karya
Tuhan yang luar biasa. Selain itu, pastinya, ajang berfoto ria. Meskipun bikin
kaki pegel, tapi sangat saying untuk dilewatkan begitu saja.
Selasa, 17 Mei 2011
Di hari terakhir, kami hanya berburu oleh-oleh makanan
ringan. My God, tidak pernah sama pikirkan sebelumnya kalau Malang kotanya
cemilan juga! Saya kalap memborong cemilan. Kalian harus membeli
cemilan-cemilan yang mungkin tidak ada di kota kalian: keripik buah, keripik tempe,
dan brownies kukus tempe! Keripik buah terbuat dari buah-buahan yang
dikeringkan. Jenisnya beragam, ada keripik apel, pepaya, mangga, dan
sebagainya. Saya paling suka keripik apelnya, karena rasa mint yang ada ketika
ketika mengunyahnya bikin surprised.
Selain itu, ada juga keripik tempe dengan rasa yana beragam. Ada yang tanpa
rasa, rasa pedas, rasa barbeque, dan lain sebagainya. Kalau ingin membeli,
sekalian saja keripik tempe yang ada rasanya karena menurut saya rugi membeli
yang tanpa rasa karena tidak jauh beda kok dengan keripik tempe di mini market.
Hehehe..
Dan brownies kukus tempe? Kejutan baru bagi saya. Unik banget
memikirkan kombinasi antara cokelat dan tempe. Berhubungi saya penggila cokelat
(dan pastinya brownies), jelas saya juga membelinya. Rasanya? Ahh.. pokoknya surga
dunia. Harganya? Per item kisarannya sekitar Rp. 5.000,- sampai Rp. 30.000,-.
Untuk penggila cemilan, tidak rugi sama sekali kok. Hehehe.
Rasa sedih menghampiri saya ketika harus kembali ke Medan. Rasanya
tidak cukup mengelilingi Malang. Banyak hal yang membuat saya terkejut dan
ingin menjelajahi lebih jauh lagi. Saya harap suatu saat bisa kembali ke Malang
dan menikmati keindahan kota Apel tersebut sekali lagi. Ahh.. berkali-kali lagi
juga tidak mengapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar